Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nathan setuju, tetapi syaratnya harus pulang ke mansion dulu dan mengganti pakaian. Rizar, Riko, dan Azka setuju-setuju saja. Mereka juga akan kembali ke mansion mereka dan akan janjian bertemu di cafe itu.
“Mommyku, Ersya pulang,” teriak Ersya saat sudah berada di ruang tamu.
Nathan berjalan biasa di belakang Ersya. Suara nyarinya Ersya berhasil menarik perhatian Rachel yang tadinya berada di taman.
“Sayang-sayangku, sudah pulang. Sini mommy peluk,” ucap Rachel dengan gemas memeluk tubuh Ersya dan menggoyangkan ke kanan ke kiri.
Pelukan itu terlepas. Ersya tertawa girang saat mendapat sambutan seperti itu. Saat Rachel akan berjalan ke arah Nathan dan akan memperlakukan Nathan seperti Ersya, Nathan segera menolaknya dengan gestur tubuhnya.
“Ish, adikmu tidak asik, Ersya,” ucap Rachel dengan ekspresi pura-pura merajuk.
“Benar, adik Nathan tidak asik. Abang Ersya yang asik,” ucap Ersya membanggakan dirinya.
“Kali ini mommy setuju denganmu,” balas Rachel bersekongkol dengan Ersya.
Nathan melihat itu dengan raut muka terlampau bosan. Sudah biasa melihat mommynya dan Ersya bersekongkol untuk menyudutkannya.
Sebenarnya di sini anak kandung Rachel itu ia apa Ersya sih?
“Ersya, cepat minta izin,” perintah Nathan pada Ersya. Sebelum mereka pergi main, wajib meminta izin pada yang lain.
“Kok Ersya? Tidak boleh memerintah seorang abang, dasar adik durhaka,” sentak Ersya pada Nathan dengan raut muka garangnya.
“Bukan kah seorang abang yang harus menyelesaikan urusan?” Nathan membalikkan ucapan Ersya. Senang rasanya mempermainkan peran abang dan adik dengan Ersya.
Ersya yang polos mudah dikelabui dan Nathan yang pintar bertukar peran untuk kepentingan dirinya sendiri.
“Benar juga,” gumam Ersya dengan ekspresi polosnya. Nathan yang mendengar itu tak dapat menyembunyikan senyumnya. Sial, kenapa Ersya sangat lucu. Sikap polosnya benar-benar menggemaskan. Nathan jadi senang mengusili Ersya.
“Ada apa? Bisa dijelaskan kepada mommy?” tanya Rachel kini menggunakan nada tegas.
“Mommy, Ersya dan Nathan mau izin main bersama teman. Nggak jauh kok mom, di cafe dekat sini. Main, mau main, ya mommy ya... Please,” pinta Ersya kembali menampilkan ekspresi polos dengan kedua mata yang tampak berharap besar.
Jika begini, Rachel tak tega menolak permintaan Ersya.