Lanjott... Saya usahakan ini panjang okey.
"Jaemin."
Jaemin terdiam dibalik pintu menahan air mata yang akan keluar.
"Aku tidak bermaksud-
Maafkan aku, maaf aku menyakiti mu."
Ia bahkan belum pernah dibentak oleh ayahnya, ia terlalu takut.
"Katakan dengan jujur Hyung."
Suara jaemin terdengar bergetar, tak sanggup untuk memberikan Jeno sebuah pertanyaan yang sedari tadi menghantui pikirannya.
"Kau masih mencintai dia kan?"
"Tidak." Jeno langsung menyambar pertanyaan jaemin.
"Jangan salah paham jaemin. Biarkan aku menjelaskan sesuatu."
"Aku lelah hyung. Maaf bisa tinggalkan aku sendirian? Aku sungguh lelah."
Jeno tak bisa berkutik, mungkin jaemin perlu waktu ia juga merasa bersalah ia tau bahwa jaemin seharian ini melakukan sesuatu untuk hari ulangtahun nya dan dengan bodoh nya ia merusaknya hanya karena teringat dengan kenangan bodoh itu, ia merasa sangat bersalah.
Selama ini jaemin ada untuknya. Yang mau menerima dia apa adanya dan selalu mendukung apa yang ia lakukan.
Untuk malam ini ia akan tidur dikamar lain, biarkan jaemin menguasai kamar mereka.
Ia akan menjelaskan dan meminta maaf besok.
Pagi nya..
Jaemin sudah rapi dengan seragamnya. Jaemin duduk didepan cermin lalu melihat mata nya yang sedikit membengkak karena menangis.
"Ugh, aku harus bersikap seperti apa?? Aku belum siap bertemu Jeno Hyung.."
Setelah beberapa menit menatap dirinya dicermin jaemin memberanikan diri untuk keluar dari kamar.
Ia berjalan pelan dan menuju lift.
Tak terasa ia sudah dilantai dasar, terasa sepi jaemin menuju ke meja makan.
Ia celingukan mencari sesosok manusia yang memengaruhi pikiran nya semalam.
"Emm. Bibi"
"Oh iya tuan muda? Ada apa?"
Jaemin terlihat gelisah, ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
"Itu.."
Dengan sabar pelayan itu menunggu.
"Aaa.itu"
"Tuan besar? Tuan besar sudah pergi kekantor pagi pagi sekali."
Jaemin terkejut, selain karena bibi itu tau apa yang ingin ia tanyakan dan terkejut pula bahwa Jeno sudah berangkat lebih awal.
Padahal Jeno bilang akan menjelaskan sesuatu.
Jaemin semakin berfikir yang tidak tidak.
"Emm kalau begitu aku berangkat saja."
"Eh tidak makan dulu tuan muda? Sebaiknya makan dulu."
Jaemin menggeleng pelan.
"Terima kasih.. aku akan makan dikantin saja."
Jaemin segera pergi dari sana dan berangkat sekolah.
Sesampainya disekolah, wajah jaemin begitu murung sepanjang jalan. Sudah lama kita tidak melihat sahabat sahabat jaemin.
KAMU SEDANG MEMBACA
husband is paralyzed
FanficOn Going! pure story from the author's imagination. if my story is similar with someone else's then I apologize bxb area!!!!!! Nomin-!! homophobia bisa skip mungkin ada sedikit adegan dewasa jadi harap anak dibawah umur menyingkir.
