Felix berhasil meminta bantuan Anastacius untuk mengobati prajurit lain yang terluka. Felix tau jika tak ada pilihan lain selain membawa dokter misterius yang mengaku bernama Inglid ini ke pos perbatasan mereka. Ia akan tetap mengawasi pria itu dan melihat apa saja yang ia lakukan.
"Tempat ini.."ucap Anastacius terbelalak dengan tangan terkepal erat. Ia menatap banyak prajurit yang terbaring lemah, merintih kesakitan dengan perban yang menutupi luka mereka.
Tempat ini terlalu sempit bagi sekian banyak prajurit yang terluka, di tambah Anastacius bisa melihat bahwa perban di tubuh para kesatria itu banyak yang kotor dan merembeskan darah. "Apa apaan ini?! Dimana petugas medis kalian?! Jika kalian seperti ini terus mereka bisa mati!"
"?!"
Anastacius tak menunggu perintah untuk berjalan, ia menggulung lengan bajunya hingga ke atas dan langsung mengambil alih dari sana. Dengan tegas ia memerintahkan beberapa tabib yang tersentak melihat kedatangannya "mulai sekarang aku ambil alih! Bawa perban, obat dan air bersih! Tak ada penolakan jika kalian ingin menyelamatkan mereka!"
"Memangnya kau siapa?! Kami tabib disini lebih paham dari dirimu!"
"Jika kau terus membantah, mereka akan terinfeksi kuman dan mati karena pendarahan! Dasar manusia kolot tak berguna, tundukkan kepalamu itu sialan, kau pikir kau siapa?! Babi tua yang mengaku sebagai tabib tapi memperban luka orang dengan bentuk pita! Apa kau gila?!" Aah, mulut Anastacius memang tajam seperti Tsukishima_-"
"Kau-"
"Cukup" Felix menyela pertengkaran itu. Ia juga kaget karena melihat Anastacius yang marah seperti ini. Tabib tabib itu menunduk tak berani melawan kesatria berambut merah itu. ".....lakukan apa yang di perintahkan tuan Inglid"
"Tapi sir Robane, para prajurit disini sudah stabil"
"Stabil matamu, apa aku harus mencolok matamu dulu agar kau bisa melihat kondisi mereka?!"
"Kami sudah memperbannya!"
"TAPI MASIH ADA PENDARAHANNYA DASAR MANUSIA KOLOT TIDAK BERGUNA!! AKU MEMANG BUKAN RAJA, TAPI AKU DOKTER ASAL KAU TAU SIALAN!!"Anastacius menggeram, ia mengepalkan tangannya dengan erat, menunjuk wajah tabib itu kemudian berkata "meski kau memperbannya, jika pendarahan tak di tahan, mereka tetap mati karena kekurangan darah. Itu ilmu dasar! Apa kau tak belajar?!"
"Sudah cukup, tuan Inglid, lakukan saja apa yang kau mau. Dan kalian.."Felix melirik ke arah para tabib itu dengan ekspresi datar dan menusuk miliknya. Felix memang hangat, tapi tidak saat ia tengah bekerja di pos perbatasan. Ia takkan segan menunjukkan aura yang sama dengan raja mereka.
"Lakukan apa yang di minta tuan Inglid" ujar Felix
Anastacius berdecak kesal, ia berbalik pergi memutuskan untuk fokus pada para prajurit disana. Membiarkan tabib tabib lain membawakan apa yang ia mau meski agak menggerutu di belakang.
Dengan sigap dan cekatan ia membantu para prajurit yang terluka satu persatu. Urutannya adalah prajurit dengan luka paling rawan dan parah lalu bergulir ke prajurit dengan luka lebih ringan. Anastacius benar-benar tak berhenti membantu mereka, ia bahkan melupakan fakta ia sempat mencicipi racun dan belum meminum penawar sebelumnya.
Ia mengabaikan rasa sakit di jantungnya dan terus bergerak, berpindah dari satu pasien ke pasien lainnya. Ia memastikan semua perban di ganti dan pendarahan tertutup sempurna. Ia juga menjahit luka terbuka yang malah hanya di perban dengan tabib kolot disana.
Entah sejak kapan mantan kaisar yang di ceritakan angkuh dalam sejarah dan aib kekaisaran itu mau berjongkok di atas lantai kotor dan membantu para prajurit terluka. Bahkan jika ia membuka tudung sekalipun, Felix akan yakin dia bukan kaisar sebelumnya.
"Dengan ini kau akan baik-baik saja" ucap Anastacius tersenyum lemah setelah selesai memperban seorang prajurit yang menjadi pasien terakhirnya. "Terimakasih tuan Inglid, aku berhutang padamu"ucap prajurit itu
Anastacius hanya tertawa kecil, merasa darah di hidungnya akan segera menetes, ia dengan cepat mengelap itu, begitu cepat sampai tak ada yang sadar jika dokter itu kelelahan hingga mimisan.
"Aku benar-benar berhutang lagi padamu, maafkan aku tuan Inglid" Felix berjalan mendekat, Anastacius mendongak dan menunjukkan senyum lebarnya "tidak masalah, ini tugas ku sebagai dokter"
Felix kembali dibuat merasa tak enak, ia juga tak sadar jika sejak tadi Anastacius terus menyeka darah di hidungnya. Kesatria itu mendongak menatap luar jendela, langit sudah gelap, dan pasti ini sudah sangat larut. Ia takkan sopan jika ia membiarkan Anastacius pergi begitu saja kan?
"Tuan ini sudah sangat larut, kau harus istirahat. Kami sudah berhutang banyak padamu" ucap Felix
Seorang tabib mengepalkan tangannya dengan erat dan menggeram, tapi ia tak bisa melakukan apapun selain berjalan pergi dari sana dengan pikiran dongkol miliknya.
Anastacius tersenyum dengan wajah berseri-seri di balik tudung jubahnya "bagus! Kalau begitu, dimana aku bisa istirahat?"
Anastacius (Translate : pria tak tau diri yang takkan menolak istirahat setelah lembur semalaman bekerja)
Felix tersenyum kaku, kenapa meminta pria ini beristirahat lebih mudah daripada meminta ia agar meminta sesuatu darinya sebagai bayaran? "Tentu saja, lewat sini" ucap kesatria itu memimpin jalan, mengarahkan Anastacius ke kamar lain di pos itu.
Sebuah kamar kecil dengan ranjang kecil, setidaknya ia akan sendiri disitu, jadi Anastacius menerimanya. "Kami tak bisa memberi banyak karena ini hanya pos perbatasan"
"Ah diamlah sir, aku baik baik saja asal aku bisa tidur malam ini"ucap Anastacius sembari duduk di atas ranjang itu.
Felix hanya tersenyum kaku 'tipikal tak tau diri dan petakilan, tapi dia orang baik' batin Felix. Kesatria Berambut merah itu memaksakan senyumannya lalu berkata "ah, aku belum memperkenalkan diriku sejak tadi. Namaku Felix Robane, aku adalah kesatria tangan kanan raja disini"
'aku sudah tau sih, kau yang membantu adikku untuk melengserkan diriku' batin Anastacius. Tak ada rasa dendam atau marah, hanya ada senyum di wajahnya yang sebagian tertutup oleh jubah. "Itu artinya aku harus menghormatimu Sir Robane"
"Kau bisa memanggilku Felix" ucap Felix
Anastacius tertawa kecil, "kau membuatku ingat pada adik laki-laki ku"
"Eh?"
Anastacius mengangkat sebelah tangannya sampai batas pinggangnya "adikku masih kecil, dia setinggi ini kira kira, kau mengingatkanku padanya"
Mata Felix berbinar saat Anastacius berkata ia memiliki seorang adik yang masih kecil. "Oh benarkah? Dia pasti orang yang baik sepertimu tuan Inglid"
"Jangan percaya, kau akan menyesal saat mengatakan itu jika kau melihatnya, dia itu iblis kecil dengan mata merah menyala"
"Kenapa?"
.
.
.
.
.
"Adikku itu tiran kecil yang akan membuat ulah dengan tangan mungilnya. Lebih baik jika kau melihatnya, mundurlah 20 langkah ke belakang, dia akan menggigitmu"
TBC
Nanas, di pikir adek lu anjing rabies hah?!😭😭
Adek yang mana dulu nih, kan adek lu dua. Satu di Obelia, satunya lagi di Inglid. Mana Tiran semua😭
Btw atas? Bawah?
Mwehehe
Jangan lupa vote nya minna (人 •͈ᴗ•͈)
KAMU SEDANG MEMBACA
Regret Message - WMMAP AU
Fanfiction"Kali ini aku yang melindungimu" Anastacius De Alger Obelia, raja terburuk dalam sejarah kekaisaran Obelia. tak banyak yang tau bahwa ia hanya di rasuki dan menjadi korban leluhur egois mereka yang ambis akan balas dendam. Ia dilahirkan kembali di d...
