26. Darah yang terasa manis

746 100 6
                                        

Claude bangkit dari posisinya berjongkok sembari memperhatikan Anastacius yang agak menunduk dengan pipi merona. Untuk sesaat sang kaisar melirik ke arah Felix yang mengangguk memberi kode padanya.

Dengan berat hati pria itu berkata "aku ada urusan sebentar, ada sedikit masalah jadi aku akan kembali agak terlambat. Makan malam lah sendiri dan jangan lupa minum vitamin mu" Anastacius tersentak dan menoleh pada Claude saat kaisar itu berjalan pergi melewatinya "apa ada masalah?"

Tanpa menoleh, Claude menjawab "hal yang biasa dalam dunia politik dan bangsawan. Kau tak perlu ribet memikirkan itu, cukup hiduplah dengan aman dan nyaman di sisiku" ujarnya seraya berjalan keluar diikuti oleh Felix di belakangnya.

Pintu ruangan itu kini tertutup rapat, menyisakan Anastacius dengan para putri dan dayangnya. Untuk sesaat pria manis itu terlihat tengah melamun, memikirkan sesuatu sembari mengelus Rambut Tora dengan lembut.

Lily dan Zelda mengambil alih Athanasia dan Jennete, menggendong kedua bayi mungil itu sembari menemani Anastacius yang tengah termenung. "Tuan Inglid, apa ada sesuatu yang mengusik pikiran anda? Jika ada masalah katakan saja pada kami, tak baik terlalu memikirkan hal berat saat hamil" ujar Lily dengan khawatir menatap Anastacius.

Tumpukan kertas berisi nama bangsawan yang menumpuk di atas meja nya menjadi pusat perhatian, dengan helaan pelan ia pun berkata "aku khawatir tentang pesta penyambutan itu. Meski aku tau Claude berdiri sepenuhnya denganku.." tangan Anastacius bergerak meraih stempel berlambang burung Phoenix dan memperhatikan stempel itu dalam keheningan.

"Bukankah semua bangsawan masih banyak meremehkan diriku?"

Zelda mengernyit "anda bicara apa?! Para bangsawan itu takkan berani macam-macam pada anda."

Lily mengangguk setuju "itu benar, saya sendiri juga dari kediaman York dan saya takkan membiarkan bangsawan lain merendahkan anda"

Anastacius mendengus geli untuk sesaat "tapi bukan itu yang menjadi pusat kegelisahan diriku akhir akhir ini" matanya melirik Jennete yang dengan lugu menatapnya dari gendongan Zelda yang nyaman.

"Umma...mma.."dumal Jennete dengan senyum ceria miliknya. Ah bayi ini, putrinya ini. Semua orang sudah tau Jennete adalah putri dari Anastacius De Alger Obelia, dirinya di kehidupan pertama.

Dia kini disini sebagai Anastacius De Inglid, sebagai orang berbeda. Memikirkan Jennete akan mendapat pandangan remeh dan jijik para bangsawan yang tak tau apapun di sana sudah membuat Anastacius mual. "Jennete...fraksi pendukung kaisar sebelumnya pasti mengincar Jennete untuk mendorongnya dalam perebutan tahta. Aku juga khawatir jika seseorang memanfaatkannya" ujar Anastacius, ia mengusap kepala Tora yang merasakan perasaan tuannya tengah gelisah.

"Tora, cari dan panggil Claudera kemari" ujarnya, dengan perlahan sang harimau pun berjalan pergi mematuhi sang tuan, keluar dari ruangan itu untuk mencari keberadaan Claudera.

Lily paham asal kekhawatiran Anastacius itu dari mana. Jennete memiliki posisi paling tidak bagus disini. Dia bisa di manfaatkan untuk membangkitkan pendukung kaisar sebelumnya dan dia juga bisa di jadikan sasaran kritik sosial. Disatu sisi masalah internal bisa terpicu dan kritik kejam akan bersimpang siur.

"Tuan Inglid, putri Jennete ada di bawah nama anda sekarang. Apa anda khawatir tentang Duke Alpheus itu? Dia takkan berani menyenggol lagi" ujar Lily

Zelda manggut manggut setuju "iya tuan! Pria itu takkan berani macam-macam, secara hukum dia tak punya hak mendekati putri Jennete apalagi memanfaatkannya" ujar dayang muda itu.

Anastacius terkekeh, tangannya membuka laci mejanya dan mengambil sebuah tabung kecil berisi beberapa pil berwarna merah yang mencolok. "Itu benar, tapi aku khawatir. Secara hukum jika keluarga ibu dari Jennete ingin bertemu dengan Jennete, kita tak bisa melarang mereka."

"Maksud anda Nyonya Rosalia? Sepupu Penelope Judith itu?" Lily bertanya

Anastacius pun mengangguk, atmosfer di ruangan itu seketika menjadi berat. Lily dengan pengalaman sebagai nona muda dari keluarga York langsung menangkap maksud Anastacius dengan cepat. Gadis itu tersenyum miring dan berkata "wanita itu ku dengar sangat mendorong Penelope untuk menjadi ratu hingga melakukan apa yang sejarah tau."

Zelda sedikit lambat tapi ia pun akhirnya menangkap keinginan tuannya "nyonya satu itu juga pasti akan melakukan apapun untuk mendekati putri Jennete dan ikut masuk ke dalam bagian hidupnya. Kurasa itu bukan hal bagus." ujarnya sembari menatap Anastacius yang terkekeh sembari meremat tabung berisi pil miliknya.

"Bagi para bangsawan, pewaris saat ini yang mereka tau hanya putri Athanasia dan Jennete, asal usul putri Jennete lebih menguntungkan karena ia berasal dari keluarga murni bangsawan sementara putri Athanasia akan agak kesulitan jika mereka memanfaatkan Putri Jennete" ujar Lily

Anastacius paham itu. Monarki menyebalkan. Tentu saja keturunannya lebih unggul dalam kasta, bahkan Claude memiliki darah rakyat biasa yang membuat opini bangsawan terbelah dua. Tapi apa ia akan membiarkan mereka mengadu domba putrinya? Tentu saja mereka harus melangkah melewati makamnya dulu jika itu terjadi!

"Aku tak mungkin membiarkan mereka mengadu domba kedua bintang Obelia ku ini." Ucap Anastacius sembari menatap Zelda dan Lily bersamaan. "Zelda, Lily..kalian adalah dayang yang ku percaya di istana ini. Apa kalian ingin melakukan sesuatu untuk melindungi dua putri malang ini?" Tanya Anastacius, binar di matanya seolah redup dengan cahaya safir keemasan yang sekilas muncul.

Mengikuti atmosfer yang makin tertekan, kedua dayang itu menetralkan ekspresi mereka dan berkata "jika itu bisa melindungi kedua putri, kami akan melakukannya"

'bagus, mereka pelayan yang setia dan bisa mengerti keadaan' batin Anastacius, pria itu tersenyum hangat sembari menunjukkan tabung berisi pil merah miliknya "ini adalah pil yang ku buat sebelumnya. Pil ini berisi sirup merah yang kentalnya sama dengan darah, itu tak memiliki rasa dan akan meleleh menjadi darah palsu jika terkena air" ucap Anastacius

Lily bergeming kemudian bertanya "lalu apa hubungannya dengan kami?"

Kekehan kecil keluar dari bibir Anastacius yang menyender di kursinya sembari mengusap perut hamilnya dan berkata"aku akan menyembunyikan beberapa pil di bawah lidahku selama acara. Aku akan melihat apa yang di lakukan Rosalia dan memancingnya menyodorkan cangkir minuman untukku saat ia sudah keterlaluan. Tapi aku takkan melakukan apapun jika dia tak bergerak agresif"

Mata Zelda dan Lily terbelalak, tapi ada binar buas penuh antusias di mata mereka. "Saya mengerti tuan, jadi apa yang harus kami lakukan hanya berteriak dan memperkeruh suasana" ucap Zelda

Lily dengan senyum melankolisnya berkata "agak kejam sebenarnya, tapi demi kebaikan tuan putri.." lirihnya sembari memeluk Athanasia sedikit lebih erat. "Jika hanya itu, saya hanya perlu menaburkan minyak di atas kobaran api" ujarnya

Anastacius tersenyum puas dengan rasa peka kedua gadis itu, dengan lembut mengusap perutnya sembari berkata "Claude takkan tinggal diam saat dugaan selirnya yang hamil di racuni di depan matanya"
.
.
.
.
.
"Akan se-murka apa Claude nanti pada Rosalia ya?" Kekeh Anastacius

TBC
Jangan salahin Anastacius, dia sendiri udah bertekad buat nyingkirin semua calon masalah di masa depan. Roger udah di tahan untuk pergerakannya, sementara Aethernitas masih mengendalikan tubuh pertamanya dan Rosalia? Hanya perlu sedikit lagi untuk menekannya dalam jeratan yang sulit di buka.

Meanwhile Klod :

"Bukankah Safir lebih cocok untuknya? Dia mungil dan mudah mati seperti ikan mola-mola, safir terlihat indah dengan matanya" Claude yang sibuk memilih Bros permata terbaik untuk Anastacius pakai nantinya

'Bukankah kita menyamar ke ibu kota untuk mencari informasi soal pemberontakan? Kenapa malah mampir ke toko perhiasan?' batin Felix yang pasrah.

"Safir itu cocok dengannya, tapi Garnett terlihat berani untuknya dan Amethys juga cocok, mungkin aku harus mengambil permata Topaz juga" Claude yang dengan asal menunjuk banyak Bros permata di etalase toko perhiasan.

'yang mulia sungguh, kau sebenarnya bisa mengambil banyak dari ruang hartamu' batin Felix nelangsa.

Jangan lupa vote nya minna Ó⁠╭⁠╮⁠Ò

Regret Message - WMMAP AU Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang