Pulang Ke Rumah

698 54 26
                                        

"Ibu !!" Anin memeluk Ibunya begitu erat, ada rasa rindu yang besar terasa begitu membelenggu.

Ia menuntun sang Ibu masuk ke dalam apartemennya. Ya, selama di Bandung Anin tinggal lagi di apartemen yang pernah Kenan belikan untuknya dulu. Nimas duduk di sofa yang sebagiannya masih tertutup sprei putih. Anin masih terlalu malas untuk merapikan barang-barang yang ada disana. Mata Nimas menatap ke sekeliling ruangan yang sedikit berdebu.

"Mbok ya di rapikan to, Nduk. Kok iso kamu betah dengan ruangan berantakan seperti ini?" cibir Nimas.

Anin berjalan menghampiri Ibunya  sambil membawa segelas air dingin, ia hanya tersenyum mendengar suara bernada protes itu.

"Belum sempat, bu. Aku belakangan ini mudah lelah. Terus rasanya mualeees puol."

Nimas meletakkan gelas yang baru saja ia minum setengah isinya di meja. Anin merebahkan tubuhnya di sofa. "Rasanya udah lama nggak manja-manjaan sama Ibu" ujar Anin.

"Gimana kabar cucu Ibu hari ini ?" tanya Nimas sambil mengelus kepala Anin.

"Alhamdulillah, aku nggak mual sama sekali,bu. Makanya sempat kaget waktu di IGD dokter bilang kemungkinan aku hamil."

"Iya, Alhamdulillah. Sing sehat ya, Le !" Nimas mengusap perut Anin yang masih datar. Ia menghela napas, beralih membelai surai panjang berwarna coklat milik putrinya.

"Pulang, Ning. Nggak baik kabur - kaburan seperti ini dari rumah. Kenan cemas sekali. Berkali - kali dia telpon Ibu, telpon Bapak. Kalau ada masalah itu di selesaikan masalahnya, bukan malah di hindari. Nanti bisa - bisa meledak seperti bom waktu." Nasihat wanita berwajah ayu dengan sorot mata teduh itu.

"Ning masih belum siap bu ketemu mas Kenan." Anin menghela napas.

"Kenapa ? Kenan belum tahu tentang kehamilanmu ?" Tanya Nimas lagi.

Kali ini Anin hanya menggeleng, enggan menatap mata Ibunya.

Nimas menghela napas, Anin sejak kecil memang keras kepala dan selalu memendam masalahnya sendiri. 

Ponsel Nimas berdering. Ia segera mengangkat panggilan itu.

"Wa'alaikum salam. Iya, Ibu di Bandung. Kamu kemari saja. Istrimu baik-baik saja, wes ndak usah khawatir." Ujar  Nimas sesaat setelah menerima panggilan itu. Ia bisa mendengar kelegaan dari suara di seberang sana.

"Iya, Ibu tunggu. Kamu tenang saja, nyetirnya yang santai nggak usah ngebut." Ucapnya lagi sebelum mengakhiri panggilan itu.

Anin menatap Ibunya curiga. Nimas dengan santai meletakkan kembali ponselnya di meja, pura-pura tidak melihat reaksi protes dari putri keduannya.

"Itu yang barusan telpon Mas Kenan, bu?" Tanya Anin. Nimas menjawab dengan anggukan.

"Kok Ibu bilang to kalau aku di Bandung. Ning kan sengaja bu mau sendiri nenangin pikiran." Protes Anin, merengek seperti anak kecil.

"Wes, ndak usah protes. Healingmu kesuwen (kelamaan). Minggir, Ibu mau masak. Nanti menantu ibu sampai kasihan kalau ndak ada makanan."

Nimas berjalan ke arah dapur tanpa sekat, tempat Anin biasa memasak dulu.

Anin menyandarkan kepalanya di pangkal sofa. Sejujurnya ia belum siap bertemu Kenan. Membahas apa yang membuatnya terpaksa menepi sejenak. Ada rongga di dadanya yang menarik semua udara hingga terasa penuh dan membuatnya sesak. Aning memejamkan matanya. Ada rindu pada pemilik mata tajam itu, namun ada juga keengganan untuk berjumpa. Ia bingung pada dirinya sendiri.

************************

Kenan tiba sekitar pukul delapan malam, bukan Anin yang menyambutnya kali ini. Nimas membuka pintu apartemen, menunjukan senyum lembutnya. Ia mengulurkan tangannya saat Kenan  akan salim.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 17, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

FIL ROUGECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang