Di tengah-tengah kota gemerlap yang ramai, acara tahunan Jurusan Management Bisnis berlangsung seru-seruan. Ruangan itu dipenuhi suara musik, tawa, dan energi muda yang bersemangat. Di tengah kerumunan, Ping, manusia ceria namun terpaksa harus menarik diri karena keadaannya. Malam ini, Ping berhasil keluar dan berada dikerumunan tanpa ada Meen disampingnya.
Ping bukan tipe orang yang suka minum, tapi suasana pesta bikin dia ikut-ikutan. Dia mulai dengan segelas bir, lalu satu lagi, dan beberapa shot. Semakin dia minum, semakin suasana pesta jadi lebih meriah, dan sebelum dia sadar, dia udah ikut menari, nyanyi, dan merasa lebih bebas daripada biasanya.
Semakin malam, pandangan Ping jadi penuh warna, dan musik terdengar aneh di telinganya. Dia mulai ikutan debat gila-gilaan, menari dadakan, dan tertawa lebih keras dari biasanya. Teman-temannya nggak bisa berhenti ketawa liat Ping bertingkah konyol.
Jam menunjukan pukul 12:30 malam, ini memang bukan saatnya tempat itu tutup tapi ini saatnya untuk mereka semua pulang. Ya meskipun besok weekend tapi tetap saja mereka semua harus pulang.
Ping tertidur lemas, kondisinya setengah sadar, mungkin kesadarannya tersisa hanya 10%. Ia sudah tidak bisa berdiri lagi.
"Hey, Ping, bangun, ayok kita pulang. Lu lagian gak kuat minum tapi abis hampir 4 botol." Ucap Gemini sembari menggoyangkan tubuh Ping agar tersadar.
"Eh gimana dong ini, siapa yang mau antar dia pulang? Lu pada tau rumahnya dia?" Tanya teman yang lain.
Semua menggelengkang kepala, apa yang harus dilakukan. Haruskah menghubungi pawangnya? Atau biarkan dia disini samapai tersadar dengan sendirinya?
Ditengah kebingungan itu, ada seorangan yang berjalan menghampiri mereka. "Apa dia masih tidak sadar?" Tanya seorang pria tinggi berambut coklat.
Semua mata tertuju pada pria itu. "E.. eh Kak Max.. iya nih kayaknya Ping minum terlalu banyak, tapi kami gak bisa bawa dia kembali. Sebagian dari kami tinggal di asrama dan akan sangat sulit mendapat izin." Ucap Gemini.
Ya pria itu Maxky, orang yang sangat terkenal di kampus terutama di Fakultas Ekonomi, seorang senior Manajemen Bisnis semester 6. Dia juga seorang Alpha, yang sangat dikagumi. Memiliki latar belakang keluarga yang hebat. Bukan hanya itu saja, banyak rumor negatif dibelakang itu.
Max hanya mengangguk paham. "Biarkan saja, kalian pulang aja duluan. Sebentar lagi asrama tutupkan? Nanti kalian akan kena masalah jika terlambat." Ucap Max.
Semua terdiam, berdisukusi, apa tidak masalah jika meninggalkan Ping. Maksudnya mempercayai Kak Max, tau sendiri gosip yang beredar bagaimana. Meskipun Ping bukan seorang Omega tapi tetap saja rasanya akan sangat tidak mengenakkan jika terjadi sesuatu.
"Ngapain lu semua bengong? Gak percaya? Buseettt gua gak akan ngapa-ngapain temen lu."
"A...h.. bukan gitu kak, tapi.."
"Ya udah kalau kalian mau ngurus dia anter pulang, gua sih gak masalah."
Mereka semua tidak punya pilihan lain. Ingin menghubungi seseorang yang mengenal Ping tapi tak ada satupun yang memilikinya. Handphone yang Ping bawa-pun mati karena kehabisan batre.
"Ya udah kak, kalau gitu kami semua titip Ping ya kak. Maaf."
"Ya udah balik gih, aammann. Janji gua."
Tak lama mereka semua pergi meninggalkan Ping yang masih dalam kondisi lemas dengan seorang Alpha. Sekarang semuanya sudah pergi tinggal dia.
Max memperhatikan setiap sudut dari tubuh pria cantik di depannya itu. 'Ahh jadi dia, anak yang tadi berisik, joged alay gak jelas, seorang Beta cantik yang dikatakan orang-orang' gumamnya dalam hati sambil tertawa kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHILDHOOD | MEENPING
FanfictionTadinya disini tuh ada deskripsi tapi gak tau dah yee kayak udeh baca aja lah yaaa... Happy reading aja dari saya. Don't forget to leave your sign, give love to meenping if you like my story woof yuuu 🐼🐺
