Sore itu Ping sedang duduk sendirian di depan gerbang sekolahnya langit terlihat mendung seperti akan turun hujan. Dia duduk dengan tenang, mengayunkan kedua kakinya sembari memakan ciki yang dia beli di kantin tadi.
"Sedang apa kamu disini?" tanya seorang anak laki-laki berambut hitam yang datang menghampiri Ping.
"Menunggu kakakku jemput, kamu?"
"Menunggu ibu menjemputku." Ping mengangguk.
"Kamu mau es kulkul?" tawar anak laki-laki itu.
"Aku punya ciki." jawab Ping
"Tapi kamu punya es kulkul?"
"Nggak."
"Mau?"
"Mau," dengan cepat Ping meraih es kulkul dari anak laki-laki itu dan tersenyum cerah. "Kamu mau duduk disini?"
"Boleh?"
"Tentu saja." Ucap Ping dengan riang sembari menepuk bagian yang kosong di sebelah kanannya. "Kemarilah"
"Terima kasih."
"Tidak, terima kasih."
Mereka berduapun menikmati es kulkul mereka. Tak lama Bu Guru Lita datang menghampiri.
"Eh Meen, Ping, kalian belum pulang nak?"
"Belum Bu Lita." ucap Meen dan Ping berbarengan.
"Kalau begitu kalian tunggulah di dalam, hujan sebentar lagi turun. Aku akan menghubungi keluarga kalian."
"Baik Bu Lita."
Meen dan Ping mengikuti Bu Guru Lita dengan riang, merasa senang karena bisa tetap berada di dalam sekolah sambil menunggu jemputan. Mereka berlari kecil menuju pintu kelas, dan Bu Guru Lita membuka pintu untuk mereka.
"Kalian bisa menunggu di dalam, Ibu sudah menghubungi Kakak Ping dan Ibu Meen, mereka akan sampai sebentar lagi."
"Bu Guru, bolehkah kami menunggu di luar kelas saja? Kami ingin melihat hujan dari sini."
"Baiklah, tapi kalian janji sama Bu Guru tidak boleh kemana-mana sampai ada yang menjemput kalian, oke?"
"Baik Bu Lita."
Bu Lita pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Jadi namamu Meen? Ah aku baru ingat, kamu anak baru itu kan?"
"Aku sudah satu bulan disini."
"Tapi tetap saja anak baru itu namanya. . . kenalin namaku Ping," ucap Ping sembari mengulurkan tanganya "Namamu?"
"Kamukan udah tau?"
"Ishh ketusnyaaa, kata bundaku tidak boleh ketus harus tersenyum, ayolah, kamu tidak mau membalas jabat tanganku?"
"Hmmm, aku Meen." ucpanya tersenyum
"Ah kan kalau kamu tersenyum sangat tampan," ntah kenapa kalimat itu membuat wajah Meen sedikit memerah "kalau begitu salam kenal Meen, dan terima kasih es kulkulnya, sekarang kita berteman."
"Semudah itu?"
"U~ng, apa ada yang salah?"
"Tidak ada."
"Oh iya, kamu alpha ya?"
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, Berarti kmau hebat dan kuat, apa kamu tidak tahu jika kamu terlahir sebagai seorang alpha hidupmu akan baik-baik saja. Kamu pasti akan jadi orang hebat."
KAMU SEDANG MEMBACA
CHILDHOOD | MEENPING
Fiksi PenggemarTadinya disini tuh ada deskripsi tapi gak tau dah yee kayak udeh baca aja lah yaaa... Happy reading aja dari saya. Don't forget to leave your sign, give love to meenping if you like my story woof yuuu 🐼🐺
