Tadinya disini tuh ada deskripsi tapi gak tau dah yee kayak udeh baca aja lah yaaa...
Happy reading aja dari saya.
Don't forget to leave your sign, give love to meenping if you like my story woof yuuu 🐼🐺
Setelah selesai dengan kelasnya, Meen merasa cemas. Dia tidak mendengar kabar dari Ping sepanjang hari, dan pikirannya terus melayang kepada percakapan mereka kemarin. Dengan niat untuk menjernihkan suasana, Meen memutuskan untuk mencari Ping di sekitar kampus.
Meen berjalan menyusuri koridor, melewati berbagai ruangan kelas dan mahasiswa yang berlalu lalang. Dia memeriksa beberapa tempat, termasuk kafe dan taman, tetapi Ping tidak ada di sana.
Akhirnya, Meen memutuskan untuk menuju klub memasak, tempat yang sering dikunjungi Ping. Saat memasuki ruang klub, aroma makanan segar langsung menyambutnya. Namun, setelah melihat ke dalam, Meen tidak menemukan Ping di sana.
Ketika sedang mencari-cari, Meen bertemu dengan Kak Angel, yang sedang merapikan alat masak di meja.
"Eh, Kak Angel! Apa Ping ada di sini?" tanya Meen.
"Eh, Meen! Tau gitu tadi gue gak titipin cockies buat lu ke si Ping." ucap Kak Angel dengan nada centilnya
"Tadi Ping sempat kesini?"
"Ung, hampir 30 menit lalu. Tapi, Ping dia udah pergi lagi sama si Max,"
Meen merasa sedikit kesal pada diirnya karena terlambat. "Oh, oke deh kak kalau gitu."
Kak Angel mengamati ekspresi Meen. "Lu keliatannya cemas. Ada apa? Kenapa nggak bilang langsung ke Ping kalau mau ketemu? Lu nggak lagi berantem sama tu anak? Perasan kemarin baik-baik aja. Semenjak seluruh kampus tau kalau dia...."
Meen menggeleng, memotong kalimat. "Nggak apa-apa, Kak. gue cuman ada perlu aja sih, ya makin sini wajar sih gue sama Ping jarang bareng kayak dulu, punya tugas masing-masing."
"Iya juga sih, apalagi anak teknik biasanya lebih sibuk, mana bentar lagi ada pertandingan basket kan?"
"Ung, gak mau mampir icip icip dulu? Gue baru bikin cockies tau."
"Nggak kak, gue gak suka manis. Gue balik ke gedung olah raga aja. Ada latihan."
"Gak suka manis?? O-oke deh, nanti gue boleh mampir sana kan? Mau liat lu latihan, maksudnya tim basket kampus kita latihan."
"Boleh kak."
"Sampai jumpa di lapang Meen."
Setelah keluar, Meen duduk melamun di kursi taman, merenungkan semua yang terjadi antara dirinya dan Ping. Dia merasa khawatir, tetapi juga ingin menyelesaikan masalah itu secepat mungkin. Suara riuh dari mahasiswa yang lalu lalang di sekitar membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di saku. Meen melihat layar dan melihat nama Rudi, teman satu tim basketnya, muncul di sana. Dengan cepat, dia menjawab panggilan.
"Halo, Dew!" sapa Meen.
"Meen! Kapan lu mau datang ke lapangan? Kita udah nungguin lu buat latihan!" suara Dew terdengar penuh semangat.
"Oh, maaf, gue tadi nyari Ping," jawab Meen, mencoba menahan rasa cemasnya.
"Ping? Tu bocah kenapa lagi?" dengan nada seikit cemas.
"Gak kenapa-kenapa, gue cuman ada perlu sama dia."
"Telpon lu gak dia angkat?"
"Gak ada respon."
"Dih tumben, biasanya lu bedua tempel kayak permen karet di saku celana."
"Perumpamaannya jelek banget, najis."
"Hahhaha, ya udah kalau urusan lu udah kelar, buruan ke lapangan."
Meen terdiam sejenak. Dia tahu latihan sangat penting, apalagi menjelang pertandingan. "Iyaa bawel."
"Hahha Come on! Kita butuh lu di tim. Jangan sampai ketinggalan! Lagian, latihan bisa bikin pikiranlu lebih fresh. Mungkin lu juga bisa ngobrol sama Ping nanti setelah latihan," Dew memberi saran.
"Iya, iya ini gue jalan kesana!" akhirnya Meen menyetujui.
Setelah menutup telepon, Meen bangkit dari kursi dan bergegas menuju lapangan. Dia berusaha mengesampingkan pikiran tentang Ping untuk fokus pada latihan. Sesampainya di lapangan, dia melihat teman-teman satu timnya sudah berkumpul.
"Meen! Akhirnya datang!" teriak salah satu temannya sambil melambai.
"sorry, telat." ucap Meen sambil mengatur napas.
"Ganti baju lu sono" ucap Dew sambil memberi isyarat untuk mulai pemanasan.
"Iyaaaa, lu semenjak jadi kapten makin bawel aja."
Setelah latihan selesai. Para pemain tertawa dan bercanda, kelelahan setelah berjam-jam berlatih. Meen melangkah keluar dari lapangan, merasakan keringat mengalir di pelipisnya. Dia merasa segar, tetapi masih ada yang mengganjal di hatinya.
Dew, salah satu teman dekat Meen di tim, menghampirinya sambil membawa botol air. "Hey, Meen! Anjjayy keren banget lu, kek biasa!" Dew berkata dengan semangat.
"Thanks, Dew!" jawab Meen sambil meneguk air.
Namun, ekspresi wajah Dew tiba-tiba berubah menjadi lebih serius. "Tapi, lu masih kelihatan banyak pikiran. si Ping masih belum ada kabar?"
Meen menghela napas panjang. "Iya, Dew."
"Buset. Lu lagi ga berantem sama tu anak? tapi biasanya juga kalau lu bernatem sama tu anka, si Ping paling disodorin es krim juga mencair."
"Hmm, lebih dari itu. Gue merasa dia ngehindarin gue. Setiap gue tanya gelagatnya aneh. Trus Ping kayaknya lebih banyak menghabiskan waktu sama si Max," Meen menjelaskan, suara sedikit menurun.
"Max yang kagak lulus lulus itu?"
"Emang dia beneran kagak lulus lulus?"
"Rumornya si gitu, gara-gara dia duitnya banyak sering kagak masuk kelas, harusnya di audah lulus tahun kemarin, tapi masih stuck aja sama beberapa matkul, yang kayaknya gak bisa di sogok."
"Njiirrr."
"Eh Meen apa... Jangan-jangan gara-gara info kalau tu anak omega, banyak yang ngincer, trus ada dengan sengaja alpha jahat nandain dia, trus dia gak mau lu tau. Nah si Max ini jadi alibi"
"Jelek banget pikiran lu."
"Ya siapa tau..."
"Dah ah, gue mau balik aja."
"Meen, lu sebenernya suka sama si Ping kan?"
"Gak usah sotoy lu."
Meen memilih untuk pergi dan meninggalkan Dew sendirian.
----------
character new unlocked...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
as you know, beliau ni Dew Jirawat as Dew Rahman. Bocah wibu yang tadinya anak teknik temen kelasnya si Meen, temen deketnya si Meen juga pas jaman ospek. Tapi baru juga sebulan kagak kuat, trus pindah jadi anak DKV. Ko bisa? punya duit. Becanda... anaknya pinter cuman ngirm portofolio keren trus diterima jadi anak DKV dah.
Trus tadinya dia anak tim futsal, ditarik sama si Meen karena tinggi, eh taunya sekrang malah jadi captain basket.