39 | Diculik!!

106 16 0
                                        

Sammy menyalip kendaraan pelan di depannya. "Tenang aja, bentar lagi nyampe—"

BRAK!!

Mobil mendadak terguncang keras dari samping. Dua sepeda motor tanpa plat nomor memepet mobil dari kiri dan kanan.

"Apa—"

CRASH!
Kaca samping pecah. Seorang pria bertopeng menyodokkan tongkat logam ke dalam, langsung memukul dashboard.

Ping menjerit. "SAM!!"

"Pegangan, Ping!" Sammy menginjak rem sambil membanting setir, tapi dari depan, sebuah mobil van melintang tiba-tiba, menghadang jalan.

Empat orang bertopeng turun dengan cepat.

Salah satu membuka pintu mobil dan langsung menarik Ping dengan kasar.

"LEPASIN DIA!!" Sammy membuka sabuk pengamannya dan berusaha melawan. Ia meninju satu orang—kena—tapi satu lagi membantingnya ke tanah dan menyikut tengkuknya keras.

Ping berteriak. "SAMMY!!"

"Piiiing!!"

Samar-samar, Ping melihat wajah Sammy dipukul hingga berdarah, sebelum dirinya diseret ke dalam van. Pintu tertutup.

Mobil itu langsung melaju. Hilang.

Beberapa menit kemudian – Sammy merangkak bangkit.

Darah mengalir dari pelipisnya. Tangannya gemetar saat meraih ponsel di kantong jaketnya.

Call: Meen 
Nada sambung...
Satu... dua... tiga... empat... tidak diangkat.

"Angkat, Meen... PLEASE—" suaranya gemetar.

Lalu dia menekan kontak berikutnya.

Call: Maxky

Tak lama, suara berat menjawab, "Halo?"

"PING DICULIK!" jerit Sammy langsung, hampir terisak.

Di seberang, Maxky membeku. "APA?!"

"Gue udah coba lindungin dia, tapi mereka bawa mobil van hitam, gak ada plat... gue... gue gagal jaga dia..."

Tanpa menunggu, Maxky langsung berdiri dari bangku penonton VVIP. Ia menyambar jaket dan berlari ke lorong belakang arena.

Di pinggir lapangan pertandingan babak final.

"Pelatih!" Maxky menghampiri dengan napas memburu. "Saya harus bawa Meen. Sekarang!"

Pelatih menoleh tajam. "Kamu gila?! Pertandingan belum selesai—"

"Ini darurat!" suara Maxky keras, tegas. "Ping... diculik."

Mata pelatih membelalak. "APA?!"

"Kalau kita tunggu sampai pertandingan selesai, bisa telat segalanya."

Pelatih menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. "Ambil dia. Cepat. Tapi tanggung jawab gue di tangan kalian."

Dari sisi lapangan, Dew—kapten tim basket—berlari mendekat.

"Bawa Meen," katanya cepat. "Kita tetap bisa menang. Fokus kita bukan cuma lapangan. Kita tim."

Maxky tak membuang waktu. Ia berlari ke sisi lapangan, memberi isyarat ke Meen yang baru saja mencetak angka.

Meen berbalik, bingung. "Kenapa—"

Maxky menarik pergelangan tangannya. "Ping. Diculik!!"

Wajah Meen langsung pucat.

Tanpa berkata-kata, ia melepas jersey, meraih tasnya, dan ikut berlari bersama Maxky meninggalkan arena.

Sorakan penonton tak lagi terdengar. Hanya detak jantung dan gemuruh ketakutan.

Dalam mobil – Maxky menyetir dengan kecepatan tinggi.

Meen duduk di sampingnya, menatap layar ponsel milik Sammy yang dipinjam untuk melacak sinyal terakhir Ping sebelum menghilang.

"Dia sempat kirim lokasi real-time ke Sammy... tapi sinyalnya berhenti di jalan bypass arah utara, pas dekat kawasan gudang tua," gumam Meen dengan suara berat.

Maxky mengangguk. "Gue tau tempat itu. Jarang dilewatin orang. Kalau mereka mau nyembunyiin orang, itu lokasi yang pas."

Meen menggigit bibir bawahnya. "Gue gak ngerti... kenapa harus Ping? Siapa yang nyuruh?"

Maxky tak menjawab. Tapi matanya gelap, penuh amarah.

"Gue udah curiga dari awal. Ada yang ngawasin dia. Gak cuma Vina—ada gerakan lebih besar. Ping itu... bukan target sembarangan."

Meen menoleh tajam. "Maksud lo apa?! Siapa yang nyuruh?!"
Suara Meen nyaris pecah.

"Gue gak punya bukti," kata Maxky cepat. "Tapi kayaknya ini ada hubungannya sama lo, Meen. Dan Ping... adalah satu-satunya titik lemah lo yang bisa mereka pakai."

Meen mengepalkan tangan.

"Kalau mereka nyentuh dia... satu helai rambut pun..."

"Tenang," Maxky melirik ke arahnya. "Gue ngerti perasaan lo. Tapi kita harus mikir pakai kepala dingin sekarang. Lo butuh Ping selamat. Bukan darah."

Meen menunduk. Tangannya gemetar menahan ledakan dalam dadanya.

Layar ponsel berbunyi – 'CCTV bypass ditemukan'.

Maxky langsung meraih laptop tipis dari tasnya di jok belakang. Ia menyambungkan sinyal ke server milik temannya yang bekerja sebagai teknisi lalu lintas.

"Lihat ini." Ia memutar video dari CCTV jalan bypass.

Tampak sebuah van hitam berhenti di tepi jalan selama 2 menit. Beberapa sosok bertopeng turun dan memindahkan sesuatu ke mobil pickup kecil, lalu van itu dibiarkan terbakar.

"Diversi..." bisik Meen. "Mereka ganti kendaraan."

"Tapi kita bisa lacak arah pickup itu. Nih, di kamera jalan arah utara perbatasan industri."

Maxky mengetik cepat, dan...
BINGO.

Mereka melihat pickup yang sama melewati jalan sepi, menuju area Gudang 9A, yang sudah ditinggalkan sejak dua tahun lalu karena kebakaran.

"Gotcha." Maxky menutup laptop. "Gue bisa ke sana lewat jalur belakang. Tapi kita butuh rencana. Kita gak tahu ada berapa orang di dalam."

"Gak ada rencana," Meen membuka sabuk pengamannya. "Kalau lo gak ikut, gue tetap ke sana. Sendirian pun gak masalah."

Maxky menatapnya serius. "Gue ikut. Tapi kita tetap pakai otak. Kita gak bisa nyelamatin dia kalau lo mati duluan."

Meen mengangguk, walau matanya masih berkaca-kaca.

"Gue gak bakal ninggalin dia. Bukan kali ini."

CHILDHOOD | MEENPINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang