Setelah Ping menghabiskan semua makanan yang Meen belikan, ia terdiam sejenak, memandangi Meen yang sedang membereskan bungkusan makanan.
Merasa diperhatikan, Meen melirik ke arahnya. "Ada apa?" tanyanya, sedikit khawatir. "Kamu butuh sesuatu, Ping?"
Ping menggeleng dan tersenyum. "Nggak."
"Kalau gitu, tidur sana. Udah jam satu. Besok pagi ada pemeriksaan, kamu nggak boleh kesiangan atau kurang istirahat. Nanti kalau hasilnya jelek, aku bisa kena omel Bunda sama Kak Luna gara-gara biarin kamu begadang."
"Iya, iya. Terus, lu gimana?"
"Maksudnya?"
"Lu tidur di mana?"
"Ada sofa, aku bisa tidur di sana. Kalau ada apa-apa, kamu bisa bangunin aku. Gampang."
Ping mengangguk, dan mereka pun bersiap untuk tidur. Namun, hampir 40 menit berlalu, Ping tetap tidak bisa terlelap. Setelah mencoba berbagai cara, ia akhirnya membaringkan tubuhnya menghadap Meen yang sudah tertidur lelap, menatapnya dengan lembut.
"Makasih ya, Meen," ucap Ping pelan.
Tiba-tiba, Meen bersuara dengan mata yang masih tertutup. "Kamu nggak bisa tidur?"
"L-lo belum tidur?" Ping terkejut.
"Mana bisa? Kamu dari tadi berisik ngitung domba." Meen terkekeh.
"Ish."
"Kenapa? Gelisah?"
"Nggak ada, cuma nggak bisa tidur aja."
"Mau aku ke situ?"
"Mana ada! Lagian kasurnya kecil, nggak muat."
"Berarti kalau kasurnya besar, kamu mau aku ke situ?"
"Apa sih! Nggak! berhenti ngeledek deh."
"Iya, iya. Maaf."
Meen merasa Ping terlihat gelisah. Akhirnya, ia bangkit dan duduk di samping ranjang Ping, lalu meraih tangannya, mengelusnya lembut. "Aku di sini. Nggak usah khawatir, kamu harus tidur."
"Kayaknya gue makin lemah aja deh."
"Kok gitu ngomongnya?"
"Nggak tahu, tapi..."
"Ping, kamu kuat. Badan kamu cuma kaget aja. Yang tadinya kamu lemah, sekarang udah lebih kuat, jadi butuh adaptasi."
"Apaan sihh!!"
"Pokoknya, kamu harus percaya sama Kak Luna dan dokter lainnya. Kamu bakal sembuh. Aku janji bakal nemenin kamu sampai kamu sembuh."
"Nggak usah janji yang aneh-aneh."
"Kenapa aneh?"
"Kalau misal nyatanya gue gak sembuh, masa iya lu mau selamanya..."
"Mau."
"Masa lu mau terus sama gu..."
"Mau."
"Masa lu mau gue repotin terus tiap ha..."
"Mau."
"Meen...!"
"Kenapa?"
"Ini serius tau!"
"Aku juga serius."
"Meen, dengerin dulu!"
"Ping, listen to me, okay? I'm never going anywhere, and I won't leave without telling you first. I'm not going to abandon you. I'll always be here. Even if I'm in a different place from you, I'll rush back as soon as you call my name. I don't care whether you get better or not, or if you like it or not, I'll still be here for you. If you're worried that I won't find my partner, or someone to be with in the future, I don't care. I just want to be with my little yellow duck that's looking at me with a worried gaze. I'm doing just fine."Mata Ping mulai berkaca-kaca, "I hate you!"
"Why?"
"Shut-up, I wanna sleep!" ucap Ping sembari membalikan tubuhnya, memunggungi Meen.
"Jadi sekarang udah ngantuk?"Tidak ada jawaban dari Ping, tapi Meen tetap di tempatnya tidak bergerak sedikitpun. Tak lama suara isak tangispun terdengar cukup keras.Meen yang khawatir beranjak dari duduknya dan membalikkan tubuh Ping perlahan."Kenapa kamu nangis? Ada yang sakit?""Meen, Ping takuuuttt, hiksss."Meen dengan sigap menhapus air mata Ping yang sudah membasahi wajah putihnya itu, dan menarik tubuh Ping ke dalam peluknya, mengusap lembut punggung kecilnya. "Aku salah ngomong ya?""Jangan ngomong kayak gituuuu, Ping gak sukaaaakk!! Hiks!""Yang bagian mananya?"
"Jangan bilang kalau lu nggak akan cari pasangan buat nemenin hidup lu. Lu harus ketemu cewek baik. Jangan jagain gue terus, nanti gue makin mikir kalau gue nggak berguna. Gue takut."
Meen menarik napas panjang. "Ping, aku nggak akan pernah nggak bahagia kalau itu tentang kamu. Kamu nggak perlu takut dan nggak perlu khawatir. Gue janji."
"Tapi..."
"Bisa kita berhenti ngomongin ini? Nggak baik." Meen menatap Ping dengan lembut. "Kamu cuma perlu percaya sama aku, oke?"
Ping mengangguk lemah. Perlahan, ia mencoba menenangkan dirinya dan menatap Meen dengan keyakinan, bahwa semua akan baik-baik saja. Meen tidak pernah berbohong padanya. Ia percaya itu.
"Udah lebih baik?" tanya Meen.
Ping mengangguk. Meen tersenyum dan mengecup keningnya lembut. "Good boy. Sekarang tidur, ya."
Ping membaringkan tubuhnya. "Lu nggak tidur?"
"Tidur, kalau lu udah tidur."
"Tidur sini aja, ranjangnya cukup kok buat berdua."
"Mau aku peluk?"
Ping mengangguk malu.
"Mau dielus juga?"
Ping kembali mengangguk.
"Bilang dong, jangan cuma ngangguk."
"Ya udah nggak usah, nggak maksa." Ping membuang muka.
Meen terkekeh. "Aku elus tangan kamu aja ya? Aku genggam sampai besok pagi, sampai kamu bangun, nggak akan aku lepas. Ranjang bisa roboh kalau aku tidur di situ juga."
"Ya udah deh. Janji nggak lepas, ya?"
"Iya, janji. Sekarang tidur, jangan mikirin yang aneh-aneh. Mimpiin aja kita makan mi ayam sama es krim kesukaanmu."
"Mau mi ayam..." gumam Ping pelan.
Meen tertawa kecil. "Nanti kita beli. Pak Abdul pasti kangen sama Ping yang suka nambah ceker."
"Iya..."
"Aku boleh cium kening kamu lagi nggak? Biar tidur nyenyak."
"Kenapa yang ini izin? Tadi nggak?"
Meen tertawa. "Hehehe."
"Ya udah, sini." Ping menutup matanya.
Cup!
"Good night."
"Makasih ya, Meen."
Meen tersenyum.
----- TBC -----
KAMU SEDANG MEMBACA
CHILDHOOD | MEENPING
FanfictionTadinya disini tuh ada deskripsi tapi gak tau dah yee kayak udeh baca aja lah yaaa... Happy reading aja dari saya. Don't forget to leave your sign, give love to meenping if you like my story woof yuuu 🐼🐺
