36 | Hari Pertandingan

139 18 1
                                        

Tiga bulan. Sudah tiga bulan sejak Ping terakhir keluar dari rumah sakit.
Tubuhnya memang belum pulih sepenuhnya, tapi dokter akhirnya memberi izin dengan satu syarat: jangan terlalu lelah dan hindari tempat ramai terlalu lama.

Namun hari ini berbeda.

Hari ini adalah pertandingan semifinal basket antar kampus. Dan Meen—ya, Meen, sahabatnya yang selalu ada sejak mereka masih bau matahari—akan bertanding melawan kampus rival yang terkenal ganas.

Ping duduk di tribun penonton bersama Sammy, sahabatnya yang cerewet tapi setia. Awalnya dia akan menonton dengan Bunda, tapi ada masalah dengan kesehatan Neneknya juga, jadi Ping meminta Bunda untuk tidak khawatir dan meminta Sammy untuk menemaninya. Tak lupa Maxky juga menjga Ping dari jarak yang tak begitu dekat, atas perminataan Meen. Meskipun berat rasanya.

"Lu yakin udah kuat, Ping?" Tanya Sammy dengan khawatir.
"Iya. Gue nggak akan pingsan cuman karena nonton pertandingan. Lagi pula... gue udah janji ke Meen. Gue mau dia lihat gue di sana. Dan bukti kalau gue udah sehat."
"Mana sehat, muka lu aja masih sehat." Ujar Sammy menyela.

Saat peluit ditiup dan pemain mulai masuk lapangan, mata Meen langsung mengarah ke tribun. Dan ketika ia menemukan Ping—duduk dengan hoodie biru pucat, topi sedikit menutupi mata, dan senyum kecil di bibirnya—Meen membeku.

Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat dadanya hangat.

"Dia datang... Kuharap dia menepati janjinya bahwa dia sudah baik-baik saja"

Pertandingan berlangsung panas. Meen bermain tajam, cepat, dan fokus. Beberapa kali mencetak angka dengan mudah. Penonton bersorak.

Setiap kali Meen mencetak poin, Ping ikut tepuk tangan meski tubuhnya masih lemas. Sammy berkali-kali memperingatkan, tapi Ping tak peduli.

"Gue cuma pengen si Meen tahu... kalau gue ada nyemangatin dia disini," gumam Ping pelan.

Tapi sorakan itu perlahan berubah. Suara-suara penonton mulai gaduh, bukan hanya karena permainan. Ada aroma samar yang menyebar di tribun.

Sammy membeku. Ia menatap Ping. Begitu juga beberapa penonton Alpha di sekitar mereka yang mulai gelisah.

"Ping... Lu—lu pakai sesuatu?"

Ping menggeleng panik. Wajahnya mulai memerah, napasnya pendek.

"Aku... nggak... Sammy, kenapa aku... panas banget?"

Sammy langsung berdiri, menutupi Ping dengan jaket dan menariknya ke luar tribun.

Sementara itu di tengah lapangan, Meen mencium aroma itu.

Bukan sembarang aroma. Aroma lembut, manis, dan menusuk dalam, aroma yang sudah lama ia hafal. Aroma yang hanya dimiliki oleh satu orang: Ping.

Matanya langsung mencari. Begitu melihat kekacauan kecil di tribun tempat Ping duduk tadi, Meen langsung keluar dari lapangan, tidak peduli peluit pelanggaran atau sorakan wasit.

"PING!!" teriak Meen.

Suara Meen menggema di lorong sempit tribun penonton. Nafasnya memburu, keringat membasahi pelipisnya—bukan karena pertandingan, tapi karena aroma itu.

Samar. Lembut. Tapi cukup kuat untuk mengaduk seluruh sistemnya.
Itu aroma heat—namun berbeda. Aroma Ping. Aroma yang hanya Meen kenali dan bisa tahan tanpanya kehilangan akal.

Di sudut lorong belakang tribun, Meen melihat Sammy berusaha menahan tubuh Ping yang mulai lemas.

"Sammy, geser!" ujar Meen tegas, langsung menunduk memeluk tubuh Ping dengan pelan.

Ping gemetar, wajahnya merah dan kulitnya sedikit lembap.
Matanya mencari... dan begitu menemukan wajah Meen, seolah semua kekacauan di tubuhnya mereda.

"Meen..." bisik Ping pelan. "Gue... nggak ngerti..."

"It's okay. Aku di sini. Fokus ke napas, ya?"

Sammy menatap Meen dengan cemas. "Tiba-tiba dia lemas, terus... aromanya keluar. Padahal dia nggak minum apa-apa, Meen. Sumpah!"

Meen mengangguk. Ia percaya. Ping tidak mungkin ceroboh. Dan kalaupun ada yang melakukan sesuatu padanya... maka dia tidak akan diam.

Dengan satu tarikan napas dalam, Meen berdiri.

"Ayo ikut aku. Kita tonton dari dekat. Ada ruang kecil dekat bangku VIP, lebih tenang dan aman."

"Tapi—" Sammy mau protes, tapi Ping sudah menggenggam tangan Meen erat.

"Gue... mau nonton, Meen..." suara Ping nyaris tak terdengar. "Gue udah janji."

Hati Meen mencelos. Kenapa Ping harus terlihat sekuat itu saat sedang rapuh?

Tanpa banyak bicara, Meen mengangkat tubuh Ping dengan mudah—menggendongnya seperti seseorang yang sangat ia sayangi (karena memang begitu). Sammy mengekor di belakang, masih mengawasi sekitar dengan waspada.

Ruang kecil di belakang VIP tribun cukup sepi. Ada kaca bening yang memperlihatkan lapangan dari sudut yang sempurna. AC menyala lembut. Ping duduk di sofa kecil, masih memegangi dadanya.

Meen berjongkok di depannya, memeriksa denyut nadi Ping sambil meraba keningnya.

"Sedikit hangat. Tapi kamu nggak demam."
"Apa gue kambuh lagi?" tanya Ping lirih.
"Mungkin. Tapi bisa juga karena kamu terlalu memaksakan diri."

Ping terdiam. Tangannya perlahan mencari genggaman Meen.

"Kalau gue... mulai mengeluarkan aroma lagi... lo bakal jijik?"
"Ping..."

Meen menghela napas, menatap lurus ke dalam mata Ping yang masih kabur oleh rasa bingung dan rasa bersalah.

"Aku paling benci kalau kamu ngerasa harus minta maaf soal apa yang ada di tubuhmu."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi."

Meen menggenggam tangan Ping erat.

"Kalau pun aroma kamu keluar, satu-satunya Alpha yang boleh nyium itu cuma aku."

Ping menatapnya, membeku. Di sudut ruangan, Sammy pura-pura sibuk main HP sambil curi-curi dengar.

"Meen..."
"Aku serius."

Ping menggigit bibirnya. Matanya berkaca-kaca. Tapi senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

"Kalau gitu... lu harus menang hari ini."
"Hah?"
"Gue nonton jauh-jauh begini. Lu harus kasih gue alasan buat bangga."
"Oh..." Meen tertawa kecil, wajahnya sedikit merah. "Itu... bisa diatur."

Beberapa menit kemudian, Meen kembali ke lapangan—membawa semangat baru.

Di bangku penonton VIP, Ping duduk bersandar pada Sammy dengan senyum pelan. Tubuhnya memang masih lemah.

Sudah semakin yakin.

Namun jauh di sisi lain tribun...
Vina menatap kaca ruangan VIP dari jauh, rahangnya mengeras.

Dan di belakangnya, Maxky berdiri diam, dengan tatapan tajam.



----- TBC -----

CHILDHOOD | MEENPINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang