37 | ??

191 22 7
                                        


Pertandingan masih berlanjut. Sorak-sorai penonton terdengar samar dari balik kaca tebal ruangan VIP.
Di luar sana, Meen menggiring bola dengan kecepatan mematikan, menghindari dua pemain lawan dan mencetak angka dengan satu tembakan bersih. Tepuk tangan membahana.

Ping menatap layar kaca itu dengan mata serius. Pipinya tak lagi semerah tadi, nafasnya mulai teratur.
Dia bisa merasakan tubuhnya sedikit lebih stabil. Mungkin karena ruang ini hanya berisi dirinya dan Sammy. Tidak ada Alpha lain. Tidak ada tekanan aroma. Tidak ada kebisingan.

"Lihat Sammy, Meen keren kan? Gue bilang juga apa, gak akan nyesel deh kalau lu nonton pertandingan si Meen..." gumam Ping kecil. Ada senyum ringan di bibirnya.

Sammy menoleh dari duduknya. "Iyalahh, dia latihan tiap pagi buta. Gila itu anak."

Ping tertawa pelan.

Namun tiba-tiba, Sammy berdiri sambil menggeliat kecil.

"Ugh... Gue lupa belum pipis dari tadi. Gak tahan, Ping. Gue ke toilet bentar, oke?"
"Iya, gak apa-apa. Gue di sini aja kok."

Sammy menunjuk botol air mineral di meja. "Kalau haus, minum itu aja dulu ya. Jangan ngelamun sampe kebawa aroma Alpha!" candanya sambil lari keluar.

Ping hanya tersenyum, lalu kembali menatap pertandingan. Matanya mengikuti gerak tubuh Meen seperti sedang menonton lukisan bergerak—indah, terfokus, dan penuh emosi.

Beberapa menit berlalu.
Sunyi. Hanya suara sorakan jauh yang memantul dari balik kaca.

Lalu... pintu terbuka.

Ping menoleh.

"Cepet banget Sam?"

"Ini aku Vina..."

"Eh Vin..."

Omega berambut panjang itu masuk pelan, mengenakan jaket kampus, rambutnya dikuncir rapi. Di tangannya ada dua botol minuman dingin.

"Kamu sendirian? Aku lihat Sammy di lorong, katanya kamu lagi nonton di sini. Aku bawain ini."
"Oh... makasih. Tapi gue udah ada minum sih..." Ping menunjuk meja.

"Ini minuman isotonik. Biar kamu cepat pulih. Katanya kamu tadi sempat lemas lagi?"
"Sedikit. Tapi udah mendingan." Ping menerimanya ragu, tapi tak langsung meminumnya.

Vina duduk di samping Ping, meletakkan minuman di meja kecil di depannya.

"Gimana rasanya bisa nonton langsung Meen main lagi? Sudah cukup kuat duduk lama begini?" Tanya Vina

Ping mengangguk pelan. "Lumayan. Dokter bilang stamina ku mulai stabil. Tapi aku masih cepat lelah kalau ruangan terlalu ramai..."

Vina mengangguk penuh perhatian. "Kamu memang selalu sensitif, ya. Bahkan dari SMA juga begitu. Tapi kamu... terlihat lebih tenang sekarang."

"Mungkin karena... di ruangan ini cuma gue sama Sammy."

Vina tersenyum tipis "Kadang sunyi memang bisa menyembuhkan lebih cepat daripada keramaian, Ping."

"Yahhh kurasa begitu."

Hening sejenak. Hanya suara sorakan dari luar yang memecah keheningan.

Vina kemudian berdiri, merapikan rambutnya.

"Kamu beruntung punya Meen. Dia selalu ada. Bahkan sekarang pun... kamu tetap jadi pusat dunianya." Ucap Vina.

Ping diam. Tak tahu harus menjawab apa.

"Tapi kadang, terlalu bergantung juga bisa jadi bahaya, Ping. Kamu harus mulai belajar jaga dirimu sendiri. Jangan terus jadi beban untuk orang yang kamu sayang."

Ping mengangkat wajah, tatapannya berubah sedikit kaku. Tapi Vina hanya tersenyum lembut, seolah tak menyadari ketegangan yang muncul.

"Istirahatlah yang cukup. Dan kalau haus... minumnya jangan lupa," Dia menunjuk botol yang tadi ia bawa. "Aku balik dulu. Pertandingan belum selesai, kan?"

Lalu Vina melangkah keluar. Ping hanya memandangi punggungnya sampai pintu tertutup kembali.

Langkah Vina meninggalkan ruang VIP terasa terlalu tenang.

Ping meraih dan memegang botol minuman yang diberikan gadis itu, tatapannya tak lepas dari label yang setengah terkelupas. Jari-jarinya menyusuri sisi botol pelan, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak tertulis.

Seketika, suara ketukan kecil di kaca belakang membuat tubuh Ping tersentak. Ia menoleh. Tapi tak ada siapa-siapa.

Ping berdiri pelan, berjalan mendekat ke sisi kaca kecil yang menembus lorong sempit di belakang ruangan.
Lalu... dia melihat bayangan seseorang berdiri di ujung lorong itu.

Tinggi. Gelap. Bahunya lebar. Maxky.

Maxky melangkah pelan, tapi tak masuk ke ruangan. Hanya berdiri, menatap Ping dari balik kaca. Tatapan matanya tajam, seperti sedang menakar... atau mengamati.

Ping membuka pintu sedikit, setengah takut, setengah penasaran.

"Kak Maxky...?"

Maxky mengangkat satu tangan, menandakan bahwa Ping tak perlu bicara keras-keras. Lalu ia berujar pelan, namun tegas.

"Jangan minum itu."

Ping membeku.

"Hah?"
"Minuman yang ada di tangan lu. Jangan minum."

Ping menatap botol itu, lalu kembali menatap Maxky.

"Kakak... dari tadi di sini?"
"Cukup lama buat lihat si Vina itu masuk dan keluar."

Ping mencengkeram botol lebih erat. Detak jantungnya makin cepat.

"Kakak... ngikutin dia?"
"Gue cuma penasaran..."

Ping terdiam.

Maxky mendekat, jaraknya sekarang hanya terpisah kaca kecil antara lorong dan ruangan.

"Gue nggak maksa lu buat percaya sama gue," Maxky melanjutkan. "Tapi lu bisa percaya instinglu, kan?"

Ping menggenggam botol itu pelan, lalu meletakkannya di meja dengan hati-hati—seolah sedang menyentuh barang bukti.

"Kak, kakak jangan sembarangan ngomong, Vina nggak kayak gitu."

"Gue tau lu bakal ngomong kayak gitu, sama halnya si Meen."

Maxky tersenyum miring. Senyum yang aneh—tidak sepenuhnya dingin, tapi juga tidak ramah.

"Terserah, gue emang gak kenal dia, tapi lu juga gak tau dia aslinya kayak apa kan?"

Lalu Maxky melangkah pergi, bayangannya menghilang di balik koridor.



----- TBC -----



Maaf ya baru sempet update lagi, soalnya baru kelar UAS.

tapi tenang kok aku masih bakal update terus bahkan sampai tamat. Makasih ya yang udah mau menunggu dan tetap membaca tulisanku yang tidak jelas ini <3

Big Luv

Roku~


CHILDHOOD | MEENPINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang