"Bzzzzt... Bzzzzt...!"
Pukul 7 pagi ponsel Meen berdering kencang, membuat Meen terbangun dari tidurnya. Siapa manusia menyebalkan yang pagi-pagi sudah menelponnya dipagi hari. Dew, nama itulah yang muncul.
Meen melirik, menatap Ping yang masih terlelap tidur dengan mengalungkan lengannya pada perpotongan leher Meen. Perlahan melepaskan, berharap Ping tidak terusik dengan pergerakan itu.
"Unnggg" Lenguh Ping.
"Ah maap kau membuatmu terbangun." Ucap Meen sedikit berbisik.
"Lo mau kemana? kan hari ini kita kelas siang. Sarapan?"
"Nggak, aku ada telpon, angkat dulu sebentar boleh ya?" tanya Meen dengan lembut.
"Ya udah." ucap Ping dan melanjutkan tidurnya.
Meen berjalan keluar menuju balkon kamar. Melirik ponselnya yang masih berdering dan mengangkat panggilan itu.
Tanpa pikir panjang, dia menekan tombol hijau dan menyapa dengan suara serak, "Halo?"
"Lama amat anjir ngangkat telponnya."
"Kalau gak penting gue matiin ya Dew!"
"Eitss marah-marah mulu lu pagi-pagi." Meen menghela napasnya kapas, merasa sedikit jengkel.
"Gue matiin telponnya."
"Heh, astagaa, ini serius."
"Ya udah apa?!"
Dew langsung berbicara tanpa basa-basi. "Hei, Meen! Jangan lupa datang latihan basket hari ini ya, soalnya bakal ada manajer baru."
Meen mendengus kesal. "Dew! Ini masih pagi banget. Lu tahu, kan, gue masih tidur?"
"Oh iya ya?? Kata gue sih gak mungkin lu belum bangun. Plaing lu pura-pura belum bangun. Nyaman kan lu" Dew terdengar sama sekali tidak merasa bersalah dan justru malah meledek Meen.
"Kalau udah tau chat gue aja, gue juga gak akan lupa!"
Ping, yang tidur , mulai bergerak gelisah. Ia melirik Meen dengan mata setengah terbuka, mengerang lemas. "Siapa sih yang berisik pagi-pagi begini?"
Meen menatap telepon dengan kesal, ingin sekali menutupnya begitu saja, tapi Dew masih berceloteh. Berjalan mendekati Ping yang tengah mengusap matanya kasar. "Dew" ucap Meen berbisik.
Akhirnya, dengan napas dalam, Meen berkata, "Dew, gue nggak akan lupa. Sekarang biarkan gue tidur lagi, oke?"
"Hmmm tau gue kan bener. Oke, oke, tidur yang nyenyak ya!" kata Dew riang sebelum menutup telepon.
Meen menghela napas panjang dan meletakkan teleponnya dengan kasar di meja. "Kenapa sih, tu manusia wibu nggak bisa nunggu sampe siang saja?"
Ping terkikik kecil, "Namanya juga lagi semangat."
"Lebih semangat lagi kalau aku balik tidur." ujar Meen
"Ihh tumben, dah ayo kita turun aja sarapan, kayaknya bunda udah siapin sarapan."
Meen dengan setengah semangat meng-iyakan ajakan Ping untuk sarapan.
Dengan langkah pelan, mereka berjalan bersama menuju dapur.
Di dapur, sudah ada Kak Lia yang sedang menikmati sarapan paginya. Dia duduk santai di meja makan sambil memegang secangkir teh hangat, matanya asyik menatap piring yang berisi roti panggang dan telur orak-arik.
Ping menyapa lebih dulu, "Pagi, Kak Lia!"
Kak Lia tersenyum dan melambaikan tangan, "Pagi juga, Ping, Meen! Kalian kelihatan masih ngantuk. Bukannya hari ini kelas siang kan? Soalnya bunda gak minta kakak untuk bangunin kalian"
KAMU SEDANG MEMBACA
CHILDHOOD | MEENPING
Fiksi PenggemarTadinya disini tuh ada deskripsi tapi gak tau dah yee kayak udeh baca aja lah yaaa... Happy reading aja dari saya. Don't forget to leave your sign, give love to meenping if you like my story woof yuuu 🐼🐺
