33 | Curiga

332 26 1
                                        

Semua orang sedang menunggu hasil pengecekan Dokter. Bunda yang memegang erat tangan kak Luna, Meen yang sedari tadi diam mematung dengan tatapan kosong, Sami dan Max yang masih mengatur nafasnya karena berlarian sampai ke rumah sakit.

Semua orang tegang, berharap bahwa Ping tidak mengalami hal serius, semoga dirinya baik-baik saja.

Akhirnya Dokter keluar setelah memeriksa kondisi Ping. Namun sepertinya bukan kabar baik yang akan disampaikan beliau.

Dengan segera Meen menghampiri Dokter menanyakan bagaimana kondisi Ping, Dokter hanya tersenyum lirih "Ping, seperti biasa, dia anak yang kuat. Tapi boleh saya bertanya? Terakhir apa yang Ping konsumsi?"

"Ping hanya sarapan nasi goreng udang seperti biasa dokter, dan meminum obatnya sebelum pergi ke kampus. Apa dia punya masalah lain?" jelas Meen.

"Bukankah dia juga meminum minuman yang lagi lu pegang? Atau dia nggak minum itu?" tambah Max.

"Maksud lu apa?" tanya Meen dengan nada bingung.

"Meen, boleh saya pinjam botolnya sebentar untuk dicek lab?" Meen tanpa ragu menyerahkan botol minum yang dia pegang pada Dokter, dan Dokter itu menyerahkan pada perawat yang ada di sampingnya.

"Kalau begitu botol ini akan kami cek dulu, untuk kondisi Ping saat ini dia belum sadarkan diri, tapi kalian bisa menemuinya."

Bunda dengan perlahan dibantu kak Luna menghampiri Dokter tersebut untuk mengucapakan terima kasih sebelum mereka memasuki ruangan Ping.

Ping terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit, wajahnya pucat pasi, seolah-olah seluruh energi hidupnya telah tersedot habis. Infus yang tertancap pada pergelangan tangannya meneteskan cairan dengan perlahan, seolah menanti detik-detik yang panjang dalam keheningan.

Bunda yang duduk tepat disebelah Ping, menggenggam tangannya erat sembari mengelus lembut, kak Luna mengusap bahu Bunda untuk menenangkan. "Udah Bun, Ping tuh anaknya kuat, tapi emang lagi apes aja anaknya."

Seketika Bunda mencubit tangan kak Luna yang berhasil membuat kak Luna meringis kesakitan. "Kamu nih sama adek sendiri, isshh."

"Heheh, ya udah Bun, aku ke lab dulu untuk liat hasil cek tadi." Bunda mengangguk paham.

"Kak?" tahan Meen.

"Udah lu tunggu sini jagain Bunda. Kalau lu laper lu makan. Ajak temenlu juga."

Meen mengangguk, kak Luna pergi meninggalkan ruangan. Max dengan segera menghampiri Meen dan mengajaknya keluar ruangan untuk berbicara sebentar, sedangkan Sam menemani Bunda di dalam.

"Meen, lu gak curiga?"

"Sebelum gue bahas soal curiga ke orang lain. Gue lebih curiga lagi sama lo. Ko bisa lo tiba-tiba ada disini, bareng sama Sam."

"Lah ya emang kenapa? Kok jadi curiga sama gue? Gue tadi kebetulan mau kasih buku yang Ping mau pinjem dari gue, pas di jalan dia bilang sama gue kalau dia ada di gedung olah raga. Pas gue kesana temen-temen lu bilang kalau si Ping pingsan. Trus gak sengaja gue nabrak si Sam juga yang kebetulan ada di depan pintu gedung. Ya udah gue tarik sekalian." mendengar penjelasan Max, Meen hanya mengangguk.

"Trus lu mau bahas curiga apa?"

"Soal Vina!"

"Jangan bilang, lu curiga kalau ini semua ulah Vina?"

"Ya siapa lagi?"

"Atas dasar apa lu curiga sama dia? Lu kenal sama dia? Gue sama Ping temenan sama Vina udah lama, Vina aja deket banget sama Ping, bahkan mereka sama dan tau."

"Nah itu."

"Apa anjir nah itu, nah itu. Lu gak usah bikin statement yang nggak nggak soal Vina!"

"Meen dengerin gue dulu..."

CHILDHOOD | MEENPINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang