Ping terbangun dari tidurnya dengan perasaan masih setengah sadar. Matanya terasa berat, dan gerakannya lambat saat ia turun dari tempat tidur menuju dapur. Langkahnya ragu-ragu, seperti berjalan dalam mimpi.
Sampai di dapur, dia melihat seseorang sedang sibuk memasak disana, seseorang itu tersenyum ramah saat melihat Ping datang, lalu tanpa berkata apa-apa, Ping mendekapnya erat dari belakang.
Meen yang terkejut hanya bisa diam mematung "Ada apa, Ping?" tanya Meen dengan lembut, meskipun agak terkejut dengan kehadiran mendadak Ping yang masih setengah sadar itu.
Ping hanya memeluknya lebih erat lagi, merasakan kehangatan tubuh Meen dan bau wangi yang baru dimasaknya. Meen membiarkan Ping memeluknya, karena Meen tidak tau gerakan apa yang harus dia lakukan sleanjutnya.
"Kamu kenapa, Ping?" tanya Meen lagi setelah beberapa saat berlalu, tetap membiarkan dirinya dipeluk oleh Ping.
"Bunda, kapan pulang?"
"Bunda kok tingiian sih? Badan Bunda juga lebih kekar dari biasanya. Bunda kebanyakan work-out ya di rumah nenek?"
Meen dengan segera membalikkan tubuhnya yang kini wajahnya berhadapan dengan Ping.
"Ping, kamu masih demamkah?" Meen menempelkan dahinya pada dahi Ping.
Ping mundur hingga terpeleset karena kaget, untungnya dengan sigap Meen meraih Ping dan menangkupnya dengan lengannya. "Kamu gak papa?"
"Lu ngapain Meen, pagi-pagi disini?"
Meen mengernyitkan dahinya. "Kamu lupa sesuatu?"
Ping mengernyitkan dahinya, mengedipkan matanya berulang kali, otaknya sedang memproses sesuatu yang hilang.
AARRRGGHHH
Ping mundur menjauhi Meen, setengah berlari menuju kamar dimana dia terbangun tadi, tatapanya bingung.
Meen khawatir.
----------
Ping memasuki kamar dan menutup pintu. Berjalan menghadap menatap dirinya di depan sebuah cermin, melihat sekujur tubuhnya yang penuh dengan bekas merah keunguan. Mengusap wajahnya kasar. "Anjirlah gua abis ngapain?" air matanya perlahan terjatuh.
Tubuhnya runtuh, memeluk kedua kakinya dan menangis.
Meen mengetuk pintu dan memasuki kamar, menemukan Ping yang terduduk meringkuh memeluk kedua kakinya.
"Ping?" ucap Meen dengan nada lembutnya.
Ping menatap Meen dengan raut wajah sedih dan bingung. Meen menarik Ping dan membawanya kepelukannya dengan erat dan hangat.
"Kamu kok nangis? Masih sakit?" tanya Meen.
"Meen ini gua kenapa? Kok bisa kita ada disini?"
"Bangun-bangun nggak tau dimana, kirain Ping lagi di rumah nenek, tapi Ping peluk ada orang di dapur ternyata lu."
"Trus ini liat badan Ping merah-merah, Ping nggak inget apa-apa?"
"Badan Ping linu semuaaaa~"
Suara tangisnya semakin membuat Meen merasa bersalah. Ini semua perbuatannya. Seharusnya dia menahan nafsunya untuk tidak melakukan itu dengan teman kecilnya.
"Maaf..." mengusap air mata Ping
Ping bingung... "Kok Lu minta maaf?"
"Maaf ya, seharusnya aku ga..."
"Emang lu habis ngapain? atau kita habis ngapain sih? Ini Ping kena cacar air lagi kan?! Gak akan bisa keluar rumah dong gueeee.... hiks"
"Gua kena demam tau tau gua kena cacar air lagi... padahal umur 7 tahun kan udah kena.. lu jauh-jauh Meen ntar lu kena tular lagi dari gue... hiks"
KAMU SEDANG MEMBACA
CHILDHOOD | MEENPING
FanfictionTadinya disini tuh ada deskripsi tapi gak tau dah yee kayak udeh baca aja lah yaaa... Happy reading aja dari saya. Don't forget to leave your sign, give love to meenping if you like my story woof yuuu 🐼🐺
