Meen tiba-tiba merasa dorongan yang kuat untuk menarik tangan Ping menjauh. Tarikannya semakin kuat, Ping merasa kesakitan dengan genggaman itu. Ping mencoba melepaskan, namun tidak berhasil. Meen tetap menarik Ping, terus berjalan hingga...
"Meen lepass sakiiitt, mau kemana?" Ucap Ping dengan suara lirih
Meen dengan sadar berhenti dan melepas tangan Ping, mengusap wajahnya kasar "m-maaf."
Meskipun Ping sedikit kesal, gara-gara Meen tangannya membekas kemerahan "Lo kenapa? marah ya gara-gara gak gue angkat telpon lu?"
Meen hanya menggelengkang kepalanya. "Pergelangan tanganmu....u?"
"Gak papa, sakit dikit nanti juga sembuh."
"Kita ke ruang kesehatan aja ya, biar petugas atau Bu Mei obati."
"Nggak usah, aman ko ini." ucap Ping sembari mengusap pergelangan tangannya itu.
"Ping??"
"Iya iya oke, tapi gue jalan sendiri gak usah dipegang."
Meen mengangguk.
----------
Meen menggeser pintu ruang kesehatan, namun tak ada seorang pun di dalamnya, sepertinya Bu Mei sedang pergi keluar, mungkin makan siang fikirnya.
"Duh, sepertinya tidak ada petugas di sini," ucap Ping, mencoba memegang lengan yang terasa sakit.
Meen mengangguk, mencoba tetap tenang meskipun hatinya cemas. "Nggak masalah, aku bakal coba mencari apa pun yang bisa kita gunakan."
Meen memeriksa kotak obat dan rak-rak penyimpanan, mencari peralatan medis yang mungkin mereka perlukan. Akhirnya, dia menemukan kotak pertolongan pertama yang cukup lengkap di salah satu ruang penyimpanan.
"Ini harus membantu," kata Meen sambil membuka kotak dan mengeluarkan antiseptik, perban, dan plester.
"Ini nanti juga hilang Meen, gak perlu pake begituan, dikompres juga bisa." Ucap Ping, sembari menahan rasa sakit.
"Tidak bisa, aku sudah melukaimu, maaf."
Ping mengangguk. "Baiklah lakukan sesuka yang lu mau."
Meen dengan hati-hati membersihkan luka lebam di pergelangan tangan Ping dengan antiseptik, sementara Ping menahan sedikit rasa sakit.
"Pasti sakit ya? Maaf ya Ping..." ucap Meen dengan nada bergetar
"Hey, lu napa? kagak kenapa-kenapa sii, gini doang mah, udah biasa."
"Udah biasa yaa... sering banget dong aku nyakitin kamu kayak gini."
"Ehhh gak gituuu. issh"
Meen dengan telatennya mengobati luka lebam dioergekangan Ping, diusapnya dengan lembut agar sang pemilik tidak merasa kesakitan.
"Ping, yang tadi siapa?" tanya Meen tiba-tiba.
"Sami? Lah bukannya lu udah tau dia ya?"
"Bukan tapi cowok rambut merah yang ngerangkul kamu tadi."
"A-ooh itu Kak Maxky, senior aku."
Meen hanya mengangguk, rasanya masih ada yang ingin dia tanyakan, tapi Mee memilih untuk tidak memperpanjang.
"Tunggu..." Ucap Ping sambil menjauhkan lengannya dari genggaman Meen yang sedang mengobatinya.
"Nggak, biasa aja. Cuman khawatir doang, soalnya kamu kayak gak nyaman gitu tadi."
"Gue gak ngomong apa-apa yaa..."
"Tapi bener deh, kamu jangan deket-deket sama senior mu itu ya? Kayaknya dia bukan orang baik. Bau feromonnya sangat mengintimidasi."
KAMU SEDANG MEMBACA
CHILDHOOD | MEENPING
FanfictionTadinya disini tuh ada deskripsi tapi gak tau dah yee kayak udeh baca aja lah yaaa... Happy reading aja dari saya. Don't forget to leave your sign, give love to meenping if you like my story woof yuuu 🐼🐺
