Tepat pukul 8 pagi Meen sudah berada di depan gedung asrama kampus putra, menunggu Ping dan Sam keluar dari gedung yang cukup luas karena bisa menampung hingga ratusan mahasiswa.
Meen duduk di atas motor hitamnya yang biasa dia panggil Luna, sembari memainkan ponselnya. Mencoba menguhubungi Ping berulang kali namun tak ada respon.
"Ditelpon gak diangkat, di-chat gak ada respon. Ping kemana? Masa iya udah berangkat, apa jangan-jangan dia belum bangun?" monolog Meen.
Sambil sesekali melirik ke arah pintu asrama, Meen merasa semakin khawatir. Meen memutuskan untuk masuk ke dalam asrama dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan langkah agak cepat, Meen memasuki area asrama dan menuju ke lobi. Suasana di dalam tampak sibuk, dengan mahasiswa berlalu lalang, beberapa sedang berbicara di telepon dan yang lainnya sibuk dengan aktivitas mereka. Meen mencoba mencari Ping di antara kerumunan, berharap menemukan Ping disana.
Dan kemudian, dia melihat Ping, sedang keluar dari pintu utama asrama dengan Max. Meen tertegun. Ping tampak bahagia dan tertawa lepas, sementara Max tampak sama cerianya. Keduanya tampaknya baru saja selesai dari sesuatu yang seru. Meen merasa jantungnya berdegup kencang, campur aduk antara rasa marah dan kecewa.
"Ping!" seru Meen, berharap bisa menarik perhatian Ping. Sayangnya, Ping dan Max terlalu sibuk dengan obrolan mereka dan tidak mendengar panggilan Meen. Mereka terus berjalan keluar menuju area parkir, tidak sadar bahwa Meen sedang berdiri di sana, menunggu dengan penuh harapan.
Meen sedikit frustasi. Setelah beberapa menit, Meen mengumpulkan keberaniannya dan mendekati Ping. Dengan nada suara yang agak tegang, Meen berkata, "Ping, aku sudah menunggu lama di sini. Kenapa kamu tidak membalas teleponku?" Ucap Meen sedikit kesal. "Dan bukannya kamu kemarin izin menginap di kamarnya Sam? Kenapa sekrang malah keluar dengan pria ini?"
"Hey, gue punya nama, dan gue juga senior lu." ucap Max, yang tak dihiraukan oleh Meen.
Ping diam beberapa saat, sedang memikirkan kalimat apa yang harus dia ucapkan agar Meen tak marah dan melaporkan pada Bunda.
"Si Sam masuk siang, bocahnya belum bangun." ucap Max, Max yang melihat Ping risau mengucapkan kalimat asal. "Iyakan?"
"Oh, iyah dia masuh tidur karena hari ini gak ada kelas pagi." tambah Ping.
"O-okeh, trus kok kamu bisa barengan sama dia?" tanya meen lagi.
"Kebetulan gua semalam habis nongkrong sama anak-anak, karena gua lupa bawa kunci rumah, ya udah gua nginep aja di kamarnya si Alex." jelas Max.
"Trus Alex mana?"
"Seett dah lu absenin aja satu-satu. Lagi boker bocaknya sono samperin kalau gak percaya. lagian lu apa dah pagi-pagi. Gua sama si Ping juga gak sengaja ketemu karena kamar si Alex sama si Sam selantai, ketemulah kita tadi di lift, ya udah kebetulan satu jurusan, satu gedung, ada kelas sama ni pagi ini, ya udah. Apalagi?"
"Lagian gua juga nanya baik-baik, gua cuman khawatir sama si Ping doang, sorry."
"Bukan kayak gitu caranya kalau lu khawatir, gua juga bukan orang jahat. Dia juga gak kenapa-keapa sama gue. Dah ah, gua mau masuk kelas, telat ntar."
"Ya udah Ping, ayo, aku antar kamu sampe depan gedung."
"Um, gak usah Meen, gue bareng Kak Max aja, kan satu arah, ntar lu yang telat malah kalau nganter gua dulu. Thanks ya."
"Tapi Ping?"
"Gue janji ngabarin bunda sama kak Luna, lu tenang aja. oke? Bye~"
Ping menaiki motor Max, duduk di kursi belakang, dan tersenyum pada Meen. Max melajukan motornya setelah Ping duduk dengan nyaman. Meen yang belum sempat mejawab kalimat Ping hanya bisa membuang napasnya kasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHILDHOOD | MEENPING
FanficTadinya disini tuh ada deskripsi tapi gak tau dah yee kayak udeh baca aja lah yaaa... Happy reading aja dari saya. Don't forget to leave your sign, give love to meenping if you like my story woof yuuu 🐼🐺
