38 | .....

116 16 0
                                        

Ping masih berdiri di depan kaca kecil yang menghadap lorong. Bayangan Maxky sudah tidak ada. Tapi kata-katanya masih menggema di kepala Ping.

"Lo bisa percaya insting lo, kan?"

Tangannya kembali menyentuh botol minuman itu. Dingin. Masih tersegel rapi. Tapi hatinya terasa sesak.

"Kenapa gue gemeteran sih..." bisiknya pelan.

Pintu kembali terbuka pelan. Kali ini, suara langkah yang ia kenal.

"Ping?"

Suara itu—Meen.

Ping refleks menoleh. Meen berdiri di ambang pintu, keringat masih menetes dari pelipisnya. Jersey-nya setengah basah, napasnya masih berat.

"Kamu udah turun minum?" tanya Ping, buru-buru menyembunyikan botol ke bawah meja.

Meen mengangguk. Ia mendekat sambil mengelap wajah dengan handuk kecil. Tatapan matanya langsung menyapu tubuh Ping, memastikan semuanya baik-baik saja.

"Kamu pucat. Ada yang salah?" Meen mencondongkan tubuh, tangannya menggenggam bahu Ping.

Ping menggeleng cepat. Terlalu cepat.

"Enggak... cuma ngerasa agak capek aja. Tadi Sammy keluar. Trus... Vina sempat masuk."

Mata Meen sedikit menyipit. "Vina?"

"Iya. Dia bawain minuman. Katanya isotonik."

Meen memutar pandang ke meja, lalu menatap Ping.

"Kamu minum?"

Ping menggeleng lagi.

Meen menghela napas lega. Tapi wajahnya tetap tegang.

"Aku baru ketemu Sammy di lorong belakang. Dia nyari kamu, katanya waktu balik ke ruangan ini, dia nggak lihat siapa-siapa."

"Padahal Vina bilang ketemu dia..." bisik Ping, pelan.

Sunyi sejenak.

Meen kemudian berdiri, mengambil botol yang disembunyikan Ping. Ia memutar botol, membaca labelnya. Matanya berhenti di bagian bawah—label produksi setengah terkelupas, dan ada tulisan kecil yang tertimpa stiker baru.

"Ini bukan dari vending machine biasa. Ada sesuatu yang aneh." Meen berbisik.

Ping menatap Meen, matanya mulai menunjukkan ketakutan yang lebih dari sekadar rasa tidak enak badan.

"Gue harus tahu siapa yang kasih ini beneran..." gumam Meen.

"Aku udah bilang... Vina."

Meen memejamkan mata sebentar. "Aku tahu. Tapi itu justru bikin aku makin nggak tenang."

> Sementara itu, di tempat lain...

Lorong belakang stadion.

Vina berjalan cepat, memasukkan sesuatu ke dalam tasnya. Ia berhenti di pojok tangga darurat, membuka ponsel dan mengirim pesan:

[To: Unknown Contact]

Target mulai responsif terhadap zat tahap awal. Namun masih ada interferensi eksternal. Sumber Alpha prioritas terlalu kuat. Perlu pendekatan baru.

Lalu ia menerima balasan dalam hitungan detik:

[Reply]

Gunakan protokol 2B. Pisahkan target dari Alpha dalam 72 jam. Bila gagal, tarik dengan paksa.

------- ### -------

Meen duduk di sisi Ping, tak banyak bicara. Tapi matanya tak lepas dari botol itu. Ping bisa merasakan tekanan di dadanya meningkat. Bukan karena Meen. Tapi karena ketakutan yang belum bisa dia beri nama.

CHILDHOOD | MEENPINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang