34 | Susu Strawberry

652 43 9
                                        

Jam 10 malam, ini sudah memasuki batas jam malam, pastinya Sam akan diintrogasi oleh penjaga asrama kenapa bisa selarut ini dia baru kembali. Meen memilih untuk menemani Sam meski Sam sudah menolaknya.

"Sudahlah gue bisa atasin ini sendiri, lagian gue tinggal bilang aja kalau gue habis dari rumah sakit." ucap Sam sembari menahan Meen agar tidak ikut masuk ke dalam.

"Sam gue udah janji sama Ping, gue harus pastiin lu sampai ke depan pintu kamar dengan selamat. Lagian Bu Rahma kan galak, mana percaya sama lu, yang udah beberapa kali ketauna ngelanggar jam malam asrama kampus?"

"Iya sihhh, tapi kan?"

"Udeh ahhh, ntar lu kenapa-kenapa malah bikin si Ping khawatir lagi. Lu kan temen kesayagannya dia."

"Lu bukan temen kesayangannya si Ping?"

"Pertanyaan macam apa itu? Udah ah ayo masuk."

Sesuai dugaan Meen, mereka diintrogasi dengan banyak pertanyaan oleh Bu Rahma. Namun karena adanya Meen disana mampu membuat Bu Rahma luluh dan memperbolehkan si Sam untuk masuk ke kamarnya. Inilah privilage orang yang disayang sama kampus.

Meen akhirnya berpamitan dan keluar dari gedung asrama setelah memastikan Sam masuk ke kamarnya.

Dirogohnya ponsel dalam saku celana, menampilkan banyak pesan chat dari teman-temannya yang ikut khawatir dengan kondisi Ping. Dengan cepat Meen membalas pesan itu dengan jwaban singkat "Ping baik-baik aja." dan memasukkanya kembali ke dalam saku celana.

Tak lama ponselnya pun berdering panjang membuat Meen menghentikan langkahnya, memastikan siapa yang menelponnya di jam segini. Dan ternyata Dew.

"Meen? Lu dimana? Masih di rumah sakit? Beneran si Ping kagak kenapa-kenapa?" tanya Dew tanpa bernafas.

"Iya ini gue, gue ada di depan gedung asrama, habis nagnterin si Sam balik, dan Ping gak kenapa-kenapa." jawab Meen cepat.

"Ahh syukurlah, gue takut kenapa-kenapa sama tu bocah. Yang lain khawatir apalgi Vina."

"Vina?"

"Iyah, pas tau si Ping pingsan dan hampir 5 jam kita gak ada kabar apa-apa, dia nangis. Buset dahkata gue teh."

"Eh lu dimana sekarang?" tanya Meen dengan nada serius.

"Udah balik lah ege, udah jam berapa ini."

"Ah iya juga ya, sorry."

"Kenapa? Kek nya serius nih."

"Gak tau Dew, puyeng banget pala gue."

"Mau gue temenin minum?"

"Nanti aja deh, gue mesti balik lagi ke rumah sakit jemput bunda. Oh iya gue masih pinjem mobil lu dulu ya."

"Amaan, pake aja, cuman kalau tu bensin habis lu isi ya."

"Eh btw Luna gue dimana?"

"Gue masukin tu motor kesayanganlu ke dalam gedung olah raga, karena tadi hujan, solanya lu markir depan gedung, bukan di tempat parkir. Mana kagak lu titipin konci, ya kali gue doorng sampe ke parkiran."

"Oh iya, maaf kelupaan, panik anjir tadi."

"Ya udah lu hati-hati deh, kalau ada butuh apa-apa bilang aja ke gue, ya gue usahain bisa bantu."

"Iya Dew thanks ya, kalau gitu gue pergi dulu."

Meen pun mengakhiri panggilan itu, dan menyalakan mobil. dan pergi menuju rumah sakit.

Tak butuh waktu lama, Meen kini sudah berada di rumah sakit. Diketuknya pintu kamr Ping perlahan dan dibukanya Pintu dengan cat berwarna putih khas rumah sakit.

Meen yang melihat Ping masih terjaga, dan bahkan masih asik dengan ponselnya hampir berteriak memarahi anak lucu itu. Namun baru saja dia membuaka mulutnya sudah ditahan oleh suara bisikan Ping, "jangan berisik bunda udah tidur. hussstt."

Meen menoleh ke arah sofa dan benar ada bunda sedang tertidur lelap disana. Dia jadi tidak tega membangunkan bunda yang sedang terlelap. Meen akhirnya memilih untuk duduk di kursi samping ranjang Ping.

"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Meen dengan nada lembut.

"Gue bosen" ucap Ping sembari memanyunkan bibirnya.

"Ya kalau bosen tidurlah."

"Gak bisaaaaa ihhh."

"Kenapa?"

"Nggan tau."

Di tengah obrolan Meen dan Ping, terdengar suara pintu terbuka, dan itu kak Luna.

"Oh lu udah disini Meen?"

"Iya kak, niatnya mau ajak bunda pulang, tapi gak tega bangunin bunda."

"Ya udah biar bunda balik sama gue aja. Lu temenin Ping disini." Meen mengangguk.

Kak Luna dengan sangat perhatian membangunkan bunda perlahan, dan membawa semua barang-barang milik bunda.

"Meen gak apa, bunda tinggal kamu jagain Ping disini?"

"Gak apa bun. Lagian besok juga cuman ada kelas siang, Meen bisa berangkat dari sini."

"Maaf bunda ya, ngerepotin kamu mulu. Besok bunda kesini sekalian bawa makan. Papah kamu tau kamu ada disini?"

"Meen sudah telpon tadi. Mungkin jika sempat besok beliau juga keisni."

"Ya ampun."

"Apa sih bun alay banget." nyinyir Ping.

"Ih kamu nih malah ngeledek bunda," ujar bunda sedikit kesal. "Ya udah bunda pulang ya, kalau ada apa-apa telpon bunda."

"Iya bun." ucap Meen dan Ping berbarengan.

"Ya udah Meen gua anter bunda balik dulu ya, besok pagi gue juga ada jaga, jadi bisa bareng bunda kesini. Gue titip ya." Meen mengangguk.

Tak lama kepergian bunda dan kak Luna, ruangan begitu sunyi hanya terdengar suara tetesan dari infus di tangan Ping.

krruuukkkk

Suara itu berhasil memecahkan keheningan.

"Laper?" tanya Meen yang hanya dijawab anggukan oleh Ping.

"Ya udah tunggu sini ya, gue cari apa yang bisa lu makan." ucap Meen.

"Meen?"

"Hmmm?"

"Mau susu stoberi."

"Ya aku beli sekalian, mau beli berapa?"

"Dua, boleh?" tanya Ping sambil mengangkat jarinya untuk menunjukkan angka dua. Meen mengangguk.

"Meen?"

"Iya Ping?"

"Jangan lama-lama yah?"

Dengan gemas Meen mengusap lembut rambut coklat dan mendekatkan wajahnya pada wajah Ping. "Alright my little prince."

Ping tersenyum senang. Dan Meen dengan segera pergi untuk mencarikan makanan untuk Ping.



--TBC--



Maaf ya baru sempet update lagi :(

Karena lagi closingan akhir bulan dan aku baru kelar UAS jadi baru sempat melanjutkannya kembali.

Tapi tenang akan sudah mulai normal update kok, makasih ya yang udah mau menunggu dan tetap membaca tulisanku yang tidak jelas ini <3

CHILDHOOD | MEENPINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang