40 | Kenapa?

262 27 8
                                        

Lokasi tak dikenal – ruang gelap, dingin, dan bau lembap menusuk hidung.

Ping membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, dan kepala berdentum nyeri. Gelap. Hanya cahaya kecil dari sudut langit-langit yang berkelip tak stabil. Seperti lampu rusak.

Tangannya terikat di belakang. Kursi dingin di bawah tubuhnya menekan tulang belakangnya yang lelah.

Perlahan, suara-suara samar mulai terdengar.
Gemerisik kain... derap langkah lembut... dan... suara seseorang yang sangat dikenalinya.

"Ping..."

Ping menoleh cepat ke arah suara, meski kepalanya berdenyut.
Suara perempuan. Suara itu... familiar.

"Ping, lo bangun juga... akhirnya."

Langkah itu mendekat, dan dari balik bayangan—muncul sosok yang membuat Ping menahan napas.

Angel.
Kak Angel. Seniornya di klub memasak kampus. Cantik, tenang, selalu murah senyum... dan dikenal sebagai penggemar berat Meen sejak masa orientasi.

Ping menatapnya dengan campuran bingung dan takut. "Kak... Angel...?"

Angel tersenyum lembut. Terlalu lembut untuk situasi seperti ini.

"Senang juga lo masih inget suara gue. Gue pikir lu udah lupa, gara-gara kelamaan di rumah sakit, berduaan sama Meen tiap hari."

Ping berusaha meraih logika.

"Apa... ini lelucon? Kakak... ngapain di sini? Ini di mana? Kenapa gue...?"

Angel memiringkan kepala, mendekat perlahan.

"Lo tahu kenapa? Karena Gue benci sama lo."

Ping diam. Napasnya mulai tidak teratur. "Benci? Kenapa?"

"Lo masih gak tau kenapa?"

Suara Angel merendah. Ada nada getir, pahit... dan penuh obsesi.

"Karena lo selalu ada disisi Meen!"

Ping menggigit bibir. "Hah?!"

Angel tertawa kecil—ringan, namun mengerikan.

"Hei rubah kecil... Lo tau? Seisi kampus tuh suka kalau Meen sama gue, lo gak tau kalau kita dijuluki Prince and Princes kampus? Gue udah berusaha semaksimal gue buat dapetin dia, tapi lo? Apa-apaan tiba-tiba nunjukin diri lo seorang omega? Lo tuh egois, lo kalau gak suka sama Meen, dan cuman manfaatin dia, gak usah lo sampe bohong atau ubah identitas asli lo dari omega rendahan jadi beta!

"Kak... dengerin gue dulu..." ucap Ping rintih

Angel mendekat, lalu membelai pipi Ping dengan jari dingin.

"Aku cuma mau jaga Meen. Dari kamu."

Ping menepis pelan dengan bahu, panik. "Kak Angel... Kakak sakit... Ini gila!"

Tiba-tiba... suara langkah berat terdengar dari balik pintu.

Angel menoleh, lalu tersenyum lebih lebar. "Tenang saja. Kamu gak akan sendirian di sini. Mereka akan menjagamu... sampai Meen datang."

Ping membelalak. Matanya makin melebar saat sosok wanita yang sangat ia kenali muncul dibalik pintu bersamaan dengan para pria bertubuh besar. Vina.

"Vina sayang, makasih ya..." ucap Angel sembari membelai rambut Vina.

Vina hanya diam tak bersuara. 

"Lo gak mau ucapin sepatah kata sama sahabat baik lo ini Ping? Eh kalian bukan sahabta ya? teman SMA doang? BTW, dia lo yang bantu gue selama ini."

Semua ini terdengar tidak masuk diakal Ping, kenapa?

"Kak, lepasin gue gak? Kak ini sakit... Kita bisa ngobrol baik-baik. Gue juga selama ini bantuin supaya kakak deket sama Meen kan? Kalau soal gue omega, gue minta maaf."

Perlahan terdengar isak tangis dari Ping, namun Angel tak menjawab. Ia melangkah pelan ke arah pintu besi dan mengetuk dua kali. Pintu terbuka sedikit, dan dari baliknya tampak dua pria bertubuh kekar, wajah mereka tertutup masker.

Angel bicara singkat, "Jangan biarkan siapa pun mendekat... kalau tu anak berontak, lepasin aja bajunya, lakuin terserah kalian mau apa."

Lalu pintu kembali tertutup rapat.

Ping menarik napas dalam-dalam, tubuhnya bergetar. 

Pria bertubuh besar itu melangkah mendekat. Bayangan mereka membayangi Ping yang terikat di kursi. Suara tawa rendah dan ejekan mulai terdengar, memenuhi ruangan. Mereka mulai mengelilinginya, tawa mereka terdengar seperti geraman. Salah satu tangan kasar meraih dagu Ping, memaksanya mendongak. Jari-jari lain tanpa izin menyentuh bahunya, merayap turun perlahan.

"Wah, wah... lihat siapa ini," salah satu suara berat berdesis dari balik masker. "Cantik juga, mulus lagi!"

Kepanikan yang murni menyergap Ping. Matanya melebar, tubuhnya menegang di kursi. Sentuhan-sentuhan itu, tawa-tawa merendahkan itu—memicu kilasan memori yang terkubur dalam-dalam. Ruangan gelap, ketidakberdayaan yang sama, rasa takut yang menusuk tulang. Aroma lembap yang menusuk hidung bercampur dengan bau ketakutan yang tak asing. Trauma lama itu meledak di benaknya, menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.

Tangan kasar lainnya mengelus rambut Ping yang basah karena keringat dingin, lalu meluncur ke dagu Ping, memaksanya mendongak. "Manis juga, ternyata. Sayang banget kalau dibiarin!"

Isak tangis lolos dari bibir Ping, perlahan berubah menjadi rintihan, lalu jeritan putus asa.

"JANGAN SENTUH GUE!" Ping berteriak, suaranya pecah oleh ketakutan. Tapi tak ada yang peduli.

Tangan kasar itu kembali datang, kali ini menyentuh bahunya. Dan seketika... dunia Ping runtuh.

Kilat-kilat kenangan lama menerobos pikirannya—sebuah lorong gelap, tubuh yang dipaksa diam, tangan-tangan asing yang menodainya.

Trauma itu belum sembuh. Luka itu belum hilang.

Ping mulai menangis. Tubuhnya gemetar hebat, terisak hingga sesak.

"Jangan... jangan, tolong... MEEN!! MEEN!!" Ia berteriak sekencang yang ia bisa.

"MEEN!!"

"MEEN, TOLONG!!!"

Air mata mengalir deras di pipinya. Ia berteriak lagi dan lagi—namanya, satu-satunya harapan yang masih bisa ia panggil.

Tubuhnya meronta meski terikat. Panik. Putus asa. Takut. Luka lama dan luka baru bersatu menghantam jiwanya.



----- TBC -----


Sekian untuk minggu ini.

Makasih ya yang udah mau menunggu dan tetap membaca tulisanku yang tidak jelas ini <3

Big Luv

Roku~



Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 13, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CHILDHOOD | MEENPINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang