Napas itu terdengar tak beraturan saat si empunya menghentikan pergerakan. Dengan wajah merah berkilat amarah, Reyhan hunuskan tatapan tajam ke arah pria yang sudah terkapar di hadapan. Dadanya bergemuruh hebat. Menandakan emosi yang menguasai belum benar-benar usai.
"Mas, mas nggak apa-apa, Mas?"
Mang Didi yang sejak awal menyaksikan pertikaian sepasang ayah dan anak itu dengan sigap mendekat. Berniat membantu sang majikan yang terlihat kesakitan. Pria paruh baya itu tak mengerti. Semua terjadi secepat kilat. Reyhan yang awalnya ia sanggah tiba-tiba saja berlari dan melayangkan pukulan membabi buta.
Namun, bukannya menerima bantuan, Elang malah menepis kasar uluran pria itu. Meludahkan darah yang mengotori bibir untuk kemudian berdiri dengan tenaganya sendiri. Wajah pria tegap itu ikut membara, tak kalah menakutkan dari sang lawan. Sekarang, keduanya sudah saling tatap dengan amarah masing-masing.
"Lo beneran pengen mati di tangan gue?" pungkas Elang rendah. Terdengar begitu menakutkan sebenarnya. Namun, tak berarti apa-apa bagi Reyhan yang bahkan siap mati detik ini juga.
"Coba aja kalo bisa," jawabnya congkak. "Bukannya dari kecil lo selalu usaha bunuh gue? Tapi nggak bisa-bisa, 'kan? Gue tetep hidup aja, tuh. Bahkan sampe bisa mukul lo kaya barusan."
Elang tampak mengeratkan gertakan sampai rahangnya menegas sempurna.
"Cih, payah. Lawan anak haram kaya gue aja lo nggak mampu, Lang."
Seperti berada dalam kungkungan api yang membara, darah Elang mendidih seketika. Dengan membawa emosi yang sudah membumbung tinggi, ia berlari. Mengeratkan kepalan sampai otot-otot di lehernya terlihat.
Suara pukulan khas pun tak dapat dielakkan. Reyhan tersungkur, menubruk pot semen yang menimbulkan sensasi patah di area punggung. Melihat itu, si penyerang lantas tersenyum bangga. Merenggangkan otot dengan gerakan arogan.
"Anak tolol. Kalau gue mau, gue bisa bunuh lo kapan aja."
Dalam ringkuknya, Reyhan tersenyum kecil. Sambil meringis ia coba duduk. Menantang Elang dengan mata yang sudah setengah terbuka. "Bacot. Lo nggak pernah bisa bunuh gue," ujarnya diselingi batuk kecil.
"Mau bukti?"
Tanpa ragu Reyhan mengangguk mantab. Masih mengunci pandang pada sepasang netra tajam sang ayah. Demi apapun, ini adalah kali pertama ia berani menentang Elang menggunakan pukulan. Dan mungkin juga, ini adalah kali terakhir mereka bersinggungan.
"Bunuh, bunuh gue kalau lo bisa, laki-laki beban."
"APA LO BILANG? ANJING!"
Namun, entah dapat kekuatan dari mana, Reyhan dapat dengan mudah mengelak. Membuat pukulan Elang meleset menghantam pot. Darah seketika merembes dari sela punggung kepalan.
"ARGH!"
"Gue bilang apa? Gue bilang lo beban. Lo beban keluarga ini, Lang. LO BEBAN EYANG! LO CUMA BISA MENGHAKIMI ORANG TANPA MAU SADAR DIRI! LO SIKSA BUNDA GUE! LO SIKSA BATIN IBU GUE! ELO YANG TOLOL, ELANG!"
Begitu Elang lengah, Reyhan kembali membabi buta. Tak peduli akan rasa sakit yang sudah berpendar pada seluruh tubuh. Remaja kurus itu terus melayangkan pukulan hingga wajah sang lawan basah oleh darah. Persetan dengan status keluarga. Kendati darah yang sama mengalir di tubuh mereka, Reyhan merasa semua itu tak pernah berarti apa-apa dalam hidupnya.
Elang sudah sangat kewalahan. Telinganya berdenging. Tubuhnya yang sudah tergeletak lemah tak dapat berbuat apa-apa, sebab pergerakannya sudah dikunci oleh Reyhan.
"Asal lo tau, gue nggak pernah mau terlahir jadi anak lo! Gue nggak mau jadi hasil perbuatan haram lo! Gue nggak mau nanggung semua kesalahan lo! GUE NGGAK MAU!"
KAMU SEDANG MEMBACA
BoKem
Roman pour Adolescents#Sicklit #Teenfiction #Jay (Disarankan membaca Niskala terlebih dahulu) "Mereka menyebutku bocah kematian. Padahal aku hanya melakukan hal gila untuk menyamarkan lukaku." -Reyhan Pradipta Wicaksono- Most Impressive Ranking: 🏅2 in •Angst• [4/7/2024]...
