"Kamu paling dewasa di antara mereka berempat, masa nggak bisa menengahi tanpa ada tindak kekerasan? Mereka bertiga luka-luka loh ini karena pukulan kamu."
Nyaris setengah jam pria paruh baya itu menghujani Reyhan dengan siraman rohani. Tidak, lebih tepatnya menghakimi. Karena sejak awal mereka di sidak di ruang BK, hanya dirinya lah yang dituding sebagai tersangka. Tidakkah pria itu tahu jika Reyhan tengah mati-matian menahan nyeri di kedua pipinya? Mungil-mungil begitu, pukulan mereka tetap sakit.
"Pasti di sekolah lama kamu langganan BK, 'kan? Atau pindah karena memang nakal?"
Tidak di rumah, tidak di sekolah, semua orang terus berprasangka buruk padanya. Ayolah, sekali lagi Reyhan tekankan. Dia itu anak baik. Kapan, sih, Reyhan nakal? Mentok tidak memasukkan baju atau terlambat, tidak lebih. Bonus menjahili perempuan ganti baju olahraga. Tapi sungguh, Reyhan tidak bakat berkelahi.
"Jangan sementang kakek kamu punya kuasa, kamu jadi semena-mena di sini, ya, Reyhan."
Cukup, habis sudah kesabaran Reyhan. Sedari tadi ia sudah coba tahan untuk tidak menjawab. Ingin berlakon layaknya murid baru yang santun dan tidak banyak tingkah, seperti permintaan sang kakek. Namun, kalau terus disudutkan begini, mana kuat. Mental bocah kematiannya seolah terpanggil.
"Mereka yang duluan dorong adik saya, Pak."
"Terus, kamu sebagai orang yang lebih dewasa dari mereka menyikapi dengan pukulan?"
"Ya bapak kira? Aku harus diam aja adek aku didorong kaya gitu? Cih, yang bener aja."
"Sopan santun kamu minim sekali. Pindahan darimana, sih, kamu?"
"Dari mana saya pindah sama sekali nggak ada hubungannya sama masalah ini," jawab Reyhan ketus. Tiba-tiba Reyhan jadi kangen pak Sugi. Kenapa tidak semua guru BK kaya beliau saja, sih? Gendut-gendut begitu, pak Sugi tidak suka menghakimi.
Pria jangkung di hadapan tampak sedikit syok. Menatap nyalang ke arah Reyhan dengan rahang menegas. Tampak sekali ada amarah di matanya. Seumur-umur, baru kali ini ia mendapati murid baru sekeras Reyhan.
"Kamu nantangin saya? Saya bisa keluarin kamu sekarang juga dan buat kamu nggak diterima di sekolah manapun."
Reyhan tersenyum miring. Masih dengan wajah tengilnya. "Silakan, Pak. Toh penjelasan saya nggak pernah cukup buat bapak puas. Yang jelas saya nggak merasa bersalah dan nggak akan mau minta maaf. Sebelum mereka minta maaf duluan ke adik saya."
Dua pasang manik legam itu saling bertubrukan. Memaparkan kekerasan yang sama. Reyhan tak gentar sama sekali, kendati wajah bonyoknya ditikam dengan tajam oleh pria yang terkenal killer itu. Sampai beberapa detik setelahnya, sang guru tampak terkekeh.
"Kita lihat, sampai mana kamu bertahan sama sifat angkuh kamu itu."
***
Siang itu, keadaan ruang keluarga Argadana terasa mencekam. Masing-masing dari mereka memilih larut dalam lamunan, sebelum yang tertua mulai membuka pembicaraan. Bukan tanpa alasan pria tua konglomerat itu mengumpulkan istri dan kedua anak beserta pasangan mereka di sana. Ia bermaksud meluruskan sesuatu yang dianggap perlu.
"Mulai besok, Elang aktif kerja di bawah naungan Daffa."
"Aku enggak mau," pungkas Daffa cepat. Pria yang mengenakan setelan kaos oblong dan jeans panjang itu memasang raut masam. Membuat sang istri yang duduk di sampingnya sedikit was-was. Entah kenapa, Daffa tak kunjung luluh. Kendati Anin sudah memberi pengertian sedemikian rupa setiap menjelang tidur di kasur.
"Ini perintah. Papi hanya memberi tahu, bukan menyuruh kalian memilih."
"Ya udah, mending aku cari kerjaan lain aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
BoKem
Novela Juvenil#Sicklit #Teenfiction #Jay (Disarankan membaca Niskala terlebih dahulu) "Mereka menyebutku bocah kematian. Padahal aku hanya melakukan hal gila untuk menyamarkan lukaku." -Reyhan Pradipta Wicaksono- Most Impressive Ranking: 🏅2 in •Angst• [4/7/2024]...
