29. Kenakalan Reyhan

3K 343 332
                                        

"Emang ngape? Ga boleh nelpon anak sendiri?"

"Bukan nggak boleh, Nyak. Cuma ngeri aja, pan Rey belum bayar utang yang lima juta sama Enyak."

"Oh, jadi lu nuduh gue nelpon mau nagih utang? Gilak ya lu!"

Reyhan meringis di tempat. Ibu dari sahabatnya itu memang begitu sejak dulu, tak pernah berubah. Efek memiliki suami preman pasar, mungkin. Akan tetapi, galak-galak begitu, wanita yang kerap disebut nyak Wati oleh Reyhan dan Jepri itu mempunyai hati yang baik, lho! Soleha juga. Jadi jangan heran, meski tak dididik dengan baik oleh Elang dan Cantika, Reyhan tetap tumbuh menjadi anak berbudi pekerti oleh karenanya.

Nyaris satu jam kamar nuansa putih milik Reyhan terasa hangat oleh suara tawa yang bersahutan. Masing-masing dari mereka terlihat antusias meluapkan rindu yang tak sempat dilebur oleh temu. Meski hanya lewat sosial media, setidaknya jarak tak benar-benar memutus ikatan yang terlanjur ada.

"Lu kok kurusan, sih, Tong? Bapak lu nggak berubah-berubah juga, yak? Masih kaya setan suka gebukin?"

Dapat Reyhan lihat tiba-tiba Jepri turut muncul di kamera. Membuatnya sedikit gugup sebab ditatap penuh intimidasi oleh keduanya. Reyhan jadi bingung hendak memberi respon seperti apa. Toh tak menampik, ia memang sedang kurang enak badan. Semenjak tragedi patah tulang rusuk itu, ia memang tidak pernah benar-benar sehat.

"Enggak apa-apa, Nyak. Kedinginan doang ini, efek AC. Noh, gede, keliatan nggak, Nyak?"

"Buset, cakep bener. Ntu kamar lu?"

Reyhan tersenyum lebar. "Iye, Nyak. Masa kamar pembantu. Pemandangan balkonnya juga cake——"

Percakapan lantas berhenti sebab Reyhan yang hendak bangkit malah terserang batuk. Orang-orang di balik layar tentu panik, terdengar beberapa kali memanggil Reyhan yang masih sibuk mengurut dada.

"Lu ngapa dah, Tong? Lagi sakit ape gimane?"

Terpaksa Reyhan angkat lagi gawainya sambil memasang wajah terbaik yang ia punya. Tak ingin membuat ibu dari sahabatnya itu khawatir.

"Nyak, udah dulu, yak. Tiba-tiba kebelet. Nanti kapan-kapan kita sambung lagi, Rey ajak keliling online, dah!"

"Kebiasaan, ditanya apa, jawabnya apa."

Itu suara Jepri, yang entah sejak kapan sudah hilang lagi dari jangkauan kamera. Reyhan pun hanya menanggapi dengan senyuman kecil. Sebab tahu, Jepri pasti menyadari hal-hal tak biasa dari dirinya. Toh dari dulu anak itu memang terlampau peka dengan keadaan.

"Nyak, bilangin sama Jepri jangan suka marah-marah. Ntar bijinya numbuh satu lagi."

"Dia mah gitu sesudah lu pindahan. Kerjanya marah mulu. Sekarang jadi anak rumahan, jarang keluar. Kaya anak-anak terompet."

"INTROPERT, NYAK!"

"Dosa lu bentak-bentak orang tua lu!"

"Ya gimana, orang tuanya mancing dosa mulu."

Reyhan spontan melepas tawa. Sudah lama rasanya tidak melihat perdebatan anak dan ibu itu lagi. Ah, Reyhan jadi merindukan kota Jakarta. Di sana terdapat orang-orang baik yang ikut andil dalam kehidupannya. Termasuk Jepri dan kedua orang tuanya.

Setelah panggilan benar-benar berakhir, Reyhan pun lekas mencari obat untuk ditenggak bersama air yang memang tersedia di nakas. Sambil menunggu reaksi, ia pun duduk bersandar. Masih dengan tangan yang bertengger di dada. Ah, hendak bernapas dengan benar saja rasanya sulit.

"Dibawa nyebat enak kayanya, nih. Kecut bet mulut," monolognya pelan.

Namun, naas. Reyhan harus menelan kekecewaan sebab rokok yang ia beli dua hari lalu itu hanya tersisa bungkusnya saja di dalam nakas. Remaja kurus itu spontan mengeluarkan debas. Kembali duduk di pinggiran kasur.

BoKemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang