1. Bocah Kosong

5.9K 327 95
                                        

Pagi ini, matahari menggantung dengan sangat cerah di langit Jakarta. Teriknya seolah menguasai, membias ke sebuah bangunan sekolah swasta yang terletak di tengah kota. Di salah satu sudut yang ada di sana, terdapat dua insan sedang melakukan negoisasi. Satu di antaranya adalah seorang remaja laki-laki berperawakan tinggi, berkulit putih, hidung mancung, bibir mungil, rambut berantakan, baju seragam yang keluar dari celana, dan memakai kaus kaki hitam. Sedang satu yang lain tampak gagah dengan seragam PNS yang melekat di tubuh gempalnya.

"Jangan bikin saya makin naik darah. Pergi nggak kamu?"

Remaja yang diketahui bernama Reyhan itu garuk-garuk kepala belakang dengan ekspresi tolol. "Nyapu deh pak, nyapu. Jangan hormat, ya? Panas."

Pria berkumis di hadapan merespon dengan mimik marah. Bola matanya melotot seperti mau keluar. Kalau saja mereka sedang dalam dunia komik, mungkin sudah ada api mengepul di atas kepala pria itu.

"Kok jadi kamu yang ngatur-ngatur? Memangnya sekolah ini punya bapak kamu?"

"Aelah, kata-kata bapak jadul parah. Nggak berkembang. Pasti bapak suka nonton FTV SCTV, kan?" Tak memberi kesempatan sang lawan untuk menjawab, remaja kerempeng itu kembali buka suara. "Kan, keliatan banget dari mukanya. Penggemar Dinda Azani."

"Eh, kamu tau Dinda Azani?"

"Ya tau lah. Yang bibirnya seksi itu, kan?"

"Iya. Cantik banget, ya, dia. Udah nikah, udah punya anak juga, tapi masih cakep pol."

Ya Tuhan, lihatlah betapa asik obrolan mereka sekarang. Guru BK yang biasa dikenal kejam itu tampak tertawa lepas menikmati jokes kematian Reyhan. Padahal jam pelajaran pertama sudah dimulai. Siapapun, tolong sadarkan pria gempal itu!

"Saya denger-denger kan, Pak, dia mau bel—"

"HEH!" Seperti baru saja terbangun dari pengaruh hipnotis, pria yang diketahui bernama pak Sugi itu langsung memasang raut sangar seperti sedia kala. "Kamu saya suruh hormat bendera, ya tadi!"

"Aelah, Pak. Ganti ngapa dah, nggak solid banget jadi sesama fanboynya mbak Dinda."

"Nggak usah sok asik. Saya nggak merasa satu circle sama kamu."

Mendengar itu, Reyhan langsung memandang pak Sugi dengan ekspresi takjub . "Anjai, circle. Menyala bapakku ...."

"Menyala, menyala, kebakaran! Udah sana. Kamu mau saya berubah pikiran ubah hukumannya jadi nyikat pager pake sikat gigi? Mau?"

Tak ada lagi yang bisa Reyhan lakukan selain patuh. Meski gampang dijahili, pria yang di mata Reyhan mirip suami Inul Daratista itu sangat tidak berperikemanusiaan, asal kalian tahu. Tidak menaruh toleransi sedikitpun perihal pelanggaran. Sekejam itu. Makanya dijuluki pak lampir sama anak-anak.

Dan akhirnya, Reyhan terpaksa berakhir di sana. Di bawah tiang bendera. Tubuh kurusnya yang terasa panas disengat terik matahari terus menggeliat tak mau diam. Alih-alih hormat, tangan kanannya malah ia gunakan untuk memaju-mundurkan seragam bagian depan. Berniat menciptakan angin, meskipun sebenarnya malah tambah gerah.

"Panas pagi kali ini sangat sehat dan juga mematikan, ya, saudara-saudara," monolognya misuh-misuh.

Di menit ke tiga puluh, Reyhan masih merasa aman. Tidak ada yang terjadi selain gerak-gerik gelisah bak ulat bulu. Namun, tidak di menit ke empat puluh tujuh. Reyhan merasa kepalanya mulai keliyengan. Yah, darah rendahnya memang tak pernah mau diajak berteman lama-lama dengan panas matahari. Puyeng, Cuy.

BoKemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang