1382 Çaka
Ketika keseharian cuma belajar dan belajar, tak terasa waktu bergulir lajak bagai panah melesat, tahu-tahu Jaka Banyu menapaki usia lima belas. Suaranya lebih dalam, tubuhnya makin kekar. Tingkat demi tingkat ia jejaki dalam dunia persilatan hingga mampu menyusul para cantrik seumuran yang lebih dulu masuk padepokan.
Kalau Jaka Banyu unggul dalam ilmu bela diri, maka lain dengan Haryang. Ia ulung dalam pelajaran teori dan olah batin, menangkap cepat saat Dang Acarya maupun Danuja menjelaskan tentang kitab-kitab yang mesti dipelajari.
Jaka Banyu kerap disanjung saat mempraktikkan jurus yang dikuasainya, tetapi sering mendapat sabetan tongkat tiap tidur di pelajaran olah batin. Sementara itu, Haryang sering dipuji lantaran menguasai isi berbagai kitab suci maupun sastra, tetapi kerap cedera saat terjun ke lapangan.
"Jika kalian memasuki ranah istana, sepantasnya Haryang menjadi ahli siasat sementara Jaka Banyu jadi panglima," tutur Dang Acarya pada suatu malam. Ia duduk di dipan Danuja karena pondok itu hanya memiliki dua ruang—untuk tidur dan untuk masak.
Guru berpakaian kasaya putih itu menatap tiga muridnya bergiliran di ranjang seberang. Meski netranya sudah mengabur tergerus usia, ia paham betul bagaimana sorot mata mereka yang menjadi jendela bagi Dang Acarya untuk mengintip pikiran terdalam ketiganya.
"Lalu Danuja jadi apa?" celetuk Jaka Banyu tanpa sungkan.
"Tentu saja Danuja menjadi Patih," jawab sang guru.
"Itu hanyalah ibarat. Rasanya mustahil kami dapat menjejaki lantai istana." Danuja meluruskan maksud gurunya.
"Tak ada yang mustahil jika sudah takdir."
Sementara mereka masih berandai-andai, Haryang menanti sang guru menyampaikan maksud utama kedatangannya malam-malam ke pondok mereka. Alhasil, Dang Acarya tersadar oleh helaan gusar lelaki berambut sebahu itu.
"Pemerintah Kembang Jenar kembali meminta kita bergabung dengan prajurit mereka." Raut Dang Acarya tampak serius.
"Untuk memberontak?" Haryang bergidik, hendak mengundurkan diri setelah trauma melawan Tapak Dara.
"Benar. Dan aku sangat menaruh harapan pada kalian."
"Aku, lebih baik menyalin kitab ratusan halaman dibanding memberontak."
"Tak ada pilihan, Haryang. Aku pun tak membenarkan tindakan makar itu. Tapi aku tak punya kuasa untuk menentang pemerintah."
***
Di tengah kesenyapan puncak malam, Jaka Banyu dan Haryang sembahyang di dalam pura padepokan. Aroma kembang dan kemenyan bakar membaur dengan bebauan pinus yang dibawa angin dari puncak Rogojembangan.
Seusai sembahyang, mereka langsung kembali ke pondok lalu tidur. Dalam tidurnya Jaka Banyu memimpikan Nyai Bagelen bersila di dalam gua.
Bangun-bangun, langit masih hitam dan lampu teplok menyala temaram. Jaka Banyu mengguncang tubuh kakaknya hingga terbangun dengan raut dongkol.
"Aku hendak bicara serius."
"Besok saja." Haryang memunggungi adiknya.
"Aku tahu kau enggan ikut pemberontakan. Ikutlah bersamaku mencari Nyai Bagelen," bisik Jaka Banyu di telinga Haryang.
"Jangan gendeng, Banyu. Kita masih cantrik Dang Acarya. Dulu kau diampuni, bukan berarti kau dapat seenaknya lagi," balas Haryang berbisik sambil menukikkan alis.
"Aku sudah tahu keberadaan Nyai Bagelen. Ini kesempatan bagus. Aku tak mau mati konyol sebagai pemberontak."
"Kalau kau kabur, sama saja kau memberontak pada Dang Acarya. Nanti aku yang diinterogasi."
"Makanya lebih baik Kakang ikut aku."
"Lebih baik katamu? Lebih baik aku mati di medan laga sebagai pejuang, ketimbang jadi pengecut yang sedikit-sedikit lari."
Hati Jaka Banyu laksana tertikam belati. Ia menatap kecewa Haryang yang balas menatapnya bengis.
"Apa yang merasukimu, Kakang?"
Belum sempat Haryang menjawab dengan suara lantang hingga membangunkan Danuja, Jaka Banyu terlebih dahulu melesat keluar sambil menyambar oncor yang diikat di tiang pondok. Ia terus melaju, mengabaikan suara Danuja yang samar-samar memanggilnya untuk kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaka Banyu
Historical FictionHanya Jaka Banyu yang berani mengusik pertapa menggunakan kentungan. Ia hendak mengusut masa lalu sebelum pertapa itu moksa, hilang takkan bereinkarnasi lagi. Namun jika salah orang, apa yang bakal dilakukan pertapa itu untuk melampiaskan amarahnya...
