Ia rasakan betapa hampa menjadi Nyi Kusuma. Memanglah banjir penghormatan dan keseganan, tetapi apa arti itu semua jikalau tak punya teman bicara?
Karib yang dimiliki Bagelen cuma arang dan daluang, yang menjadi saksi betapa keruntang-pukang isi hatinya setelah peristiwa gagal moksa bertahun-tahun silam.
Jaka Badung, Jaka Sedeng, Jaka Banyu. Apa pun sebutannya, aku membenci pemuda botak itu. Ia memupuk rasa bersalah di hatiku akibat ucapanku yang menyakiti hatinya. Ia yang memulai perkara, akulah yang mesti menanggung akibat. Ia berhasil mendirikan padepokan, sementara aku semakin hancur dalam penyesalan.
Bagai pujangga kehilangan lembar naskah yang sebentar lagi rampung, aku hampir gila saban teringat jalan moksaku yang dicerai-berai oleh Jaka Banyu.
Aku luntang-lantung, tak lagi punya ambisi.
Jaka Banyu, anak ingusan yang dulu kubuang ke kali, sekarang sanggup memorak-porandakan kewarasanku.
***
Maraknya padepokan baru di Kembang Jenar menimbulkan prasangka dari pihak Majapahit. Kerajaan rapuh yang tengah dipimpin Sri Prabu Girishawardhana Dyah Samarawijaya itu menyebar telik sandi untuk mengawasi kegiatan di setiap padepokan. Tak mendapati aktivitas berbau pemberontakan, para telik sandi pun beralih tugas untuk memata-matai Kedaton Kembang Jenar yang tengah sibuk melatih ribuan prajurit. Bukti itu sudah cukup bagi Girishawardhana menggarisbawahi Kembang Jenar hendak makar.
Di sisi lain, Dang Acarya Bawunan telah membaui aroma darah saat telik sandi dikirim ke Rogojembangan. Sebagai mahaguru padepokan tersohor se-Kembang Jenar, ia tak mau diam berpangku tangan. Rahasia umum bahwa Majapahit tak segan membantai kelompok yang dianggap mencurigakan. Dang Acarya tak mau padepokan yang dirintisnya dari nol itu mati secara konyol.
"Majapahit sudah mengendus pemberontakan Kembang Jenar. Mau tak mau kita harus ikut mempertahankan tanah air kita," ucap Dang Acarya saat mendatangi Danuja di pondok pasraman.
"Sebagian prajurit kita sudah dibawa ke istana. Jika semuanya ikut ke sana, siapa yang akan menjaga padepokan?" jawab Danuja.
"Urusan padepokan sudah tak penting, Danuja. Sekejap lagi bakal ada peperangan. Percuma kita di sini, Majapahit tetap menganggap semua orang Kembang Jenar sebagai pemberontak. Padepokan ini akan jadi arang."
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Bujuk Nyai Bagelen dan Jaka Banyu untuk bergabung dengan kita, ke istana. Hanya padepokan mereka yang masih berjalan sendiri. Padepokan lain sudah diboyong ke sana."
Danuja mengorek telinganya barangkali salah dengar. Membujuk dua orang berkepala batu? Yang benar saja! Danuja lebih memilih bertanding dengan Dang Acarya ketimbang bicara dengan Bagelen, apalagi Jaka Banyu!
"Mikir apa kau?! Cepat laksanakan perintahku!"
Danuja memacu kudanya sambil menggerutu menuju timur. "Sudah tua, banyak maunya. Sukanya menunjuk-nunjuk, giliran ditunjuk balik murka."
Danuja mesti diberi aplaus atas betahnya menjadi murid Dang Acarya Bawunan selama hampir satu dasawarsa. Cantrik lain paling lama hanya bertahan enam tahun, selebihnya kabur, membelot ke padepokan lain yang lebih tenteram akibat gurunya tidak bacar.
Tiba di gapura Tapak Dara yang berbentuk candi bentar, Danuja merapatkan seragam hitamnya sambil mengusap ketiak. Ini adalah ujian berat baginya; membujuk pemarah yang tahu titik lemahnya. Danuja merinding mengingat sensasi terbakar ketika kuku Bagelen menancap di ketiaknya.
"Cari siapa, Kisanak?" Kerumunan cantrik mendekat malu-malu pada Danuja yang tengah bergidik ngeri.
"Nyai Bagelen, ada?"
"Apakah Kisanak utusan dari kedaton? Maaf, Nyai Bagelen tidak mau bertemu dengan orang kedaton."
"Bukan. Aku temannya," helat Danuja supaya Bagelen mau keluar.
Para cantrik itu pun berlalu ke dalem sambil cekikikan memuja ketampanan Danuja. Maklum, tinggal di pasraman putri membuat mereka tak pernah melihat lelaki.
Bagelen setengah hati menghadap seseorang yang mengaku-aku temannya itu. Ia tak punya teman kecuali Menik. Apakah Menik hendak memberi kejutan padanya?
Srikandi berkebaya putih dan bertusuk konde naga itu terkesiap melihat sosok Danuja yang pernah ditundukkannya di perbatasan. Nekat sekali ia menampakkan diri di Tapak Dara. Bagelen berusaha ramah, menyunggingkan senyum yang tampak ganjil di konturnya yang tegas.
Danuja kian merinding melihat Bagelen menyeringai seakan siap melahapnya hidup-hidup. Langsung saja ia utarakan niat untuk mengajak Tapak Dara bergabung dengan Rogojembangan, demi membantu prajurit kedaton.
Senyum Bagelen pudar. Danuja merasakan atmosfer panas yang menguar dari tatapan Bagelen. Sejurus kemudian, perempuan itu melakukan hal serupa yang dilakukannya pada Senggana—menotok ulu hatinya. Namun, Danuja gesit berkelit. Terjadi baku hantam sengit yang menerbangkan debu di bawah mereka.
"Cukup! Aku belum selesai menjelaskan!" ujar Danuja seraya menangkis kepalan tangan Bagelen yang siap meremukkan hidungnya.
"Aku sudah muak mendengar kedaton, kedaton, dan kedaton!"
Danuja melongo mendapati perubahan Bagelen yang mendadak. Pukulan brutal itu berganti menjadi tangisan. Bagelen berjongkok, menanam wajahnya di telapak tangan.
"Aku cuma ingin bernapas tenang di Tapak Dara. Bisakah jangan membahas soal istana? Bibirku sampai keriting menolak berurusan dengan kedaton."
Danuja masih kebingungan mengambil sikap. Ia tak menyangka Bagelen bisa menangis, di depan musuhnya pula. Danuja hampir saja mengusap punggung Bagelen, tetapi ia ingat hubungan mereka masihlah sebatas lawan, bukan kawan.
"Jika Nyai tidak mau bergabung, sama saja Nyai cari mati. Majapahit sudah menekankan bahwa Kembang Jenar memberontak. Mereka takkan percaya pada kita. Satu-satunya jalan adalah bergabung dengan istana Kembang Jenar untuk mempertahankan diri kita sendiri dari pembantaian." Danuja menahan diri untuk tidak bersimpati pada perempuan yang pernah melukai ketiaknya itu.
"Benarkah Kembang Jenar sudah segenting itu?" Bagelen mendongak, air mata masih membanjiri pipinya.
Danuja salah tingkah ditatap seperti itu. Ia mengalihkan perhatian, menahan diri untuk tak terlena pada paras merona Bagelen akibat menangis. Dan mata itu, mata berkaca-kaca yang membuatnya merasakan kerapuhan seorang Nyai Bagelen. Mengapa perempuan itu menampakkan sisi lemahnya di hadapan Danuja? Bukankah mereka musuh yang tak seharusnya melihat kelemahan satu sama lain?
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaka Banyu
Ficción históricaHanya Jaka Banyu yang berani mengusik pertapa menggunakan kentungan. Ia hendak mengusut masa lalu sebelum pertapa itu moksa, hilang takkan bereinkarnasi lagi. Namun jika salah orang, apa yang bakal dilakukan pertapa itu untuk melampiaskan amarahnya...
