Haryang menyeret langkahnya menuruni Rogojembangan untuk kembali ke rumah. Gemblengan dalam dunia pendekar tak cuma membuat fisiknya kelelahan, tetapi juga guncangan terhadap mentalnya. Ia menepis malu untuk bertemu bapa-biyung demi keberlangsungan nyawanya sendiri.
Bayangkan, saban hari ia mesti tumbang dalam bela diri. Tak hanya sekali-dua kali ia muntah darah akibat disodoki tenaga dalam. Bukan itu saja, ia harus melewati ujian kekebalan dengan mematahkan balok kayu menggunakan kepala, yang pada akhirnya membuat jidatnya benjol. Belum lagi ujian lain, seperti berbaring di atas paku atau berdiri di atas bara api.
Haryang terlalu payah untuk menjadi pendekar.
"Argo Jambangan marah apabila kau pergi, Nak."
Haryang tertegun mendapati kemunculan wanita berbusana serba kuning yang menaiki kijang emas.
"Siapa Nyai?!" Haryang menukikkan alisnya.
"Aku Tumpak Manis, utusan Nyai Roro Lor Stri Dyah Kaniraras yang ditugaskan menjaga Argo Jambangan."
"Maaf, aku tak punya urusan apa-apa dengan Nyai. Permisi," pungkas Haryang sebelum ukuran si kijang membesar hingga menutupi jalannya.
"Putraku, Haryang Sri Harimbyat Maja. Anakmas ialah anak Argo Jambangan yang terlunta-lunta demi mencapai kemenangan. Jalani kesengsaraanmu, Nak. Kelak kau akan menemukan kemuliaan jati diri yang bersembunyi dalam raga lemahmu. Satu hal lagi, jangan tinggalkan Argo Jambangan dalam waktu yang lama, karena Kembang Jenar takkan baik-baik saja bila kakimu tak lagi menjejaki tanah Argo Jambangan."
"Haryang Sri Harimbyat Maja." Netra Haryang berkaca-kaca saat membisikkan nama itu, seakan ada bagian tersembunyi dalam dirinya yang terbebas dari belenggu tak kasatmata.
"Itu asmamu di kalangan kami, Nak."
"Kenapa bisa begitu? Apakah aku anak buangan seperti Jaka Banyu?"
Perempuan itu mengibaskan selendang kuningnya hingga kabut perlahan-lahan melingkupi mereka. Tak ada lagi raut ramah di parasnya setelah mendengar nama Jaka Banyu—atau pada bagian anak buangan.
Suara dinginnya menjawab, "Bersikap baiklah pada saudaramu. Kalian memiliki hari weton yang sama. Gunakan hari itu untuk memulai perjalanan menuju kemuliaan, bukannya dipergunakan untuk berseteru. Ingat, jangan lama meninggalkan Argo Jambangan!"
"Kami tak tahu hari lahir kami."
"Adalah perwujudanku."
Nyai Tumpak Manis turun dari kijang kencana raksasa dengan indah laksana meluncur di atas pelangi yang adiwarna. Ia kemudian memeluk Haryang yang memejamkan mata dalam kenyamanan hingga matanya terbuka dalam keremangan gua.
"Kita akan meresmikan padepokan kita di hari Tumpak Manis⁹."
***
Kecerdasan Kaniraras dianggap malapetaka bagi penduduk Kali Puring. Pasalnya, Kaniraras sudah berani unjuk diri dengan menghasut anak-anak untuk meninggalkan tradisi menyembah arca yang disebut-sebut sebagai Dewa itu.
"Jawa harus tetap jadi Jawa. Leluhur kita tidak mengajarkan untuk menyembah benda apa pun. Kita beribadah pada Sang Hyang Taya!" seru Kaniraras saat mendapati para tetangganya berkumpul di halaman dengan membawa oncor serta senjata tajam.
"Halah! Tahu apa kau soal leluhur?!" Balasan itu disambut riuh dan acungan senjata yang siap membinasakan Kaniraras.
"Justru kalian yang tak tahu bagaimana leluhur hidup dalam guyub rukun. Mereka sama-sama menyembah—"
"Buktikan! Tunjukkan yang namanya Sang Hyang Taya itu!"
Ludah tercekat dalam tenggorokan Kaniraras. Inilah tantangan yang ditakutkan sekaligus ditunggu-tunggunya.
"Sang Hyang Taya adalah suwung, tan kena kinaya ngapa. Tak dapat dilukiskan, dibayangkan, maupun dibandingkan."
Muak mendengar ocehan yang dianggapnya tak bermutu, salah satu warga melempar senjata kujang tepat mengenai buah dada Kaniraras. Tak memekik, perempuan malang itu berlutut sambil mencabut senjata kecil yang sanggup mengambil darahnya.
"Mana? Tuhanmu tak menyelamatkanmu, kan? Habisi saja penghasut anak-anak ini!"
"Habisi!"
"Habisi!"
Mereka melempari rumah Kaniraras dengan oncor hingga sang jago merah melahap habis bangunan dari anyaman bambu beratap ijuk itu.
Kaniraras berlari sempoyongan menjauhi massa yang terbahak laksana iblis di tengah kobaran api neraka. Tak lama berselang, para manusia berjiwa iblis itu mengejarnya sambil mengacung-acungkan senjata kebanggaan.
Kaniraras berjongkok di balik tetumbuhan puring seraya memegang buah dadanya yang bersimbah darah hingga menitik di sepanjang jalan. Napasnya tersendat-sendat, rintihan sakitnya teramat menyayat. Ia tak mampu menyeberangi Kali Puring, hingga para warga menyusulnya untuk menghadiahi tikaman demi tikaman sampai raganya tak mampu lagi menampung nyawa.
Perempuan malang itu didepak ke Kali Puring, karam terselimut pekatnya merah yang menggerogoti kejernihan tirta nirmala, mengantar Kaniraras dalam arus pelarungan yang berujung di laut utara.
Saat anak-anak mendapati sudung Kaniraras menjelma jadi arang, para orang tua mengurung mereka selama sepekan penuh di rumah selagi arca dipahat secara sembunyi. Hingga pada puncaknya, yuwana-yuwani lugu itu diperlihatkan arca perwujudan Kaniraras di tepi Kali Puring.
"Nyai Kaniraras dikutuk karena menyesatkan anak-anak." Begitulah alibi yang dibuat orang-orang dewasa untuk menutupi kriminalitas mereka.
Jiwa malang yang menyatu dengan samudra itu pun kelak menjaga Laut Utara dengan nama Nyai Roro Lor Stri Dyah Kaniraras.
Kesari sesenggukan meratapi nasib Kaniraras yang sama sekali tak adil. Rupanya kedunguan sudah mendarah daging di wilayah ini sejak dahulu kala. Dan tak ada yang mau mengulurkan tangan untuk menyambut perbedaan keyakinan.
"Kesari! Sadarlah!" Haryang mengguncangkan Kesari yang isaknya tak kunjung reda.
"Kali Puring. Kita akan mendirikan Padepokan Kali Puring. Kita mesti mencari tempat itu."
_______
⁹ Tumpak Manis : Sabtu Legi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaka Banyu
Ficción históricaHanya Jaka Banyu yang berani mengusik pertapa menggunakan kentungan. Ia hendak mengusut masa lalu sebelum pertapa itu moksa, hilang takkan bereinkarnasi lagi. Namun jika salah orang, apa yang bakal dilakukan pertapa itu untuk melampiaskan amarahnya...
