Jaka Banyu memutar tubuhnya searah jarum jam, menilik rumput manila berlumur darah yang sekonyong-konyong jadi permadani para kesatria bertampang kusut. Inilah buah keegoisan Bhre Kembang Jenar yang kini duduk manis di kedaton. Inilah tumbal yang disodorkan Bhre Kembang Jenar demi kursinya lepas dari Majapahit dan segala pajaknya.
Para kesatria kembang kempis dengan luka arang kranjang¹⁶ yang lekas diobati tabib. Mentari telah aram temaram, kobar menjilat di beberapa sudut akibat prajurit Bhayangkara berusaha membakar alun-alun. Kesatria Kembang Jenar yang cukup sehat menjejak-jejak titik api itu hingga padam. Sang penabuh genderang sekaligus gong—seorang wanita paruh baya— turun dari pohon beringin kemudian memapah yang sakit ke kaki beringin untuk rebah tanpa kuatir terinjak.
Bau anyir, asap, keringat. Kidung sigasir tak dapat terdengar lantaran alun-alun dipenuhi denting senjata yang digeletakkan di tanah. Bagi prajurit yang sempat membersihkan diri, mereka pergi ke kali. Bagi yang telanjur penat, langsung masuk ke tenda di sudut tenggara alun-alun yang bersih dari darah.
Jaka Banyu menggamit Kesari yang masih terisak-isak ke tenda. Perut mereka memang melilit lapar, kerongkongan memang kering kelontang. Namun, hati keduanya merana melebihi apa pun. Tiga Serangkai. Apa makna julukan itu jika Haryang telah tiada.
Begitulah awal mula ikatan Jaka Banyu dan Kesari menggeliat. Perasaan senasib juga takut kehilangan membuat keduanya menegarkan satu sama lain, bahkan tiap bertempur pun mereka selalu bersisian. Gelaran perang jadi berantakan selepas sang senapati dirawat dalam kereta, menjadikan gelaran Pasir Wutah yang tak mengindahkan aturan.
***
Tak punya teman dekat membuat Bagelen selalu menyendiri. Saat yang lain tidur berjajar dengan kawan di dalam tenda, Bagelen memisahkan diri di bawah pohon beringin tunggal yang mendiami tenggara alun-alun. Bramastana itu sama sepertinya. Sendiri.
Sebuah tangan menyodorkan gelas bambu. "Haus?"
Dengan kerlingan anggara yang menjadi ciri khasnya, Bagelen menyambut gelas itu kemudian mereguknya hingga tandas.
"Tak kusangka, kita adalah lawan yang jadi kawan." Danuja selonjoran di samping perempuan berambut dilapih kelembai yang tengah menatap awan pekat berhias lelatu¹⁷ pembakaran jenazah.
"Setidaknya aku tahu titik lemahmu," sahut Bagelen.
Darah Danuja naik meronai mukanya seperti udang dipanggang kala teringat kejadian sekian warsa lalu, di mana ia bertekuk lutut pada perempuan itu demi mendapat ampunan.
Tak mendapat sahutan, Bagelen merebahkan diri berbantal lengannya. Ia sibuk menghitung bintang saat Danuja ikut rebah di sisinya.
"Ada bintang berekor, Bagelen!" Danuja menunjuk bintang jatuh yang sekejap lenyap dari pandangan. Ia memejamkan mata sambil menyatukan tangan, berdoa supaya Kembang Jenar lekas meraih kejayaan.
Ia menengok pada Bagelen yang terlelap dengan napas teratur. Waktu emas bagi Danuja untuk menekuri paras jelita dengan alis laksana taji dibentuk itu. Tak terasa tangannya bergerak menuju dagu sang Srikandi Tapak Dara untuk mengusap jelaga kotor, tapi malah membuat bibir kemerahan itu sedikit terbuka.
Danuja tak mampu melawan dirinya sendiri untuk mencicip hal termanis yang pernah dikecap lidahnya. Ia sudah siap menerima tamparan Bagelen saat perempuan itu membuka mata. Namun, justru ia mendapat balasan yang lebih membara, yang membuat darahnya menggelegak, yang membuat ia percaya diri menaklukkan perempuan seteguh baja itu.
***
Boleh saja Prabu Girishawardhana menyepelekan Kembang Jenar, tapi tidak dengan senapati dan pejuangnya yang memiliki gegayuhan¹⁸ mengalahkan Bhayangkara demi keselamatan keluarga mereka di rumah. Namun, karena gelaran Acala yang kemudian jadi Pasir Wutah tak kunjung menumpas Bhayangkara, maka senapati—yang perutnya baru dibedah akibat tergores keris beracun—berunding dengan bekel, lurah prajurit, serta para ketua padepokan di dalam tenda.
Satu orang dari tiap padepokan sepakat untuk berselindung pergi ke laut, gunung, dan tempat-tempat sakral yang konon dijaga leluhur. Termasuk Janaka yang diutus Jaka Banyu untuk bertirakat di tepi Kali Puring. Mereka melakukan ritual untuk meminta restu alam supaya kejahatan yang membantai tanah air mereka segera lenyap. Cara ritual itu biarlah menjadi rahasia mereka.
Kekayaan Nusantara mesti digunakan. Makhluk astral yang kerap hadir mengiringi kesenian kuno pun tergugah untuk turut serta menikmati kesenian berdarah di alun-alun. Betapa girang mereka mendapat undangan tersebut, berduyun-duyun ke sana, menyaksikan manusia-manusia yang sering memberi mereka sajen kini mati satu persatu di bawah kaki Bhayangkara. Murkalah makhluk-makhluk itu, menembus para kesatria berbaju kuning untuk masuk ke tubuh lawan. Tak cuma merasuk, makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya itu mengendalikan inangnya untuk menusuk diri dengan senjata yang dipegang. Tombak, keris, kujang, trisula, pedang, parang, jemparing. Senjata makan tuan.
Pasukan Kembang Jenar melongo saat lawan sekarat akibat senjatanya sendiri. Peristiwa misterius itu dengan cepat disadari beberapa Bhayangkara yang tersisa. Mereka memagari diri dengan mantra, membuat makhluk-makhluk sehalus angin itu kocar-kacir kembali ke belakang prajurit Kembang Jenar.
Meski Bhayangkara yang tersisa berhasil membuat tameng, mereka tetap kalah jumlah. Tinggal menunggu waktunya mereka kelelahan dan tumbang satu persatu. Sebelum itu terjadi, senapati mereka keburu mengisyaratkan untuk angkat bendera putih.
Sorak-sorai pasukan Kembang Jenar laksana ikan masuk penggorengan. Jaka Banyu dan Kesari berpelukan, Danuja membelah lautan pasukan untuk menemui Bagelen sekadar berjabat tangan atas perjuangan mereka yang berbuah manis.
Alam sudah terlalu sering memihak kemenangan Majapahit. Kini saatnya Kembang Jenar mendapat giliran. Bahana yuda yang dilumuri anyir darah dan atmosfer magis itu usai sudah, Kembang Jenar akan resmi berdiri dalam kemerdekaan.
_______
¹⁶ Arang kranjang : Luka yang sangat banyak di tubuh, seperti banyak lubang pada keranjang.
¹⁷ Lelatu : Bunga api.
¹⁸ Gegayuhan : Keinginan, ambisi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaka Banyu
Historical FictionHanya Jaka Banyu yang berani mengusik pertapa menggunakan kentungan. Ia hendak mengusut masa lalu sebelum pertapa itu moksa, hilang takkan bereinkarnasi lagi. Namun jika salah orang, apa yang bakal dilakukan pertapa itu untuk melampiaskan amarahnya...
