29. Haryang Sri Harimbyat Maja

202 39 4
                                        

Prabu Girishawardhana menyetujui perjanjian yang diajukan Bhre Kembang Jenar, yang isinya : Apabila Kembang Jenar mampu mengalahkan prajurit Majapahit, maka Kembang Jenar berhak lepas dari Majapahit dan Majapahit tak berhak membuat huru-hara atau pun mengirim bala bantuan untuk memorak-porandakan Kembang Jenar. Namun, apabila Kembang Jenar kalah, maka Majapahit berhak mengadili semua orang yang memiliki darah Kembang Jenar.

Kala isi perjanjian diwartakan dari mulut ke mulut hingga sampai di telinga sudra Kembang Jenar, merekalah yang paling nelangsa. Mereka yang tidak tahu apa-apa pun bakal diadili jika Majapahit menang. Sementara itu, Prabu Girishawardhana sangat optimis pihaknya akan meraih wijaya. Pasukan Bhayangkara, meski tak segagah zaman Hayam Wuruk, masih tetap Bhayangkara. Jika sudah berada di medan laga, maka tindak tanduk mereka laksana gajah mengamuk. Melawan pendekar kelas teri dari negeri vasal sekecil Kembang Jenar amatlah sepele.

Buda Palguna atau Rabu Pon adalah hari penentuan laga di alun-alun Kembang Jenar. Hampir tiga ribu prajurit berbusana kuning prayitna menanti kedatangan Bhayangkara dalam posisi Acala wyuha¹⁴. Buku jari pasukan infanteri memutih, saking eratnya genggaman pada gendewa maupun tombak perisai. Mereka, termasuk Haryang dan Kesari adalah barisan yang siap mati paling awal. Di belakangnya, pasukan penunggang gajah siaga meniup trompet apabila lawan sudah terlihat di kejauhan. Dang Acarya Bawunan ada di antaranya bersama senapati dan bekel. Barisan selanjutnya, pasukan berkuda yang didominasi lurah prajurit dan pendekar tingkat atas— Jaka Banyu, Bagelen, dan Danuja ada di antaranya. Di barisan paling belakang, para tabib menyiapkan alat pengobatan di dalam kereta kuda.

Semua cantrik maupun pemuda biasa ditarik sejak jauh-jauh hari untuk dilatih olah keprajuritan. Tak sedikit di antaranya ketar-ketir saat terjun laga—termasuk Haryang yang berada di barisan depan.

Selepas pataka merah putih dari Majapahit terlihat, pasukan gajah membunyikan trompet kerang, kemudian gemuruh tapak kuda Bhayangkara memasuki alun-alun. Genderang dan gong dipukul memekak telinga dari atas beringin kembar di tengah lapangan. Bunyi tetabuhan seketika tertimbun dentang perisai, desing parang, dan seruan pasukan laksana dengung lebah dari kejauhan. Luapan amarah membahana dari kerongkongan yang muak menelan istilah perang. Pasukan panah melecutkan anak jemparing mereka, Kesari menginterupsi pasukannya untuk berpencar dan menyerang musuh dari atas pohon.

Pasukan bertombak menjaja kuda musuh hingga sekarat, tetapi tak sedikit dari pasukan bertombak itu pun menarik jiwa lantaran kena parang sekali tebas, atau pun kena kaki kuda yang menggila.

Desing senjata, ringkik kuda, rintih orang sekarat menggema di alun-alun yang dibanjiri darah serta hawa panas meski cuaca berawan. Tetumbuhan menunduk layu seakan tak kuasa melihat kejadian yang kembali terulang dan terulang— anak Adam saling membunuh.

Prinsip membunuh atau dibunuh bergaung dalam kepala Haryang kala ia bertarung dengan penuh keraguan. Pacuan adrenalin menambah gesit dalam mengelak tebasan parang hingga musuhnya megap-megap penat sendiri. Itu adalah kesempatan emas bagi Haryang untuk menusukkan tombak pada lawan, tetapi nurani pengasihnya menjerit. Alhasil, saat menodongkan tombak beracun dengan tangan gemetar hebat, lawan tandingnya keburu merenggut tombak itu kemudian menikam jantung Haryang secepat kedipan mata. Barang siapa yang ragu-ragu menjadi tuan bagi senjata, maka senjata itu akan berani memakan tuannya sendiri.

Haryang meraba gagang tombak hitam yang telanjur menembus dada hingga punggungnya. Tak lagi kuat kakinya menopang raga berisi jiwa yang meronta-ronta hendak terbang. Ia berlutut dengan tatapan hampa, badan hendak ambruk ke tanah, tapi tertahan gagang tombak. Sakit. Sakit sekali.

"Maaf, Nyai Tumpak Manis. Aku melanggar janji. Aku harus pergi selama-lamanya dari Argo Jambangan." Air mata Haryang tumpah ruah di atas darahnya yang mengguyur rumput manila.

Bapanya, biyungnya, saudaranya, kekasihnya, anak didiknya seakan menari sendu di balik genangan air mata yang mengaburkan pandang. Ia pergi tanpa pamit, takkan pernah kembali.

***

Setelah perang hari itu dijeda dengan tabuhan genderang, Kesari nyaris semaput saat menemukan Haryang berlutut dengan badan doyong ke depan, disangga tombak yang menembusnya.

Kesari terhuyung-huyung menghampiri kekasihnya yang tinggal tulang dan daging. Tanpa ruh, tanpa jiwa, tanpa cinta. Ia baringkan sosok pucat yang kehabisan darah itu di atas pangkuannya. Meski ia tahu Haryang sudah hilang nyawa, ia masih menepuk-nepuk pipinya yang sedikit bercambang. Kesari menangis sejadi-jadinya, mengecup setiap inci paras Haryang yang tak lagi memiliki rona. Digenggamnya rambut lebat itu seraya mencabut tombak yang dengan angkuh merenggut jiwa Haryang Sri Harimbyat Maja.

Tak mengacuhkan kemban kuningnya yang ternoda darah sang kekasih, Kesari meringkuk berbantal lengan kurus Haryang. Didekapnya erat lelaki yang telah mencuri hatinya itu. Bila masih hidup, Kesari yakin Haryang akan protes karena tak bisa bernapas. Namun, ia benar-benar sudah tak bernapas. Maka Kesari kian mengeratkan pelukannya.

"Ya ampun, aku mencari-cari kalian. Ternyata sedang enak-enak!" Jaka Banyu menuntun kudanya untuk mendekati Kesari dan Haryang yang tampak sedang tiduran.

Sadar apa yang terjadi, Jaka Banyu membanting pedangnya yang telah berlumuran darah, melepas kudanya yang segera kabur tak tentu arah. Ia menubruk kakaknya, menyibak rompi kuning emasnya, menyentuh dada yang berlubang.

"Sudah, Banyu! Kakangmu sudah pergi meninggalkan kita!" Kesari menahan tangan gemetar Jaka Banyu yang terus menampar pipinya sendiri.

"Bodoh! Haryang bodoh! Dia menggunakan hatinya saat berperang." Jaka Banyu menunjuk jasad sang kakak sebelum ambruk di atasnya sambil meraung-raung.

Meski sama terpukulnya, Jaka Banyu lebih bisa menguasai diri dengan cepat. Ia menahan Kesari yang meronta hendak bela pati saat Haryang digotong untuk diceburkan ke dalam lautan api bersama suwargi lain dalam pulasara¹⁵.

_______

¹⁴ Acala wyuha : Susunan pasukan yang menempatkan barisan infanteri, pasukan gajah, pasukan kuda, dan pasukan kereta perang berbaris ke belakang.

¹⁵ Pulasara : Upacara kematian.

Jaka BanyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang