23. Gugur Gunung

153 37 3
                                        

Jaka Banyu memang minus perihal olah batin. Padahal ia yang mengusulkan untuk semadi sehari penuh, tetapi ia jugalah yang gugur di tengah jalan. Ia pulas dengan mulut sedikit terbuka sebagai jalan iler, bersandar pada dinding gua yang melembapkan belakang rompi birunya. Ya, rompi biru tak berlengan. Sejak angkat kaki dari Rogojembangan, baik dirinya maupun Haryang tak sudi memakai seragam hitam.

"Banyu, Banyu. Sial sekali kau melewatkan informasi berharga yang kudapat," celetuk Haryang sebelum Jaka Banyu terperanjat dan mengusap ilernya.

"Pantas saja Nyai Bagelen menolakmu mentah-mentah," timpal Kesari ketus lantaran dongkol melihat Jaka Banyu yang enak-enak tidur.

Malam itu Kesari dan Haryang merajut mimpi, sementara Jaka Banyu terjaga lantaran sudah tidur terlalu lama.

Esoknya, mereka menyisiri tempat tinggal penduduk hingga menemukan rumah dengan kentungan tergantung di tiang selasar, menandakan si pemilik rumah merupakan kepala dukuh atau rama di kawasan tersebut.

Kepribadian masyarakat pesisir yang terbuka dengan orang baru membuat mereka bertiga terkagum-kagum. Kali ini Kesari yang turun tangan menjelaskan maksud kedatangan mereka bertiga setelah memperkenalkan diri. Rama yang menyebut dirinya sebagai Ki Jelamprang itu sibuk menyajikan campuran pinang, daun sirih, serta jeruk nipis lengkap dengan semangkuk air untuk berkumur. Kebiasaan masyarakat pesisir dan pegunungan sama dalam menjamu tamu.

"Maaf sebelumnya, Ki. Apakah Ki Jelamprang sempat mendengar tentang kami?" tanya Kesari.

"Pendekar dari Rogojembangan. Masyarakat kami sangat berharap kalian mendirikan padepokan di sini, tapi saya tahu kalian hanya pelesiran untuk menjernihkan pikiran." Tuturnya seperti aliran air, lebih halus ketimbang orang pegunungan yang bacar.

"Bagaimana jika kami memang berniat mendirikan padepokan? Kami sudah mendapat pencerahan tentang tempat ini. Adakah yang namanya Kali Puring?" Kesari berusaha sesantun mungkin, tetapi jelas suaranya lebih keras ketimbang Ki Jelamprang.

"Kali Puring jauh di dalam hutan, orang-orang hanya ke sana untuk mencuci dan mengambil air." Terdengar nada defensif.

"Saya mendapat amanat tersirat dari Nyai Kaniraras untuk mengembalikan kesucian tempat itu sebagai pesantian maupun pasraman," kekeh Kesari.

"Kalian tahu Nyai Kaniraras? Dia dilaknat karena kedurjanaannya."

Kesari melempar pandang pada kedua rekan yang agaknya memiliki pemikiran sama bahwa Ki Jelamprang adalah salah satu korban pengecohan saat kanak-kanak. Ternyata fakta yang Kesari dapatkan soal Kaniraras telah terkubur jauh hari.

"Tapi mengagumkan Nyisanak bisa tahu sejarah tempat ini padahal berasal dari luar. Kalian memang benar-benar cempiang. Masyarakat akan senang sekali peran serta, sekalipun itu di Kali Puring. Hari ini juga, akan kukumpulkan warga untuk drdhabhakti¹⁰ membangun pondok yang kalian perlukan."

Kesari tersenyum lega mendengar itu. Ia bersiap, sebentar lagi ia menjadi guru, sekejap lagi ia akan memikul tanggung jawab besar.

"Tapi sebelum itu, kalian harus menikmati suguhanku."

Demi tata krama, ketiganya mengunyah suguhan yang terasa getir, asam sekaligus manis itu.

Ki Jelamprang memukul kentungan dengan ketukan yang dipahami warga sebagai isyarat berkumpul. Ia memperkenalkan ketiga pendekar yang menarik perhatian sejak kedatangannya dua hari lalu. Yang rambutnya cepak dan bertubuh kekar bernama Jaka Banyu, yang gondrong dan kurus bernama Haryang Sri Harimbyat Maja, serta perempuan berkulit eksotis bernama Kesari. Masyarakat bersorak menyambut mereka yang salah tingkah, kemudian tanpa berlama lagi, mereka berpencar untuk memikul balok-balok kayu yang dibawa ke Kali Puring.

Ketiga pendekar itu ikut membangun pondok utama yang akan mereka tempati, berdinding kayu dengan dua tiang saka di selasar. Atapnya dari ijuk yang ditopang kasau bambu. Dua jendela berada di samping pintu, dan satu lagi di sisi kanan bangunan. Ruang depan sebagai ruang tamu, ruang tengah diberi tiga sekat serta tiga dipan sebagai senthong¹¹, dan ruang belakang diisi tungku bata merah serta tempayan yang baru dibeli dari pasar atas perintah Ki Jelamprang. Alat masak sudah lengkap, beras dan bumbu masakan disokong oleh ibu-ibu yang tak kalah antusias dengan kehadiran mereka.

Perlu dua hari untuk merampungkan bangunan pasraman yang terdiri dari satu dalem dan enam pondok untuk cantrik. Ki Jelamprang memastikan tak ada satu pun warga lelaki yang absen gugur gunung, serta tak ada warga perempuan yang absen memasak untuk makan sore bersama. Rampung membangun padepokan itu, warga membasuh diri di Kali Puring, kemudian para perempuan berdatangan menyunggi baki-baki berisi penganan khas yang selalu ada tiap acara kenduri.

"Anggaplah ini sebagai selamatan untuk padepokan baru," ucap Ki Jelamprang.

"Tapi kami akan meresmikannya di hari Tumpak Manis, lima hari lagi," sahut Haryang sungkan.

"Apakah itu hari baiknya?" tanya salah satu warga.

Mereka bertiga mengangguk.

"Tak apalah, hari ini kita makan-makan untuk merayakan bangunan yang telah jadi, sekaligus mengungkap rasa syukur kepada Sang Hyang Tunggal. Lima hari lagi, kita adakan selamatan untuk sang danyang Kali Puring."

"Tak henti-hentinya kami ucapkan banyak terima kasih pada warga semua yang membantu kami dengan tenaga dan barang. Kami tahu harga kayu tidaklah murah. Ditambah lagi alat masak dan dipan. Tak lupa juga tenaga kalian selama dua hari diperas untuk membangun tempat ini, dan di sela istirahat kalian masih sempat mencari rumput untuk ternak di rumah. Betapa baiknya kalian semua. Betapa tak tahu dirinya kami belum bisa membalas kebaikan Kisanak-Nyisanak sekalian," tutur Kesari menahan tangis haru. Di sebelahnya, Jaka Banyu dan Haryang tertunduk.

"Bantuan yang kami berikan semata-mata untuk mendukung kalian dalam membimbing anak-anak supaya jadi pandai. Tak perlu berhutang budi pada kami, kehadiran kalian di Kabuyutan¹² Ngampal Gading sudah sepadan," timpal Ki Jelamprang disambut tepuk tangan warga yang bersila di depan makanan beralas daun pisang.

"Terima kasih, terima kasih," ucap ketiga pendekar serempak, tak tahu harus berkata apalagi selain terima kasih.

Mereka berdoa dalam hening sebelum menyantap makanan gurih yang lama tak dikecap lidah cempiang luntang-lantung itu. Jaka Banyu tak kuasa menahan desahan saat daging kelinci masuk mulutnya.

_______
¹⁰ Drdhabhakti : Kerja bakti atau gotong royong.
¹¹ Senthong : Kamar
¹² Kabuyutan : Setingkat dusun.

Jaka BanyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang