Bagelen menguraikan situasi itu pada semua cantriknya yang tak banyak protes. Mereka mengemas pakaian dan bahan makanan sebelum mendompleng kuda menuju utara, ke Padepokan Kali Puring. Tak ada peristiwa berarti selama perjalanan hingga tiba di tempat tujuan.
Danuja maupun Bagelen menahan napas seraya mengamati Padepokan Kali Puring yang tampak lebih terawat ketimbang Tapak Dara maupun Rogojembangan. Gapuranya sederhana dari bambu, tetapi panorama Kali Puring yang memantulkan cahaya senja mampu membius mereka dalam keterpikatan. Terlebih saat mereka memasuki area pelataran, mereka tak sanggup menahan decak kagum mendapati tak cuma bangunan utama, tetapi pondok cantrik pun terbuat dari kayu, lebih baik ketimbang padepokan mereka berdua yang pondoknya masih terbuat dari anyaman bambu.
Tempayan berisi air maupun beras teronggok di tiap sudut, membuktikan persediaan yang melimpah. Jelaslah Jaka Banyu mampu mengambil hati masyarakat sekitar.
Sibuk mengamati tiap sisi padepokan membuat Bagelen lalai terhadap sekitar. Mujurlah Danuja menariknya sebelum kepalanya tergores cakram.
Para cantrik Bagelen yang melihat itu dari luar gapura sontak terpekik-pekik melihat guru mereka hampir mati secara konyol.
"Aduh! Maaf, Nyisanak. Saya tidak sengaja." Salah satu cantrik mengambil cakramnya yang menancap di pohon. Ia kemudian kembali ke tengah lapangan.
Kesari yang melihat tamu tak diundang itu pun bergegas menuntun mereka beralih ke tempat yang lebih aman.
"Kesari, ternyata kau jadi guru juga," celetuk Danuja tak menyangka cantrik yang tampak biasa-biasa saja itu mampu menjadi pengajar.
"Kakang pasti ingin bertemu Banyu dan Haryang, kan? Mereka sedang memancing, sebentar kupanggilkan."
Sekembalinya Kesari, lagi-lagi Danuja tercengang melihat perawakan Jaka Banyu yang telah segagah dirinya. Sementara Haryang walaupun lebih kurus dari Jaka Banyu, tak lagi seperti pianggang. Mereka menyalami Danuja dan Bagelen sebagai basa-basi. Jaka Banyu merasa dunia berhenti berputar saat menggenggam tangan Bagelen yang mengalihkan pandang.
Ia berdeham, tak mau terlihat seperti pecundang lagi. Ia langsung menanyakan tujuan utama Danuja dan Bagelen beserta cantrik Tapak Dara kemari.
"Dang Acarya meminta Padepokan Kali Puring dan Tapak Dara bergabung dengan Rogojembangan. Kedaton mem—"
Ucapan Danuja terpotong oleh ludah Jaka Banyu yang jatuh di dekat kaki Bagelen. Menggebu-gebu ia utarakan perasaan yang bergumul selama bertahun-tahun, "Setelah mengusirku dengan hina di depan para cantrik, lelaki tua itu masih membutuhkanku?"
Danuja mengulang kalimatnya yang diutarakan pada Bagelen beberapa saat lalu, "Kalau kau tak mau bergabung, sama saja kau cari mati. Majapahit sudah menggarisbawahi bahwa semua padepokan Kembang Jenar memberontak. Mereka takkan percaya pada kita. Satu-satunya jalan adalah bergabung dengan istana Kembang Jenar untuk mempertahankan diri kita sendiri dari pembantaian."
"Kakang pikir kami mau meninggalkan padepokan yang susah payah kami rintis? Dan saat padepokan kami sudah stabil berjalan, kalian hendak menghancurkan kami?" timpal Haryang.
"Bukan menghancurkan. Kita akan tetap bersama, hanya beda tempat saja. Bagaimanapun, mau tak mau kita harus membantu kedaton demi diri kita sendiri. Lagipula, bukankah sebagian cantrik kita sudah diambil mereka?"
Danuja ada benarnya. Jaka Banyu mengajak Haryang dan Kesari menyingkir untuk berunding. Terdengar perdebatan yang cukup memakan waktu hingga Jaka Banyu mengambil keputusan untuk mengiakan ajakan Danuja. Haryang dan Kesari mengangguk dengan berat hati. Detik itu juga Jaka Banyu mengutus Janaka untuk mewartakan pada masyarakat Ngampal Gading tentang kepergian mereka ke kedaton.
Para cantrik Kali Puring yang tersisa mengemasi perbekalan dengan setengah hati. Mereka tak rela meninggalkan padepokan yang berarti juga meninggalkan kampung halaman. Tak lama kemudian warga berdatangan untuk menghormati kepergian mereka, sekaligus memeluk anak-anak mereka yang entah akan kembali atau tidak.
Danuja mengakui keberhasilan mantan anak didiknya itu dalam membangun kepercayaan masyarakat. Jaka Banyu yang dulunya nakal, Haryang yang pendiam, serta Kesari yang tak memiliki prestasi itu nyatanya dihormati masyarakat. Danuja yakin, Dang Acarya akan menyesal sejadi-jadinya jika melihat banyaknya pelukan yang dilayangkan pada ketiga mantan muridnya itu.
"Bisakah lebih cepat? Aku tak mau mengambil risiko berkuda saat malam hari." Bagelen menyela adegan dramatis itu.
Karena persediaan kuda terbatas, mereka terpaksa berboncengan, bahkan ada satu kuda yang ditunggangi tiga cantrik sekaligus. Bagelen merelakan kuda kesayangannya ikut ditunggangi salah satu cantrik Jaka Banyu, sementara lelaki itu tertawa geli saat lengan cantrik perempuan yang dibonceng melingkari perutnya dengan dalih takut terjatuh.
Mereka berkejaran dengan mentari yang semakin ayun temayun menuju peraduan. Jika malam hari belum tiba di Rogojembangan, mereka harus siap apabila kuda mereka tersasar ke jurang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaka Banyu
Historical FictionHanya Jaka Banyu yang berani mengusik pertapa menggunakan kentungan. Ia hendak mengusut masa lalu sebelum pertapa itu moksa, hilang takkan bereinkarnasi lagi. Namun jika salah orang, apa yang bakal dilakukan pertapa itu untuk melampiaskan amarahnya...
