Kuping Nyi Kusuma menangkap kericuhan di pondok pasraman. Ia meletakkan dupa yang sedari tadi diputar-putar di depan kepalanya searah pergerakan rembulan. Disambarnya oncor yang tergantung di tiang tempat tinggalnya, kemudian berlari menilik penyebab para cantrik terpekik-pekik.
Antara temaram lampu oncor yang tergantung di tiap pondok, Nyi Kusuma menyibak kerumunan yang mengelilingi sosok tegap berkebaya putih, laksana semut merubungi sebongkah gula batu.
"Bagelen?" Netra Nyi Kusuma membelalak mendapati anak emasnya kembali ke Tapak Dara, bukannya menyatu dengan semesta.
Bagelen tak lagi mampu mempertahankan senyum palsunya. Disaksikan semua Srikandi Tapak Dara, Bagelen bertimpuh seraya membenamkan wajah pada telapak tangan. Para Srikandi tercengang, beberapa menutup mulut terperangah. Bagelen tersedu-sedan sendirian di tengah lingkaran Srikandi yang bingung mengambil sikap. Pemandangan itu dari kejauhan bagaikan penganut sekte yang tengah melakukan ritual.
"Bagelen, bangkitlah!" Nyi Kusuma mencoba mengembalikan ketegaran Bagelen. Ia tak menyangka perempuan sekeras Bagelen bisa terisak sebegitunya.
Lain dengan Nyi Kusuma, Menik membubarkan kerumunan itu dengan bentakan lantang hingga para cantrik memandangnya sinis.
"Bubar kalian semua! Bagelen tak butuh ditonton dengan tatapan begitu!" Menik sampai harus melempar kerikil untuk menjauhkan murid-murid junior yang haus hiburan itu.
Menik memeluk Bagelen yang tangisnya menjadi-jadi. Meski sempat iri pada segala kelebihan Bagelen, Menik-lah yang paling tahu segala beban yang bertengger di pundak teman sekamarnya itu.
"Ada apa, Bagelen?" Nyi Kusuma ikut berjongkok dan mengusap-usap punggung Bagelen yang bergetar.
"Kurasa Bagelen perlu istirahat." Menik secara tersirat menjauhkan Bagelen dari gurunya. Entah mengapa ia tak respek lagi terhadap Nyi Kusuma setelah insiden melawan pendekar dari Rogojembangan lima warsa silam. Ia dan kawan-kawannya harus menanggung luka sementara Nyi Kusuma duduk manis berpangku tangan di dalam joglo. Menik masih kesal mengingatnya.
Nyi Kusuma tak bereaksi apa-apa, hanya mengantar mereka berdua dengan tatapan bertanya-tanya. Menik merangkul Bagelen yang tertunduk lesu sambil mengusapi pipinya yang basah. Setibanya di pondok, Menik lekas memalang pintu kemudian memberi Bagelen air minum.
"Istirahatlah, Bagelen."
"Terima kasih, Menik. Kau yang paling tahu kondisiku tanpa banyak tanya."
Menik tersenyum seraya melingkupi tubuh Bagelen menggunakan selimut jarik yang tadi dipakainya sebelum mendengar kericuhan di halaman. Perginya Bagelen beberapa purnama lalu membuatnya tersadar bahwa menjadi Bagelen tak seenak kelihatannya. Tak ada Bagelen di Tapak Dara, banyak tanggung jawab yang jatuh ke tangan Menik karena hanya tersisa dia murid senior yang kenyang asam garam dunia pendekar.
Ternyata tak mudah menjadi pemimpin. Menik kerap mengharapkan Bagelen kembali ke Tapak Dara karena ia tak sanggup menjadi panutan muridnya. Namun, ia tak menghendaki Bagelen kembali dengan derai air mata seperti ini.
***
"Keluarlah sebentar, Bagelen. Cantrikmu kangen padamu. Mereka lebih suka didikanmu ketimbang aku," bujuk Menik berusaha menggeret Bagelen yang terduduk lesu di dipan.
"Aku malu, Menik," balas Bagelen kuyu.
"Malu? Sejak kapan kau punya malu?"
"Aku gagal moksa. Aku memberi contoh kurang baik pada cantrik Tapak Dara. Lebih baik aku kembali ke rumah Nyai Kowi saja."
"Berhenti meracau! Kau mau kembali ke rumah yang dihuni rayap dan hampir roboh? Yang penuh klamat⁸? Yang jadi sarang memedi?"
"Ini semua gara-gara bocah biadab itu! Dia mengacaukan semadiku, Menik! Dia bocah paling tak tahu diri yang pernah kujumpai. Dia memintaku jadi istrinya! Gemblung! Tak tahu malu!" Emosi Bagelen bergulir cepat. Bahkan netranya memerah bukan lantaran menangis, tetapi amarah yang tertahan di hatinya bak kawah yang siap menjebluk.
"Ceritakan semua di lapangan, biar para cantrik tahu alasanmu gagal moksa. Luruskan rumor yang tersebar."
"Rumor?"
"Kau jadi buah bibir. Mereka pikir kau gagal moksa gara-gara terhalang dosa. Kau, kan, suka marah-marah. Gemblenganmu terhadap murid juga terbilang keras."
"Kaubilang mereka kangen dan lebih suka didikanku ketimbang didikanmu?"
"Orang hebat punya penggemar sekaligus pembenci, bukan?"
_______
⁸ Klamat : Sarang laba-laba.
*don't be silent readers please ^^
*btw kalian nemu Jaka Banyu dari mana? Tagar? Instagram? Rekomendasi teman? Atau yang lain?
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaka Banyu
Fiksi SejarahHanya Jaka Banyu yang berani mengusik pertapa menggunakan kentungan. Ia hendak mengusut masa lalu sebelum pertapa itu moksa, hilang takkan bereinkarnasi lagi. Namun jika salah orang, apa yang bakal dilakukan pertapa itu untuk melampiaskan amarahnya...
