Riak pantai utara Jawa tak seganas selatan. Ketiga pendekar problematik itu laksana anak ingusan yang baru pertama kali menjejaki pasir pantai. Mereka berlarian ke sana-kemari seraya menyambut pawana dengan tangan terentang. Tanpa beban, ketiganya bergandengan menuju bibir pantai, berpadu dengan air segara yang terasa menusuk di senja berawan kelabu.
Tawa ketiganya diredam gulungan ombak yang menunduk ramah tatkala tiba di kaki mereka. Pandangan Haryang lama terpaku pada raut bahagia Kesari, seakan gadis itu baru lepas dari penjara dan tengah menikmati kebebasan amerta. Sejemang kemudian, wajahnya yang kecokelatan memergoki pandangan Haryang, membuat lelaki berambut setengkuk itu kikuk bukan main.
"Maafkan aku kalau mengganggu kebersamaan kalian dengan ikut-ikutan kemari," celetuk Kesari, membuyarkan cengiran Jaka Banyu yang tengah menikmati sapuan bayu di wajahnya serta banyu yang membelai kakinya.
"Bukan masalah. Toh, kamu pernah menolong kami saat baru tiba di padepokan," sahut Jaka Banyu mengenang saat-saat Haryang dikerubuti para cantrik, kemudian Kesari mengantar mereka ke pasraman yang semestinya.
Haryang melengos. Untaian kalimat yang hendak diutarakannya tertelan kembali lantaran Jaka Banyu lebih dulu mendominasi pembicaraan. Mereka terus bercakap tanpa melibatkan dirinya yang diam-diam mendamba kesempatan angkat suara.
Bukan samar terik mentari yang membuat tubuhnya panas, tetapi interaksi Kesari dengan adiknya pun turut mendidihkan hatinya. Haryang menaiki batu karang untuk menggerutu sepuasnya tanpa kuatir terdengar.
"Apa benar kau pergi mencari ibu kandungmu?" Kesari menatap Jaka Banyu yang asyik menggambar di pasir hitam.
"Awalnya begitu. Tapi aku malah jatuh hati padanya." Jaka Banyu tersenyum pedih.
Kesari membelalakkan matanya kemudian beringsut menjauhi lelaki yang barangkali memiliki kelainan itu.
"Kenapa? Mau menjulukiku sedeng? Itu memang sudah melekat pada diriku. Lagi pula, Nyai Bagelen bukanlah ibu kandungku."
"Lalu siapa ibu kandungmu?"
"Dia meninggal saat aku lahir. Ceritanya rumit, Kesari," erang Jaka Banyu kian melorotkan bahunya.
"Akan kudengarkan, Banyu."
Jaka Banyu berpaling dari guratan abstraknya, menaruh atensi pada roman kecokelatan Kesari yang melontarkan senyum teduh. "Hanya kau yang mau mendengarku di saat orang lain menganggapku gila, Kesari. Bahkan Haryang pun tak mau repot-repot mengulik urusanku dengan Nyai Bagelen."
"Maaf kalau terkesan ikut campur, aku cuma mau menampung keluh kesahmu supaya tampangmu tak lagi kusut seperti itu."
Jaka Banyu pun menceritakan ulang apa yang dikatakan Bagelen sewaktu di gua. Ibunya mangkat setelah melahirkannya, bersamaan dengan ayahnya yang dibakar hidup-hidup akibat penganut Tantra kiri. Untuk melindungi Jaka Banyu dari amukan massa, Bagelen pun menaruhnya dalam wajan sebelum menghanyutkannya hingga tiba di tangan Ki Wirun, yang kemudian menanam kesalahpahaman pada Jaka Banyu.
Kesari mangut-mangut, menemukan titik permasalahan yang membuat Jaka Banyu sering bikin onar. Ki Wirun. Jika ayah kandung Haryang itu tak memberitahu apa-apa soal Nyai Bagelen, kesalahpahaman itu akan terkubur dengan sendirinya.
"Lalu, bagaimana kau bisa jatuh hati pada Nyai Bagelen sementara kalian belum saling kenal?"
"Saking bencinya pada perempuan itu, aku sampai tak sadar bahwa perasaan lain ikut tumbuh bahkan lebih subur."
"Kutebak, cintamu bertepuk sebelah tangan."
"Tak perlu diperjelas. Lebih baik kausamperi Haryang yang cemburu mengawasi kita sedari tadi. Jangan sampai ia merasakan apa yang kualami." Jaka Banyu menengok pada batu karang yang menjulang, memergoki Haryang yang mendelik bagai elang mengincar mangsa.
Kesari menenteng gendewanya, dengan gesit menaiki batu karang, tak memberi waktu bagi Haryang untuk menyembunyikan merah semu di pipinya.
"Haryang! Adakah yang perlu kau ungkapkan?"
Haryang memalingkan muka seraya menggigit bibir. Hatinya bergemuruh merutuk sikap canggungnya yang memalukan. Tangannya mencomot lipatan kertas daluang kusut dari saku seragamnya sebelum disodorkan pada Kesari dengan tangan bergetar.
Cantrik itu menahan tawa atas gerak-gerik Haryang yang malu-malu siput. Ia membuka perlahan surat yang hampir tercabik itu, membacanya dengan desiran hati yang kian menjadi.
🏵
Laksana gula jawa, kau membuatku candu bahkan rakus mengisap pancaranmu yang legit.
Bukan cuma iras manismu yang membuatku terlena dalam semak hati.
Jugalah perangaimu yang adiwarna lagi megak seumpama Srikandi.
Aku yang kerdil ini tertatih-tatih mengimbangi kegagahan adik sendiri.
Adik yang kuwanti-wanti mengalah dalam perihal genting satu ini.
Sekian warsa aku menekur kebetulan yang sekali pun tak pernah kusesali.
Kepergok tidur di pelataran, bukannya malu aku malah menaruh hati.
Pada titisan Srikandi yang berjenama Kesari.
🏵
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaka Banyu
Ficción históricaHanya Jaka Banyu yang berani mengusik pertapa menggunakan kentungan. Ia hendak mengusut masa lalu sebelum pertapa itu moksa, hilang takkan bereinkarnasi lagi. Namun jika salah orang, apa yang bakal dilakukan pertapa itu untuk melampiaskan amarahnya...
