Pamor Majapahit telah redup selepas kerajaan vasal satu persatu memerdekakan diri akibat pemerintahan Majapahit yang penuh kudeta. Sesama saudara saling menjatuhkan demi seonggok takhta. Tragedi Paregreg¹⁹ misalnya. Siapa yang betah menghamba pada kerajaan seperti itu?
Sesuai perjanjian, Majapahit tak lagi mengusik Kembang Jenar yang telah berdiri sendiri, terbebas dari upeti yang dahulu rutin ditarik Majapahit setiap tahun.
Pasukan berseragam kuning yang sebagian berubah warna menjadi kapisa itu berarakan kembali ke Kedaton Kembang Jenar. Sepanjang jalan mereka mendapat tepuk tangan dari warga yang menengok dari pelataran rumah. Salakan anjing-anjing peliharaan ikut meramaikan suasana. Terlebih sekumpulan bocah bersorak seraya menabuh tutup panci.
Lain dengan Danuja yang berjalan dengan lagak dabik dada, Jaka Banyu menahan pedih hatinya yang hampa akibat ketiadaan Haryang. Kehampaan itu terus berlanjut sampai tiba di istana. Rautnya datar ketika menerima sekotak emas dari Bhre Kembang Jenar sebagai bentuk terima kasih kepada ketua-ketua padepokan yang telah menyumbang tenaga.
"Adakah yang ingin menjadi pejabat istana?"
Tak ada yang mengangkat tangan. Jaka Banyu kian berkaca-kaca. Andai kata Haryang masih hidup, mungkin ia bakal mau jadi pujangga Kedaton. Kembali lagi, semua itu cuma andai-andai.
Bukan hanya sekotak emas, Bhre Kembang Jenar juga menghadiahi kuda bagi prajurit yang tersisa. Mereka dijamu makan malam serta disiapkan bilik untuk istirahat. Malam itu semua dapat tidur dengan damai tanpa memikirkan peperangan lagi, atau pemikiran apakah esok aku masih hidup?
Keesokan harinya, mereka dipersilakan pulang ke padepokan masing-masing setelah dijamu sarapan, kecuali yang bersedia mengabdi pada keprajuritan istana. Semua cantrik Tapak Dara berdiri di belakang Bagelen memegang tali kekang kuda masing-masing. Namun, cantrik Kali Puring dan Rogojembangan sebagian memilih tinggal di istana.
Dang Acarya Bawunan, Danuja, Jaka Banyu, Kesari, serta Bagelen pulang paling belakang dan membiarkan kuda tunggangan mereka berjalan lambat. Hanya terdengar ketukan ladam dalam beberapa saat, sebelum Dang Acarya buka suara.
"Banyu, atas namaku sendiri, aku minta maaf atas pengusiranku dahulu."
Jaka Banyu berusaha legawa, tetapi jiwa pendendam yang berurat berumbi sulit ditepis. Ia sadar keberhasilannya menjadi mahaguru tak lepas dari pengusiran Dang Acarya, tetapi ikhlas memanglah paling berat.
Detik yang sama saat ia hendak mengutarakan perdamaian, Dang Acarya keburu menyulut dendam lagi. Dada pemuda berambut cepak itu laksana mengobar, netra beloknya nyalang menghunjam pria tua bersurai perak itu.
"Bagaimana? Bukankah dengan perjodohan kalian, padepokan kita bisa lebih besar?" desak Dang Acarya.
"Buat apa perjodohan sementara padepokan kalian sudah tersohor?" tukas Jaka Banyu yang terbakar api cemburu.
"Aku hanya memberi usul," sahut Dang Acarya santai.
Urunglah maaf Jaka Banyu berikan pada pria tua yang sukanya memikirkan diri sendiri itu. Egois. Arogan. Minta maaf cuma sekadar formalitas. Sebebal-bebalnya Jaka Banyu, hatinya masih bisa merasakan nyeri layaknya tertikam belati karatan saat Bagelen tersenyum tipis pada Danuja, bukannya mencak-mencak seperti saat ia mengajaknya menikah. Entah apa yang terjadi selama di medan laga hingga dua musuh itu berbaikan.
Kesari paham perasaan Banyu hanya dari sorot matanya yang kemerahan. Ia tersenyum mafhum, netranya memberi isyarat bahwa mereka harus berjalan lebih dulu. Kehadiran mereka tak lagi dianggap, tak lagi dilibatkan dalam percakapan mantan guru mereka yang hingga kini masih menuai luka.
Kala sang rawi tepat di puncak singgasana, Kesari menambatkan kuda deragemnya di bawah pohon melinjo, begitu pula Jaka Banyu. Mereka menenggak air nira dalam kantong minum sambil mengusap keringat di dahi. Kesari tersedak akibat terkejut mendengar tinju Jaka Banyu pada pohon di dekatnya. Burung-burung yang bertengger pun berkaok-kaok menjauh. Bahkan kuda mereka meringkik gelisah.
"Ajian apa yang dipakai Danuja sampai Nyai Bagelen mesem padanya?!" ujarnya nyalang.
"Kuasai dirimu, Banyu." Kesari mendekati pemuda yang diselimuti angkara murka itu kemudian mengusap-usap punggung lebarnya.
"Berat, Kesari."
"Aku tahu rasanya. Begitulah yang kurasakan saat kau bilang padaku bahwa kau mencintai Nyai Bagelen."
Jaka Banyu menatap lurus manik Kesari yang sayu, sorot penuh penderitaan selepas menyaksikan banyaknya darah dan mayat di medan laga. Namun di samping itu, pupilnya melebar saat mereka bersabung mata.
"Bukankah kau mencintai Haryang?"
"Memang. Tapi sebelum itu dan hingga kini kau masih memiliki ruang tersendiri di hatiku."
Jaka Banyu tertunduk merasa bersalah. Ia mengetahui itu sejak awal, tetapi pura-pura tak peduli. Ia sudah dibutakan oleh Nyai Bagelen.
"Saat kita pulang dari perbatasan setelah lukamu kuobati, kau memberikan bajumu saat aku kedinginan. Kupikir kau punya perasaan yang sama. Kau tak tahu betapa kehilangannya aku saat kau berkelana mencari Nyai Bagelen. Dan kautahu alasanku ikut kalian berdua minggat dari padepokan? Karena aku tak mau kehilanganmu lagi, Banyu. Tapi kau blakblakan menyatakan perasaanmu terhadap Nyai Bagelen di hadapanku dan malah menyuruhku mendekati Haryang yang rupanya diam-diam naksir padaku. Detik itu kuputuskan untuk membuka hati pada Haryang meskipun kau tetap menjadi cinta pertamaku."
Jaka Banyu hampir lupa cara berkedip saat Kesari membahas itu. Selama ini pembicaraan mereka selalu dibaluri dengan guyonan, tetapi kini segalanya mendalam.
"Jadi, sekarang kau mau bagaimana?"
Kesari menggeleng. Bukan itu pertanyaan yang diharapkannya dari Jaka Banyu. Ia berharap Jaka Banyu tetap diam larut dalam pikirannya sendiri, karena ia pun bingung apa yang diinginkannya setelah Haryang tiada.
"Cintamu pada Haryang hanya pura-pura?"
Kesari menggeleng sebelum bulir air mata meluncuri pipinya. "Tidak! Aku benar-benar menyayanginya. Dia sempurna bagiku. Dia tak pernah menjengkelkan seperti kau. Dia selalu mengabadikanku dalam puisinya. Bukankah itu sangat manis? Dan sialnya tak ada lelaki lain seperti Haryang di dunia ini. Aku perlu waktu lama untuk merelakannya, sebagaimana kau perlu waktu untuk merelakan Nyai Bagelen."
"Kau benar. Bisakah kita saling menopang?" Jaka Banyu mengusap air mata Kesari sebelum menggenggam kedua tangannya.
Kesari mengangguk pasti, menarik Jaka Banyu dalam pelukan yang lama dan semakin erat. Trauma. Ia trauma menyaksikan dan membaui mayat di kancah perang. Ia trauma mendapati dada kekasihnya berlubang. Ia perlu Jaka Banyu untuk menyandarkan kepalanya yang berisik memutar rekaman tragis itu. Ia butuh kawan senasib yang paham betul perasaannya. Ia butuh Jaka Banyu.
"Aku sesak napas, Kesari!"
Dan mereka berdua tergelak. Tawa pertama selepas hari-hari lalu yang berselimut duka.
_______
¹⁹ Paregreg : Perang antara Majapahit (pemerintahan Wikramawardhana) dengan Blambangan (Wirabhumi) akibat Bhre Wirabhumi selaku putra Hayam Wuruk dari selir menuntut haknya bertakhta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaka Banyu
Historical FictionHanya Jaka Banyu yang berani mengusik pertapa menggunakan kentungan. Ia hendak mengusut masa lalu sebelum pertapa itu moksa, hilang takkan bereinkarnasi lagi. Namun jika salah orang, apa yang bakal dilakukan pertapa itu untuk melampiaskan amarahnya...
