Outro : Keluangsa

255 45 5
                                        

"Para cantrik Kali Puring yang selalu kami andalkan, pasti di antara kalian ada pertanyaan di mana Dang Haryang, di mana Trindil, di mana Paksina, dan di mana cantrik lain yang tak hadir di sini. Mahaguru olah batin kita sekaligus beberapa rekan kita telah mangkat ke Jinalaya."

Sebagian besar cantrik tergemap hingga suara mereka laksana lebah berdengung. Jaka Banyu dan Kesari yang tengah berpidato di jerambah dalem pun mengangkat tangan sebagai isyarat tutup mulut bagi cantrik yang bersila di hadapan mereka.

"Meskipun kita sudah merdeka, duka tak langsung lepas dari hati kita atas mangkatnya guru dan beberapa teman seperjuangan kita. Aku tahu kalian pun belum lepas sepenuhnya dari bayang-bayang mayat yang bergelimpang di alun-alun. Aku paham perasaan kalian yang lelah lahir batin. Di saat seperti ini, kalian pasti merindukan rumah, bukankah begitu?"

Semua cantrik mengiakan sambil menahan air mata mereka. Janaka yang kemarin-kemarin tampak ambeksura pun kini menyembunyikan wajah di antara lututnya.

"Nyi Kesari dan aku pun harus membenahi jiwa dari bayang-bayang itu. Kami juga merindukan orang tua kami. Ma—"

"Meskipun aku yatim piatu," serobot Kesari.

"Maaf. Sebenarnya aku juga," bisik Jaka Banyu merasa bersalah. "Maka dari itu, Nyi Kesari dan aku meliburkan kalian selama tiga saptawara²⁰."

Tak sesuai harapan Jaka Banyu yang mengira cantriknya akan bersorak gembira, mereka diam terpekur dalam dunianya masing-masing.

"Kalian mendengarku, kan?"

Semuanya mengangguk dan beranjak saat Jaka Banyu mengakhiri pidato. Semangat cantrik muda yang mulanya berkobar-kobar itu kini telah hangus digerogoti trauma. Kasihan, mereka masih muda.

Pada waktu kerbau turun berendam²¹, Janaka mengetuk pintu dalem bersama cantrik lain di belakangnya.

"Dang Banyu, Nyi Kesari. Kami izin pulang," pamit Janaka mewakili rekannya.

"Hati-hati. Kembalilah tiga saptawara mendatang tanpa raut sedih," pesan Kesari saat tangannya dikecup anak didiknya.

"Tunjukkan ini pada orang tua kalian. Mereka pasti bangga sekali." Jaka Banyu memberikan kepingan koin emas pada tiap cantrik yang berbinar mendapatkannya. Mereka berlalu satu persatu menunggang kuda hadiah Bhre Kembang Jenar.

***

Kedua pendekar yang telah merasai asin garam itu menikmati bang wetan²² dari jerambah dalem yang atapnya dihiasi sarang laba-laba. Mereka duduk di atas dedaunan kering yang tak sempat dibersihkan lantaran kelelahan. Pagi ini saat murai berdendang, mereka rampung berkemas siap meninggalkan padepokan yang tampak terbengkalai. Sejemang menyerap suasana pagi sebelum menarik kuda dari istal, menaiki pelana kemudian melecutnya ke arah pantai utara.

Lagi-lagi, panorama pantai mengingatkan kehadiran Haryang di atas batu karang. Kesari ingat puisi yang mampu mendobrak hatinya. Saat rambut lebat Haryang meliuk-liuk seperti ombak di hadapan mereka, saat ia menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih yang kini tinggal nama.

"Sebenarnya apa tujuan kita kemari, Banyu?" celetuk Kesari dari atas kuda yang berhenti menghadap ombak.

"Menjernihkan pikiran."

"Serius?"

"Tidak," pungkas Jaka Banyu tanpa memandang lawan bicaranya. "Aku tak sanggup berpelesir di sini. Ternyata bayangan Kakang masih timbul tenggelam."

Kemudian mereka memacu kuda ke arah Rogojembangan. Bukan, mereka bukan ke padepokan Dang Bawunan yang telah kerat rotan. Mereka tak sudi menginjakkan kaki di wilayah perkumpulan manusia arogan itu.

Jaka BanyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang