19. Habisnya Kesempatan

141 29 2
                                        

Upayanya percuma, mau tak mau Jaka Banyu kembali ke padepokan. Sempat terbesit untuk pulang ke kampung halaman, tetapi terbayang betapa kecewanya bapa-biyung jika ia tak pulang bersama Haryang.

Jaka Banyu mengetuk kepalanya berulang kali, menyesali tingkah bodohnya yang membuat malu diri sendiri. Ia kukuh mencari Nyai Bagelen atas dasar dendam dan penasaran. Namun, mengetahui perempuan berwatak raksasi itu bukanlah seperti yang ia ketahui selama ini, memberi kesempatan untuknya menggaet hati. Sebab, Bagelen memanglah beda dari yang lain. Tak cuma dari segi fisik yang mencirikan ia perempuan sensual, sikap jagoannya-lah yang membuat Jaka Banyu tertarik bagai besi terjerat magnet. Ia tertantang untuk menaklukkan hati Nyai Bagelen. Di samping figurnya yang kaku, Bagelen memanglah mengiras-iras sosok tegas yang memesona laksana Srikandi tanpa gendewa.

Meski berpisah dengan seorang yang dicarinya sekian purnama, Bagelen masih melayang-layang dalam minda Jaka Banyu. Alis dan bulu mata lebat pertapa puatang itu membuat romannya tampak manis. Leher jenjang dan tangan bujurnya membuat postur itu benar-benar mencerminkan Srikandi. Jaka Banyu belum pernah bertemu puan semenarik itu meskipun sifatnya pemarah.

"Lho, bukankah itu Jaka Banyu?"

"Ha?! Jaka sedeng itu?"

"Mana?"

"Mau apa dia?"

"Tak punya malu."

Telinga Jaka Banyu cukup tebal untuk menerima gunjingan pendekar yang tengah istirahat siang di depan pondok pasraman. Ia sudah menerka peristiwa yang bakal terjadi jika nekat menepis malu untuk kembali kemari.

Dipijaknya undakan menuju kediaman Dang Acarya Bawunan, mengembuskan napas berulang kali selagi menanti keberanian terhimpun.

Sebelum jemarinya mengetuk pintu, ia keburu diraih turun sampai undakan terbawah. Mata belok Jaka Banyu kian mendelik mendapati Danuja yang menjotos rahangnya.

Di belakang Danuja, Haryang tampak menahan tangis melihat percikan yang sekejap lagi menjadi kobaran. Padahal cuaca sedang sejuk-sejuknya.

Jaka Banyu sempat melawan dengan tendangan tak bertenaga, tetapi perutnya memprotes dengan suara nyaring yang membuat Danuja mengerjap penuh rasa bersalah.

"Kuharap jotosanku membuatmu kapok berulah. Sana, makan!" ketus Danuja.

Haryang menubruk adiknya dengan pelukan kelegaan. Adiknya tak mati dimakan macan. Adiknya tak mati dikeroyok wanara. Adiknya pulang. Keharuan Haryang tak terkira. Pendekar lain yang menyaksikan adegan dramatis itu ikut berkaca-kaca teringat saudara mereka di kampung halaman.

"Jangan biarkan anak liar itu menginjakkan kaki di sini!" Dang Acarya menyibak kerumunan yang kemudian kocar-kacir merasakan ketegangan yang dibawa guru itu.

"Mohon ampun, Acarya, izinkan Banyu menebus kesalahannya." Haryang melepas rangkulannya dan menyembunyikan tubuh Jaka Banyu di belakang tubuh bangsainya.

"Dia sudah melewatkan banyak kesempatan yang ada. Aku takkan mau mendidik murid yang merasa jagoan sampai tak minta restu gurunya tiap bepergian." Dang Acarya menusuk Jaka Banyu tepat di maniknya yang bergerak gelisah.

Sosok penyabar yang tak pernah marah itu telah naik darah. Jaka Banyu menyadari kesalahan fatalnya, tetapi sepatah kata maaf pun tak mampu terucap dari bibirnya yang pasi hingga Dang Acarya melengos kembali ke dalem.

"Kakang, tolong bujuk Dang Acarya," pinta Haryang setengah menangis pada Danuja.

Cekalan Haryang di tangannya membuat Danuja menggaruk kepala bimbang. Ia tak terkejut saat Haryang melaung keras dan Jaka Banyu berusaha menenangkan.

"Aku tahu hatimu lembut, Haryang. Tapi pelankan suaramu, kau tak malu kalau didengar cantrik perempuan?" ujar Danuja.

Bagai doa yang diaminkan semesta, kaum perempuan menyembul satu persatu dari balik semak tetehan di atas wilayah laki-laki.

"Biarkan aku luntang-lantung lagi, Kakang. Cukup sekali saja aku dipermalukan," kata Jaka Banyu pelan.

Dari kejauhan, suara telapak yang menjejak bebatuan dan tanah basah kian jelas terdengar. Pasang-pasang mata yang menonton drama itu pun menyoroti perempuan berkemban hitam yang tak sungkan melintasi gapura. Ia menggenggam gendewa dan beberapa anak panah menyembul dari balik punggungnya. Agaknya cantrik itu baru latihan memanah saat mendengar keributan.

Gelung rambutnya terurai akibat guncangan saat lari. Kulit gelap manis bak gula aren itu mengilap basah diterpa rintik gerimis. Ia tak malu-malu lagi berhadapan dengan Jaka Banyu yang kini lengannya dicekal.

"Jangan pergi lagi, Banyu."

"Kesari ... apa yang kaulakukan?"

Kesari menarik Jaka Banyu menuju dalem. Rahangnya mengetat saat mengetuk pintu dengan brutal. Ia menangkupkan tangan di depan dada seraya menunduk sekejap setelah Dang Acarya membuka pintu.

"Ampun, Guru. Saya tak sengaja mendengar keributan di pelataran. Tak bisakah Guru memberi kesempatan sekali lagi pada Banyu?" Kesari melemparkan tatapan memelas demi mendapat iba.

"Lihat, Jaka Banyu! Kenakalanmu sudah menular sampai cantrik wanita," kata Dang Acarya pelan tetapi menohok.

"Jika Guru benar-benar mendaftarhitamkan Jaka Banyu, saya juga ikut angkat kaki dari padepokan ini."

"Jangan, Kesari!" Jaka Banyu berupaya menggeret Kesari turun, tetapi perempuan itu bagaikan pasak yang kukuh menancap.

Dang Acarya menarik napas dalam untuk menetralkan amarah yang siap meledak. Sementara itu, Haryang dan Danuja ikut serta menghadapnya.

"Saya juga ikut keluar," celetuk Haryang dengan mata memerah.

"Danuja, tampaknya kau gagal mengemong mereka."

Mulut Danuja terbuka separuh mendapati dirinya disalahkan. Ia mengerling sinis pada dua saudara yang selalu membuatnya repot. Sekarang tambah lagi sesosok cantrik yang tampak melindungi Jaka Banyu.

"Bukan salahnya. Ini semua akibat dari kebandelanku. Mohon ampunmu, Dang Acarya. Saya minta diri." Jaka Banyu beringsut mundur, menjauh dari padepokan yang telah membesarkannya selama lima tahun.

Haryang melesat ke pondok untuk mengemasi barangnya serta barang Jaka Banyu yang tertinggal. Kemudian ia menyusul adiknya yang telah melewati gapura beriringan dengan Kesari.

Jaka BanyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang