Akrasia : Kasih Timbul dari Benci

157 33 13
                                        

Akrasia— campuran sifat jelek, sifat pemarah, tidak mampu mengontrol diri, tidak wajar.

Usai menyimak riwayatnya, lelaki itu masih mengotot bahwa yang diceritakan Ki Wirun —sang ayah— lebih bisa dipercaya. Ia menampik kalau Ni Amba merupakan ibu kandungnya. Yang tertanam dalam benaknya selama ini akulah sang ibu yang menelantarkan.

"Pokoknya Nyai harus mengakuiku sebagai anak!"

"Tak guna mendebat orang sepertimu, Banyu. Tenagaku habis sia-sia." Aku keluar gua dengan mata menyipit, beradaptasi dengan semburat mentari yang dikelilingi sisa awan kelabu.

Dua burung jalak berjingkat-jingkat di kiri-kananku bak pengawal yang menyambut tuannya pulang bertapa. Nahas, tapaku pupus di tengah jalan gara-gara makhluk tak tahu diri yang pernah kuhanyutkan di kali. Ia masih mengekoriku dengan ocehan yang kuanggap angin lalu. Jika mau, aku bisa menyumpal mulutnya dengan mantra supaya berhenti berkicau sumbang. Namun, aku tak tega berhubung rasa bersalah masih menggandrungi jiwaku selepas peristiwa pelarungan yang kulakukan semasa remaja.

"Nyai lihat jalak yang mengikuti kita? Kurasa itu pertanda bahwa kita harus selalu bersama."

Pemuda itu berhenti sejenak untuk mengamati perilaku aneh sepasang jalak.

"Benar, kan, satu jalak ini ikut berhenti saat aku berhenti. Sementara yang satunya tetap berjalan bersama Nyai. Mereka adalah kita sebagai makhluk lain."

Aku menahan langkah, jalak di sebelahku pun ikut berhenti dan mematuk rayap di bawahnya. Mendapati keanehan burung yang barangkali jadi-jadian itu, aku mengusirnya dengan gerakan tangan hingga ia terbang menjauh, diikuti pasangannya yang tadi membuntuti Jaka Banyu.

"Ah, Nyai sialan. Padahal mereka bisa dipelihara!" protes Jaka Banyu.

"Kau ingin memenjarakan dalam sangkar? Merenggut kebebasan sayap mereka untuk mengepak? Kau mau kehidupanmu dibatasi oleh jeruji sempit yang mengurungmu?" Aku terpancing untuk menceramahi niat tak terpujinya.

"Rupanya bertapa membuat orang semakin bijak."

"Sayangnya tapaku dihancurkan oleh orang tak bertanggung jawab."

"Omong-omong tanggung jawab, aku lupa bawa kembali payung Ki Winong!"

Aku membiarkannya melesat sendirian ke mulut gua. Kesempatan itu bisa kumanfaatkan untuk melarikan diri dan menghindari celotehnya, tetapi aku tak melakukan itu. Meski sifatnya sangat menguji kesabaranku yang setipis lembaran kapuk, aku cukup terhibur dengan kekonyolannya.

Tak perlu waktu lama baginya menyusul langkahku. Tak heran, ia pun sama-sama pendekar yang bisa berpindah tempat secara cepat. Itu ilmu meringankan tubuh bernama Ginkang yang cukup sepele dalam dunia pendekar.

"Bisakah diam dan berhenti membuntut?" tanyaku dengan nada mengancam.

"Tidak, sebelum Nyai mengakuiku sebagai anak," kekehnya seraya menenteng payung dan kentungan, menjajari langkahku di atas setapak sempit yang basah.

"Haruskah kuulang lagi kisahmu? Kau bukan anakku, Jaka Banyu. Aku belum bersuami, apalagi bersetubuh."

"Kalau begitu, jadikanlah aku suamimu!"

Mulutku ternganga, kutabok kepala botaknya. Sebelum tanganku mendarat di atas rambut cepak bagai duri anak landak itu, ia terlebih dahulu mencekal. Aku tak pernah bersentuhan dengan lelaki kecuali dalam perkelahian. Jaka Banyu tak kunjung melepas tanganku, netranya bergerak-gerak menyusuri setiap jengkal wajahku. Berada sedekat ini dengannya membuat kehangatan menjalari seluruh tubuhku hingga ubun-ubun. Oh, Bagelen! Di mana sisi kerasmu?!

Jaka BanyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang