17. Peristiwa di Gua

147 30 2
                                        

Tiba di mulut gua tahu-tahu hujan mereda, menyisakan rinai lembut yang tak berisik. Meski begitu, sang baskara masih bersembunyi di balik gumpalan mega mendung. Jaka Banyu tak gentar dengan hawa yang mengintimidasi, seakan-akan semesta menyimak tindakannya dalam hening. Geluduk tak buka suara, pohon bergeming, bahkan dedaunan pun enggan berkutik meski angin berembus.

Pendekar sedeng itu melempar asal payung yang dibawanya, kemudian mengarahkan pemukul kentungan pada sepasang burung jalak hitam yang berjingkat-jingkat mendekatinya. Burung itu terbang sebentar sebelum kembali lagi membuntuti Jaka Banyu yang mengendap-endap ke dalam nganga gua laksana mulut naga.

Netranya perlahan beradaptasi dengan kegelapan lorong batu yang lembap. Tak jauh dari mulut gua, terdapat sendang yang terbentuk dari tetesan air stalaktit. Ia membasuh kakinya yang menginjak kotoran kelelawar. Aroma kembang dan bakaran kemenyan menyeruak dari batu datar yang mirip altar.

Jaka Banyu terus menyusuri lekuk sakral itu, menemukan beberapa ceruk untuk bertapa. Setiap ceruk diperiksa serta diraba, sebelum menjumpai ceruk ketiga yang telah ditempati sosok perempuan berkebaya putih dengan rambut dikelabang. Tak cuma pakaiannya yang tampak mencolok, kulit perempuan itu pun tampak berpendar laksana Aditi sang dewi langit.

Raut damai itu lebih sejuk dipandang ketimbang saat melawan Danuja dengan alis bertautan tempo lalu. Sekeras apa pun karakter perempuan, sejatinya ia makhluk yang lemah lembut.

Puas mengamati ibunya, Jaka Banyu menyeringai sebelum mengangkat kentungan di depan wajah Nyai Bagelen.

Tung-tung-tung-tung-tung!

Bagelen membuka mata seiring pendar dari tubuhnya meredup. Ia beranjak sempoyongan dari posisi bersila, membuat Jaka Banyu kian antusias membuat keributan.

"Bocah biadab!"

"Akh!" Secepat panah kelodan, Jaka Banyu terpental akibat ditumbuk perempuan bertenaga danawa itu. Namun, di saat bersamaan ia melempar pemukul kentungan tepat mengenai kepala Bagelen.

Jaka Banyu memutarbalikkan keadaan setelah hampir kena bogem mentah Bagelen. Tak sulit memuntir kedua tangan sekaligus menjambak kepangan rambut Bagelen. Dalam tubuh yang berdekatan itu, Jaka Banyu mencium aroma melati dari sosok ibunya.

"Siapa kau?!"

Jaka Banyu menahan geli saat Bagelen menampakkan raut menantang meski kedutan di bibirnya tak dapat menutupi rasa sakit.

"Nyai jangan munafik! Berlagak melakukan tapa seperti pendeta. Padahal dosanya melampaui ketinggian Gunung Rogojembangan," sahut Jaka Banyu dengan mata berkilat-kilat penuh dendam.

Bagelen cukup gesit memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Lututnya menerjang abaimana Jaka Banyu yang tentunya membuat sang empu berteriak membahana hingga semua kelelawar mengepak-ngepak panik.

"Sundal keparat! Hancur sudah masa depanku," rintih Jaka Banyu kemudian meringkuk kesakitan.

Telapak kaki Bagelen yang kena tahi kelelawar pun mendarat di atas pinggang Jaka Banyu yang tak sadar bahwa sebilah keris telah siap menuris jakunnya yang naik turun.

Bukan perempuan yang bisa dibuat main-main, batin Jaka Banyu sesaat sebelum kena jambak Bagelen.

"Katakan apa maumu sebelum aku telanjur menyembelihmu!" gertak perempuan bermata tajam itu.

"Aku ingin me-menuntut keadilan." Jaka Banyu tak menghendaki suaranya gemetar hingga terbata-bata. Itu sangat menodai harga dirinya.

"Kita tidak saling mengenal. Keadilan apa yang kautuntut dariku?" Bagelen makin menekan kerisnya, sementara Jaka Banyu memejamkan mata mendapati kematian ada di hadapannya.

"Nyai pantas dihukum."

"Katakan terus terang! Lelaki jantan takkan banyak omong."

"Nyai menghanyutkanku saat aku bayi."

Kelopak mata Jaka Banyu terbuka kembali saat dinginnya lempengan besi tak lagi menempel di kulit lehernya. Bagelen terhuyung mundur dengan raut ngeri hingga kerisnya jatuh berkelontang.

Jaka Banyu memanfaatkan situasi untuk mendesak Bagelen hingga menubruk dinding gua.

"Siapa yang menceritakan itu?" hardik Bagelen dengan hidung kembang kempis.

"Tak penting siapa yang memberitahuku soal dosa besarmu, Nyai Bagelen. Aku, Jaka Banyu hendak membalas apa yang kala itu Nyai lakukan padaku."

"Kau salah paham, Banyu."

"Perempuan gila mana yang membuang anaknya sendiri?! Nyai cuma mau enak-enaknya saja, tapi tak mau tanggung jawab terhadap kehidupanku."

"Siapa yang bilang kau anakku? Kau salah paham. Siapa pun yang menceritakan asal-usulmu, dia tak tahu semuanya!"

Sekarang giliran Jaka Banyu yang terhuyung mundur dengan kerutan aneh di dahi. Bagelen melembutkan tatapannya, lambat laun kesedihan menerpa roman mukanya yang biasa kaku. Ia mengulurkan tangan, melangkah menuju Jaka Banyu yang terus mundur hingga tertahan oleh stalagmit.

"Sini, biar kujelaskan asal-usulmu."

Jaka BanyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang