26. Selamat Tinggal

178 43 8
                                        

Sejak mengalahkan pendekar Rogojembangan yang kutitahi untuk mengumpulkan pasukan makar, serta perlawananmu kemarin pada utusanku, telah sanggup membuatku terkagum-kagum akan kehebatanmu.

Merana nian aku cuma bisa memilikimu dalam angan-angan. Keberanianmu sungguh membuatku gila. Tak terbayang betapa adiwarna hidupku jikalau memiliki pendamping yang berpendirian macam dikau. Sudah anggun, tegas pula. Macam seekor angsa yang menawan. Bagaimana lelaki tidak mabuk kepayang mendengar namamu....

Nyai Bagelen, kumau kau menyandang gelar binihaji¹³ seorang Bhre Kembang Jenar. Sudikah kau?

*

Bagelen meremas rangkaian lontar beraroma cendana itu. Tak dihiraukannya raut Senggana yang membelalak kala surat titipan tuannya telah tertekuk dengan hina. Tak perlu susah payah untuk menulis surat balasan, Bagelen menggeleng tanpa gentar. Di belakangnya, Menik telah siaga jikalau Bagelen dibawa kabur Senggana.

"Aku ini Bagelen. Hidup bukan untuk kompetisi laku dipetik lelaki."

Senggana meneguk ludah susah payah, waspada kalau-kalau Bagelen membuatnya muntah darah seperti tempo lalu. "Apakah Nyai sungguh tak menyesal?"

"Jiwaku terlalu liar untuk dijerat belenggu istana. Aku lebih senang memperbanyak ilmu selama hidup yang singkat ini ketimbang melayani lelaki seumur hidup, apalagi hanya sebagai selir."

"Baru kali ini saya menemukan perempuan yang berani menolak kehendak laki-laki sekelas bhre."

"Aku punya karsa atas diriku sendiri. Jangan paksa aku. Bilang pada Bhre Kembang Jenar, Bagelen tak mau meninggalkan Tapak Dara sampai kapan pun!"

"Baik, Nyai. Kuharap Nyai tidak menjilat ludah sendiri."

Senggana menaiki kuda putihnya kemudian berlalu meninggalkan Bagelen yang meludah lalu berujar pada Menik, "Siapa juga yang mau menjilat ludah di atas tahi ayam itu?!"

***

"Utusan datang lagi! Utusan datang lagi! Segera masuk ke pondok!" seru salah satu cantrik yang kebetulan baru saja memetik cabai di luar gapura dan melihat kuda putih yang dikendarai Senggana.

"Tak ada kapok-kapoknya!" Bagelen berkacak pinggang menuju gapura, diikuti Menik.

Para cantrik mengintip dari celah dinding, menebak-nebak tujuan Senggana yang tak gentar pada gertakan Bagelen sepekan lalu.

Senggana turun di seberang gapura, merapikan ikat kepala sekaligus rambut panjangnya yang sebagian digelung. Rompi dan celana hitamnya tampak baru, bahkan tercium aroma pandan dari sosoknya.

"Gerangan apa Kisanak datang lagi? Mau memberiku hukuman atas penolakanku pada tuanmu?" Bagelen masih berkacak pinggang.

"Kedatanganku tak ada sangkut pautnya dengan Bhre Kembang Jenar. Aku pribadi hendak berkenalan dengan dia." Senggana mengarahkan maniknya pada Menik yang mematung di sebelah Bagelen. Lambat laun pipi mereka bersemu merah, membuat Bagelen menahan geli.

"Astaga, maafkan aku! Sana, Menik. Berjalan-jalanlah dengannya!" Bagelen memberi waktu untuk keduanya berbincang di bawah gapura. Ia sendiri memasuki dalem dengan perasaan campur aduk.

Ia mengintip dari jendela, mendapati gelengan Menik saat Senggana mengajaknya naik kuda. Senggana berlalu membawa semringah setelah mengangguk menerima pesan Menik.

"Menik, kau tahu apa yang kauperbuat?" tegur Bagelen sekembalinya Menik ke pasraman.

"Aku tahu betul. Kau tak berhak melarangku memilih jalan hidup!" balas Menik nyalang.

Bagelen terpana melihat perubahan Menik. "Kau akan meninggalkan Tapak Dara. Kau akan meninggalkanku. Aku tak mau kesepian."

Menik trenyuh melihat air di pelupuk mata Bagelen. Ketenangan jiwa perempuan itu berantakan sejak tapanya diusik Jaka Banyu. Beruntung Bagelen masih bisa menguasai emosinya yang mudah meledak-ledak. Kalau ia tak mampu mengontrol dirinya sendiri, Menik yakin sosok Bagelen bisa memiliki penyakit jiwa. Pantas saja Bagelen sangat membenci Jaka Banyu hingga sekarang meski terkadang merasa bersalah.

"Menikahlah, Bagelen. Ajak suamimu kemari. Kau tak perlu mengikuti jejak Nyi Kusuma atau pun Nyai Kowi. Kau berhak memiliki pasangan." Menik mencengkeram lengan Bagelen yang gemetar.

"Aku tak mau melayani laki-laki."

Menik mengusap pipi Bagelen yang basah. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Bagelen. Dulu kita sekamar. Aku tahu kau menghabiskan waktumu untuk ilmu dan ilmu. Sekarang kau perlu membuka lembaran baru."

"Aku tak bisa mencintai."

"Belum. Kau belum menemukannya, dan harus menemukannya. Kau tak mau, kan, kecantikanmu pudar begitu saja dimakan waktu, tanpa ada lelaki yang menikmatinya?" Menik terus mengusap pipi sahabatnya. "Kita ini perempuan, butuh pujian, butuh pengakuan. Kita butuh pasangan untuk melihat keistimewaan kita. Besok aku ikut Senggana ke istana. Aku hendak dinikahinya. Setelah itu aku bisa menjadi juru masak."

"Selamat." Bagelen tak tahu harus berkata apa lagi.

"Maafkan aku meninggalkanmu. Ini kesempatanku. Aku tak mau menjadi perawan tua."

"Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu." Bagelen mengangguk kemudian memeluk Menik. "Malam ini, tolong kumpulkan semua cantrik untuk makan bersama di lapangan. Makan bersama terakhir bersama kau."

_______
¹³ Binihaji : Istri selir.

Jaka BanyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang