25. Kedaton

173 37 2
                                        

1386 Çaka

Kembang Jenar sedang tidak baik-baik saja, tiga serangkai tahu pasti akan hal itu. Banyak cantrik mereka yang diboyong utusan kedaton menggunakan kereta kuda untuk bergabung dengan keprajuritan mereka. Jaka Banyu mempersilakan cantrik-cantrik yang antusias direkrut kedaton, tetapi menahan salah satu cantrik terbaiknya—Janaka.

"Pemerintah tetap terbuka jika kalian berubah pikiran," kata utusan yang bernama Senggana itu setelah tawarannya ditolak mentah-mentah.

"Sudah kubilang, kami takkan menjejaki lantai istana! Istana hanyalah ladang kepalsuan." kekeh Jaka Banyu sambil melotot.

"Mohon tata kramanya." Senggana mengingatkan.

"Jangan membicarakan tata krama setelah kau mengambil paksa murid-muridku!"

Haryang dan Kesari mencekal lengan Jaka Banyu yang beranjak mendekati sang utusan.

"Apakah mereka tampak terpaksa?" tukas Senggana kemudian menengok pada cantrik yang tertawa-tawa di dalam kereta kuda.

"Maaf, Kisanak. Lebih baik Anda cepat membawa mereka. Kami masih harus di sini untuk menjaga padepokan," usir Haryang secara halus.

"Dan mendidik cantrik yang tersisa," timpal Kesari masih memegangi Jaka Banyu yang siap menjotos Senggana.

Empat tahun menyandang gelar Dang Acarya serta melaksanakan tanggung jawab secara baik membuat nama Jaka Banyu dan kedua rekannya dikenal seantero Kembang Jenar. Anak didik mereka membaur dalam masyarakat dan menunjukkan sikap yang mencerminkan betapa bagusnya akreditasi padepokan itu.

Jantung Kembang Jenar yang masih berseteru dengan Majapahit pun memanfaatkan adikara dengan cerdik. Jaka Banyu tak mampu menolak titah Bhre Kembang Jenar, ia tak mau kepalanya terpenggal sia-sia. Anak didiknya memang kecil-kecil cabai rawit. Mereka gesit meringkus bandit di pasar maupun di jalan lengang. Sayang, mereka telah diambil kedaton.

"Maaf, Janaka. Aku terpaksa menahanmu karena masyarakat sekitar masih membutuhkanmu. Kalau kau ikut ke istana, siapa yang akan blusukan mencari penjahat?" tutur Jaka Banyu saat bertandang ke pondok Janaka.

Pendekar berusia tiga belas tahun itu mengibaskan tangannya santai. "Dang Banyu tenang saja. Aku lebih suka tinggal di sini. Benar kata Dang Banyu, bahwa istana adalah ladang kepalsuan. Aku pernah mendengar Dang Haryang yang mengisahkan tumpah darah keluarga istana Majapahit. Ronggolawe dibunuh Mahisa Nabrang, Mahisa Nabrang dibunuh Lembu Sora, Lembu Sora dibantai pengawal raja. Prabu Jayanegara dibunuh Ra Tanca yang lalu dibunuh Jaka Mada. Belum lagi pemberontakan lain yang mendarah daging di Majapahit hingga sekarang. Untuk apa aku gila istana?"

Jaka Banyu melongo. Ia yakin Janaka akan menjadi orang yang lebih hebat daripadanya. "Bagus, Janaka. Pertahankan pendirianmu." Jaka Banyu menepuk pundak anak emasnya itu sebelum berlalu.

***

Bagelen menyerang Senggana saat utusan itu tak bisa dibaiki. Bagelen tak suka dipaksa, terlebih utusan itu mendesak anak didiknya memasuki kereta kuda yang telah berisi cantrik padepokan lain.

"Sekali kubilang tidak, maka TIDAK!" Bagelen menyodok ulu hati Senggana menggunakan tenaga dalam yang tak main-main.

Senggana muntah darah dan meromok di atas tanah. Napas cantrik di dalam kereta kuda tercekat saat melihat darah menetes-netes di tanah gersang. Menik menghampiri Senggana, membantunya berdiri setelah menotok punggungnya guna memberikan tenaga.

"Pergilah selagi sempat. Nyai Bagelen tak bisa kau lawan," bisik Menik yang lebih berbelas kasih ketimbang Bagelen.

Senggana lekas mengendarai kereta kudanya kemudian melesat kembali ke kedaton. Ia tak menyangka kabar burung yang tersebar sepenjuru negeri ternyata benar, bahwa Bagelen tak bisa dibuat main-main.

"Terima kasih, Menik. Kalau kau tak datang, mungkin utusan itu takkan selamat." Bagelen mengelus-elus dadanya untuk menurunkan amarah.

"Istirahatlah, Bagelen. Utusan itu sudah mengacaukan meditasimu. Wajar bila kau murka," sahut Menik, mengantar Bagelen ke dalem.

Sekembalinya Menik ke lapangan untuk mengajar bela diri, Bagelen termenung. Ia merasa ada yang hilang dari hatinya. Bahkan setelah ia resmi menggantikan kedudukan Nyi Kusuma yang sekarang tengah bertapa di gua, ia masih merasa kesepian.

Seseorang akan terasa berharga saat orang itu sudah pergi. Ia masih merasa bersalah atas ucapannya pada Jaka Banyu. Ia sudah mendengar sepak terjang Jaka Banyu dalam mendirikan padepokan di pesisir utara. Bocah ingusan itu kini sudah setara dengannya.

Jaka BanyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang