21. Mendirikan Padepokan?

135 32 8
                                        

Mati-matian Haryang mengikat diri untuk tidak berjingkrak kala Kesari menyandarkan kepala di pundaknya. Rupanya sajak yang berasal dari hati terdalam mampu mengambil hati Kesari yang mulanya tertarik pada Jaka Banyu.

Untuk memastikan hubungannya bukanlah cinta segitiga, Haryang menyeletuk, "Jujurlah, kau memilihku atau Banyu?"

"Setelah apa yang kuperbuat sekarang, perlukah kau bertanya?" Kesari kian bergelayut manja di lengan Haryang yang tak dapat menahan rekah di bibirnya.

"Kau sempat tertarik pada Banyu. Apa yang membuatmu berubah pikiran?"

"Diam-diam sikapmu lebih manis dan pemikiranmu lebih dewasa ketimbang adikmu. Aku sempat naksir Jaka Banyu lantaran tampilan luarnya saja. Sekarang mataku terbuka, bahwa keelokan fisik bakal tergerus waktu, tetapi tidak dengan sifat."

"Mau ikut ke pasar, tidak?!"

Mulut Haryang mengerucut lantaran adiknya merusak halimun asmara yang baru saja melingkupinya dengan kehangatan. Kepala botak itu mendongak dari bawah karang, menanti mereka berdua untuk turun ke pasar.

Siang menjelang sore bukanlah waktu yang tepat untuk membeli ikan segar, mujurlah setiap waktu ada saja ikan yang bertumpukan di balai-balai. Lokasi pasar ikan tak jauh dari bibir pantai. Perahu-perahu nelayan berjajar di depan bangunan-bangunan peneduh beratap daun nyiur. Bau amis menyodok paru-paru ketiga pendekar yang cuma terbiasa dengan udara pegunungan itu. Batuk mereka membuat beberapa pedagang tertegun mendapati wilayah mereka dijejaki pendekar yang hidupnya di dataran tinggi sana.

"Dari perguruan mana?" tanya si penjual setelah Jaka Banyu memesan setengah kilogram ikan laut.

"Rogojembangan," jawab Jaka Banyu.

"Mau mendirikan padepokan di sini?"

"Cuma jalan-jalan."

"Yah, padahal tempat ini butuh pendidikan." Penjual itu mendekatkan mulutnya di telinga Jaka Banyu yang siap dibisiki, "Anak-anak di sini bahlul semua, tak tahu bela diri, apalagi baca tulis."

Jaka Banyu mengerling pada Haryang dan Kesari yang mengangkat alis penasaran. Ia kemudian tersenyum miring akibat lampu di kepalanya menyala benderang tanda mendapat ide cemerlang.

***

Angin senja terasa nikmat bila bersahabat dengan api unggun. Benang jingga menyembul dari mulut gua untuk menggauli jago kebiruan yang melalap ranting serta dedaunan kering. Jaka Banyu tak henti-hentinya terbahak mendapati Haryang yang mengucilkan diri di sudut gua setelah mencak-mencak.

"Kau ini sudah dewasa, Kakang. Apakah umur hanyalah angka?"

"Jangan ajak aku bicara!" tekan Haryang kemudian kembali menghadap dinding.

"Sudahlah, Manisku. Cuma perkara api unggun," timpal Kesari menahan geli.

Jaka Banyu berlagak ingin muntah sebelum lanjut mengolok-olok kakaknya, "Aku, kan, punya ilmu pengendali api. Tak heran itu langsung menyala di tanganku."

"Itu menyala karena kau menggesekkan ranting. Ya kali dari tanganmu keluar api. Pengendali api? Cih, coba saja kau bisa menundukkan perempuan sepanas Bagelen, baru aku percaya."

"Ssstt, dia marah betulan," bisik Kesari menghentikan Jaka Banyu yang hendak melanjutkan kelakarnya.

Jaka Banyu kembali terpusat pada ikan bakar yang kehitaman dalam tusukan bambu. Agaknya Haryang yang pendiam itu benar-benar mengamuk, terbukti barusan ia mengucapkan kalimat panjang tanpa terbata-bata.

Mereka menggigiti daging ikan ketika mentari berlabuh di peraduan. Sebelum api unggun kehabisan bahan bakar, Jaka Banyu mengutarakan gagasannya dengan seringai ambisi.

"Sebenarnya, ke mana tujuan kita?" pancingnya.

"Entah. Kami, kan, ikut pergi karena kau," sahut Kesari.

"Tepat. Kita tak punya tujuan. Aku hendak mendirikan padepokan di sekitar sini."

"Yang benar saja. Ilmu kita belum cukup," seloroh Haryang yang masih dalam suasana hati buruk.

"Hari ini kau terlalu banyak cakap, Kakang. Asal kau tahu, aku tak memintamu ikut perjalananku."

"Jika mengandalkan kecukupan ilmu yang tak ada batasnya itu, sampai kita berjamur pun takkan merasa cukup. Justru dengan mendirikan padepokan, kita bisa mengajar sambil belajar. Bukankah begitu, Banyu?"

"Tepat, Kesari. Aku yang akan mengajar bela diri, Kakang mengajar baca tulis dan olah batin. Sementara kau, Kesari, ajarilah bagaimana cara memanah dan memakai senjata lain."

Kesari bertepuk tangan riuh menyambut rangrangan itu, kemudian menyikut Haryang yang juga ogah-ogahan ikut bertepuk tangan.

"Malam ini kita puaskan untuk tidur. Besok subuh sampai petang, kita harus semadi untuk menyucikan diri dari energi negatif. Dalam semadi itu, aku yakin kita akan menemukan nama dan hari yang pas untuk meresmikan padepokan kita," pungkas Jaka Banyu tepat sebelum pendar api unggun memudar ditelan kegelapan.

"Tumben kau berpikir," celetuk Haryang sebelum mengaduh lantaran didepak Jaka Banyu.

Jaka BanyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang