"Mau ke mana bocah sedeng itu?" tanya Danuja kalut setelah seruannya terhadap Jaka Banyu diabaikan.
"Dia kabur." Haryang menunduk, hatinya terasa hilang sebagian.
"Kenapa tidak kaucegah?!"
"Sudah! Tapi dia langsung keluar." Haryang menyesali perkataan yang barangkali membuat adiknya dendam.
Digugah tengah malam saat sekujur badan kelelahan membuat Haryang tak berpikir dulu sebelum berucap. Terlebih, Jaka Banyu mengajaknya bertindak buruk, padahal Haryang merupakan pribadi yang selalu mengikuti aturan. Jelas membuatnya tambah jengkel hingga lidahnya licin.
Sekarang cuma penyesalan yang merundungi benak Haryang. Mau menyusul pun, Jaka Banyu tak membeberkan lokasi Nyai Bagelen yang menjadi tujuannya.
***
Senandung Jaka Banyu menyisir setapak di tengah gelita wana. Tangannya berayun senada dengan langkah kaki. Kadang ia tertawa sendiri hingga pemburu yang berpapasan dengannya benar-benar mengira ia pendekar sedeng. Ia cuma teringat kejadian-kejadian jenaka saat baru menjadi siswa padepokan lima tahun lalu, di mana ia dan Haryang melakukan ketololan hampir saban hari hingga teman-teman menjuluki mereka sang abanol⁶. Ia berhenti melengkungkan bibir ketika dicegat seseorang.
"Wah, wah, wah. Enteng sekali cekikikan di wilayahku."
Jaka Banyu menajamkan penglihatan pada siluet bertubuh tegap yang menjengul dari belukar semak pakis.
"Jangan lewat sini kalau tak mampu bayar!"
"Mau memalakku? Aku tak punya apa-apa." Jaka Banyu berkacak pinggang.
Secepat kedipan mata, siluet pemuda itu melakukan tendangan sabit yang membuat Jaka Banyu terbungkuk menahan nyeri di perutnya. Tak mau kalah, Jaka Banyu mendongak kemudian memukul rahang lawannya dengan pukulan bandul hingga siluet itu terhuyung mundur, sementara jemari Jaka Banyu terasa nyut-nyutan.
Tak menyia-nyiakan kesempatan saat lawannya mengelus rahang, Jaka Banyu mengangkat lututnya kemudian mendorong tungkai ke dada siluet itu.
Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan semakin gesit, membuat debu di bawah mereka mengepul. Siluet itu memakai penutup wajah dari kain, hanya matanya yang kelihatan familier bagi Jaka Banyu.
Merasa lawannya tak mudah tumbang sementara tenaga kian terkuras, Jaka Banyu mendapat ide untuk mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat menyerah. Namun, siluet itu tak berhenti sebelum Jaka Banyu ambruk.
Jaka Banyu gesit menjulurkan tangan untuk menyingkap penutup wajah lawannya. Ia terenyak saat sosok di hadapannya juga mematung dengan posisi siap menangkis. Meski gelap, netra keduanya mampu beradaptasi dengan malam. Sebelum lawan yang terungkap identitasnya itu lepas dari keterpakuan, Jaka Banyu segera menancapkan kuku di bawah ketiak sosok itu yang melaung kesakitan.
"Cukup, Banyu! Kau menang!"
Jaka Banyu tertawa sinis dan menyeletuk, "Untuk apa Kang Danuja menguntitku?"
"Untuk apa kau kabur lagi?" Danuja balas bertanya sembari mengusap-usap ketiaknya.
Ilmu Danuja memang di atas Jaka Banyu, tetapi jika bawahannya itu sudah tahu titik kelemahannya, Danuja kudu mengalah jika tak mau mampus duluan.
"Sudah kubilang aku akan mencari ibuku."
"Apa untungnya bagimu?"
"Aku hendak menuntut penjelasan mengapa ia membuangku."
"Banyu, jika kau pergi, aku dan Haryang yang akan disalahkan. Jangan menimpakan masalah pada kami. Kau harus ikut aku kembali!"
_______
⁶ Abanol : Pelawak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaka Banyu
Fiksi SejarahHanya Jaka Banyu yang berani mengusik pertapa menggunakan kentungan. Ia hendak mengusut masa lalu sebelum pertapa itu moksa, hilang takkan bereinkarnasi lagi. Namun jika salah orang, apa yang bakal dilakukan pertapa itu untuk melampiaskan amarahnya...
