"Halo, cantik."
Anca mendengus, tidak menjawab sapaan Arga yang ada di depan pintunya. Mendapat wajah kesal dari kekasihnya membuat senyum Arga memudar, ia mendorong tubuh Anca masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar. "Kenapa?"
"Awas, gue mau ketemu sama orang."
"Ya ayo, gue anter."
"Gak usah, gue dah pesen grab." Anca berusaha menggeser tubuh Arga dari belakang pintu. Melihat wajah Arga rasanya ingin Anca cakar saja.
"Kenapa, sayang?"
"Keluar, bentar lagi udah datang abang grab nya."
Arga mengganti posisi mereka, mengurung Anca di belakang pintu dengan tangannya yang berada di sisi kepala gadisnya. "Gak boleh pergi sebelum lo jelasin ke gue. Lo kenapa?"
"Pikir pakai otak lo! Gue bisa ter-"
"Om Yud sama tante Mora gak ada di rumah, teriak aja."
Anca menggeram. "Lo punya otak kan? Kenapa masih nanya ke gue kenapa."
Arga menghela nafas panjang. "Cantik, semalem gue udah minta maaf karena gak ngabarin lo setelah tanding. Tapi, sama lo gak di jawab sampai sekarang. Gue dateng karena gue mau ngomong sama lo. Gue minta maaf, sayang."
Anca menatap tajam mata Arga, tidak adakah niat pemuda itu menceritakan siapa gadis yang bersamanya kemarin? Anca tidak akan bertanya, biar Arga sadar dulu kenapa.
"Cantik ...."
Anca terkekeh sinis, "Panggil aja cantik lo yang lain."
Arga semakin mengerutkan keningnya. "Gak ada, cantiknya gue cuma lo."
"Really?"
"Sumpah, sayang."
Anca menganggukkan kepalanya. "Oke. Sekarang awas, gue mau pergi."
Arga menahan bahu Anca yang sudah akan beranjak. "Gue belum selesai ngomong. Kenapa? Lo gak mungkin kayak gini kalau gak ada apa-apa."
Arga ganteng, lo punya otak kan? Kemarin ngapain dan sama siapa pikir dulu, ya. Otak lo di pakai, jangan nanya gue. Lo cowok peka, Ar, harusnya tau kenapa. Sekarang, biarin gue pergi tanpa lo temenin karena gue mau ketemu temen kuliah gue, baru kenalan, dan jelas cewek." Anca menakan kata 'cewek' itu.
Arga menganggukkan kepalanya dan menghirup nafas panjang. Ia mengusap puncak kepala Anca. "Setelah gue tau apa yang buat lo gini, izinin gue ngomong sama lo, ya? Lo jangan pergi kalau gue ngomong dan dengerin itu."
"Iya."
Tangan Arga masih mengelus lembut rambut Anca. "Kalau gak mau kabarin gue waktu udah sampai, kabarin mami papi lo."
"Iya."
Arga melepaskan tangannya dan Anca langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Ia menatap punggung Anca yang sudah hilang dari pandangannya. Memilih untuk menutup pintu kamar Anca dan berbaring di kasur gadisnya. Menatap langit-langit kamar Anca sambil memikirkan apa salahnya. Ini tidak mungkin hanya karena ia tidak mengabari, pasti ada hal lain.
'Panggil aja cantik lo yang lain'. Kata-kata itu terus terngiang di kepala Arga. Cantiknya? Yang lain? Tidak ada dan tidak akan pernah ada. Cantiknya dari dulu, sekarang, dan sampai nanti hanya Anca. Arga mengacak rambutnya, membuka ponselnya dan tidak ada yang aneh.
Tapi... sebentar.
Arga membuka instagramnya dan melihat snapgram Davin-- teman futsal nya kemarin. Ya, sepertinya Arga sudah menemukan penyebabnya. Arga menepuk keningnya, goblok sekali dirinya! Tidak mengabari Anca dan gadis itu malah melihat dirinya bersama gadis lain yang tengah bercanda. Mampus, tamat riwayatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANCAARGA
Romancesaling percaya dan melengkapi satu sama lain itu yang selalu dilakukan mereka berdua langsung baca aja yaa!! Inget ini cuma fiksi be wise temen temen
