🔞🔞🔞🔞 3/4 dari buku ini isinya 21+ 🔞🔞🔞🔞
Read at your own risk
Nicholas Payne, laki-laki maskulin, cerdas dan sangat tampan, berusia 27 tahun pemilik club malam terbesar di Amerika, pemilik perusahaan penyewaan tentara bayaran, The Punisher da...
Gue berlutut dihadapan Maria. Wanita paruh baya yang sudah gue anggap seperti ibu gue sendiri, wanita paruh baya yang seharunya gak pernah nyaksiin semua kengerian ini. Seusianya, seharusnya dia bahagia bersama anak dan cucu-cucunya, tapi dia harus hidup seperti ini. Gue usap lembut kedua lututnya, seperti seorang anak yang menenangkan Ibunya
"Maria, tolong kamu disini saja. Aku dan Nicholas yang pergi. Kami gak akan lama"
Maria yang sedari tadi menangis, duduk lemas di sofa, hanya menangguk. Dia membenarkan syal yang melingkar punggung dan lengannya.
"Hati-hati lah, jaga dirimu dan Nicholas"
Gue mengangguk pertanda mengiyakan permintaan Maria. Gue dan Nicholas pun beranjak pergi. Kita berdua ada di mobil yang sama dan diikuti oleh beberapa mobil bodyguard dibelakang. Gue ada di kursi penumpang dan Nicholas ada dibelakang kemudi mobil. Gue biarkan dia menyetir karena memang cottage itu belum pernah gue datangi. Gue merogoh kantong belakang kursi untuk ngambil laptop yang memang gue simpan disana
"Nick"
"Hmm"
"Kalau benar dia Kamia dan yang culik Mia adalah Kevin, apa yang akan lo lakuin?"
Gue lihat genggaman tangan Nick di kemudi mobil menguat, jari-jarinya mulai memerah. Ekspresi wajahnya datar tapi rahangnya menguat. Yang gue yakin dia marah, tapi pada siapa? Kevin atau Mia?
"Liat nanti"
Gue mengangguk tanda mengerti, gue gak mau tanya lebih lanjut. Gue kenal Nicholas, tapi Nicholas yang ini jujur gue gak kenal. Gak pernah seumur hidup gue sama dia, Nicholas sepanik dan seniat ini untuk cari seorang wanita. Walaupun gak ada kata yang keluar dari mulutnya, tapi gue yakin Nick ada rasa ke Mia. Siapa yang gak akan punya rasa ke Mia? Dia cantik, baik, periang dan lembut, dia juga wanita yang tangguh dan pemberani.
Gue sibuk dengan laptop yang ada di paha gue, berusaha menggali informasi apapun yang gue bisa dapat tentang keluarga Westerling. Gue tau kejadian itu dan masih melekat diingatan gue apa yang Theo, bokapnya Nick lakukan waktu itu. Tapi apa benar Theo adalah dalang dari kejadian terbunuhnya seluruh anggota keluarga Westerling? Kalau benar, kenapa keluarga von Dyke berdiam diri dan kabur? Bukannya mereka bertiga sahabat dan rekan bisnis yang akrab? Tapi kalau benar Mia itu adalah anak keluarga Westerling, apakah Mia sengaja datang ke kehidupan Nick untuk balas dendam?
Kedua jari gue menari-nari di atas tracking pad dan kedua bola mata gue bergerak dari kiri kenana, membaca satu persatu artikel dan dokumen kepolisian yang bisa gue dapatkan. Dari hasil olah TKP, ada empat jenazah yang sudah rusak terpanggang dirumah itu, dan dua diantaranya perempuan dan dua laki-laki. Westerling punya dua anak, berarti, data post mortemnya itu benar. Lalu kenapa Nicholas yakin kalau Mia itu anak keluarga Westerling?
Gue terlalu larut dipikiran gue sendiri, sampai-sampai gue gak sadar kalau kita sudah sampai di cottage yang Nicholas maksud. Bangunan rumah dari kayu yang cukup besar terletak di pinggiran danau, cukup terpencil dan jauh dari lokasi perumahan penduduk.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nicholas langsung turun dan buka pintu rumah itu. Well, apa yang gue harapkan? Rumahnya cukup berdebu, semua perabot ditutupi kain putih, sepertinya gak ada satu orangpun yang peduli sama bangunan ini.
"Kalian semua cari dokumen disekitar rumah ini. Apapun yang bisa kalian dapatkan tentang keluarga Westerling"
Semua bodyguard mengangguk dan mulai menyebar ke segala arah, ada yang ke basement, ke ruang keluarga dan ada juga yang ke lantai dua
Nicholas langsung mengarah ke sebuah ruangan dengan pintu ganda yang juga terbuat dari kayu. Gue yakin dibalik ruangan itu ada dokumen yang kita cari. Dan yeah, ruangan besar dengan meja kerja didekat tembok dan rak-rak buku disekeliling ruangan. Nick langsung membongkar laci-laci yang ada dimeja itu, mengeluarkan semua tumpukan dokumen-dokumen disana. Gue mengedarkan pandangan gue ke sekeliling ruangan ini, banyak barang-barang antik, buku-buku tebal yang lama dan tepat diujung ruangan, ada brankas besar dengan pintu berwarna hijau telur asin teronggok disana.
"Nick, disana ada brankas"
Nicholas menengok sebentar kearah tangan gue menunjuk
"Lo coba buka"
"Lo tau sandinya"
"Gak, tapi coba apapun yang bisa lo pikirin"
Gue berusaha pakai semua kombinasi yang memungkinkan, mulai dari tanggal lahir bokapnya Nick, tanggal lahirnya Nick, kombinasi angka kelahiran, nomor alamat rumah, tapi gak ada yang berhasil. Apa? Sandinya apa bangsat?! Apa yang ada di brankas ini sampai sesusah itu untuk dibuka? Gue yang mulai gak sabar, ngambil pistol yang memang selalu gue bawa
DOR
DOR
DOR
Kepala Nick seketika menengok ke arah gue diikuti dengan gemuruh bodyguard dari arah luar yang berlari ke dalam ruangan sambil memegang pistol
"Tenang-tenang, tadi itu gue"
Wajah tegang dari seluruh bodyguard seketika lenyap ketika tau itu dari pistol gue
"Sekarang, lo bantu gue buka ini brankas"
Ada 5 orang yang berusaha mencongkel brankas itu dan akhirnya setelah mencoba dengan berbagai cara, termasuk mencongkel pakai linggis, akhirnya pintu brankasnya terbuka. Ada 4 kotak besar disana dan dengan hati-hati semua kotak itu dikeluarkan disusun bersebelahan di atas meja.
"Nick, liat"
Nick yang dengan setengah lari datang dan duduk di sofa seberang gue. Satu persatu kotak itu dibuka dan di kotak ketiga ada sebuah foto. Nick mengangkat foto itu dan melihatnya dari dekat. Gue langsung duduk di sebelah Nick untuk lihat foto itu dan....what the fuck! Itu Mia! Ini Mia. Di foto itu ada Mia yang usianya mungkin sekitar 9 atau 10 tahun sedang duduk di ayunan dengan daun putihnya dan bando merah diatas kepalanya. Gadis kecil itu tersenyum dengan gigi depan yang bolong ke arah kamera dan anak kecil laki-laki yang juga diayunan bersamanya itu, tunggu.....Nicholas? Foto ini agak buram, tapi dari bentuk dan raut wajahnya, gue sangat yakin bocah laki-laki ini adalah Nicholas
"Nick, ini lo?"
Nicholas hanya diam mematung. Gue rebut foto itu dengan mudahnya dari tangan Nicholas. Tunggu, ini gue gak salah liat? Ini Mia sama Nicholas? Betul? Gue gak salah lihat kan ini? Tapi kenapa selama ini Nicholas gak pernah sadar kalau mereka saling kenal? Dan kenapa selama ini Nicholas perlakukan Mia seburuk itu?
"Nick! Ini lo?"
"HEH JAWAB GUE!"
Nick masih diam, tatapan matanya kosong, nafasnya sedikit lebih tenang dari biasanya dan diam seribu bahasa.
"HEH! GUE NGOMONG SAMA LO BANGSAT!"
Tanpa menoleh ke arah gue, "Ya, itu gue. Itu gue sama Mia"
Gue terduduk lemas ketika gue dengar itu. Gue tatap sekali lagi foto yang ada ditangan gue. Mia, kenapa lo gak jujur tentang identitas lo? Apa yang lo rencanain?
River
NB: Hallo readersnya The Temptation, maafin banget kalau author baru update setelah berbulan-bulan hilang. Author baru aja pindah ke tempat baru dan sempat jatuh sakit berbulan-bulan. Semoga setelah ini Author gak sakit-sakit lagi ya, mohon doanya banget.Mohon doanya juga supaya Author rajin upload dan dianugrahi ide-ide yang bagus untuk kelanjutan cerita ini. Ditunggu yaa, xoxo.