37 - Come To Me, Mia

539 11 2
                                        


Nicholas

"Trav, lo ikut gue!"

"Kita mau kemana? Lo udah yakin sama tujuan kita?" Travis bertanya, suaranya tegang.

Gue tatap Travis sekilas dan mengangguk "100%"

Gue dan Travis juga beberapa bodyguard, dengan kecepatan tinggi, berusaha sampai ke tempat itu secepat mungkin. Gue yakin Mia pasti ada disana. Kalau Kevin yang culik Mia, pasti mereka ada disana. Butuh 40 menit untuk sampai dipintu masuk pemakaman yang tertulis di dokumen itu. Roda mobil berdecit tajam saat gue membelokkan setir, mempercepat laju menuju pintu gerbang besar bertuliskan "Grand Haven Cemetery." Angin sedikit kencang, membuat dahan-dahan pohon melambai dengan kuat, seolah-olah tempat ini tau gue akan datang dan seolah-olah menyimpan sesuatu yang tidak ingin ditemukan. Tanpa berkata apapun, dari sudut mata gue Travis melirik gue sedikit, dan gue yakin Travis tau maksud gue sekarang.

Di dalam pemakaman, gue yakin Mia ada di sini. Jika Kevin yang membawanya, dia pasti ada di tempat ini.

Gue pelankan mobil sejenak, untuk cari lokasi makamnya yang disebutkan dalam dokumen. Dari jauh, gue melihat ada mobil dan dua orang, laki-laki dan perempuan, diujung baris makam. Meskipun dari jauh, gue sangat familiar dengan tubuh wanita itu. berhenti di depan gerbang. Gue keluar lebih dulu, diikuti Travis dan beberapa bodyguard. Langkah gue cepat, seakan-akan hati dan otak gue udah penuh amarah dan kegelisahan. Semakin gue mendekat ke kedua orang itu dan benar dugaan gue. Mia terduduk di tanah, menangis dengan wajah tersembunyi di kedua tangannya. Kevin merangkulnya, wajahnya penuh tipu daya yang membuat darah gue mendidih.

Gue mematung sejenak, menyerap pemandangan itu. Mia gue dan Kevin! Apa-apaan ini. Travis menatap gue dari sudut matanya, memberi isyarat siap bertindak jika gue menginginkannya.

"Mia!" suara gue menggema di antara makam-makam.

Mia mendongak dengan mata sembab. Kevin berdiri, menatap gue dengan tatapan menantang.

"Nicholas," suara Mia yang parau dan agak sedikit tercekat. Mia buru-buru berdiri, merapikan roknya yang terkena tanah dan rumput

Gue berjalan mendekat. "Mia, ikut gue pulang."

Mia hanya diam, tatapannya terombang-ambing antara gue dan Kevin. Kevin melangkah maju, berdiri di antara gue dan Mia. Wajah angkuhnya, mirip wajah bengis bapaknya.

"Dia nggak mau ikut lo," ucap Kevin dengan senyum sinis. "Dia lebih baik sama gue."

Gue mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak menghajar wajahnya di tempat. "Mia, gue nggak akan ulang dua kali. Ikut gue sekarang."

Mia berdiri mematung, wajahnya penuh kebimbangan. Kevin mencoba menarik lengan Mia dan posisikan tubuh Mia dibelakang tubuhnya. Tapi gue dengan cepat, meraih tangan Mia dan menariknya menjauh dari Kevin, ke arah gue. Alhasil, tubuh Mia tertarik dan jatuh ke pelukan gue. Kevin yang gak terima, mendekat dan hampir mengantarkan bogem panas ke wajah gue, tapi untung Travis dengan sigap menahannya. Alhasil, Travis dan Kevin beradu tatap dan Kevin menarik pergelangan tangannya yang digenggam Travis

"Mia, ayo pulang sama aku. Aku akan jaga kamu. Jangan kamu ikut dia"

Tanpa memberi kesempatan untuk Mia jawab, gue tarik lengan Mia dan masukin dia ke mobil. Travis dengan penuh kesadaran, ikut di mobil bodyguard.  Perjalanan pulang dipenuhi keheningan yang berat. Gak ada satu katapun dari kita berdua. Setibanya di rumah, gue turun lebih dulu, membiarkan Mia berjalan di belakang gue.

Maria, melihat kedatangan kami dari lantai atas. Dia langsung berlari menuruni tangga, wajahnya penuh kekhawatiran. "Mia!"

Namun sebelum Maria sempat mencapai Mia, gue menodongkan pistol ke arah Mia. Semua orang terdiam. Wajah Mia memucat, tetapi dia tidak bergerak.

"Nicholas! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Maria, panik.

"Mia," suara gue pecah di tengah keheningan. "Siapa lo sebenarnya? Mau apa lo di sini? Apa tujuan lo? Lo mau balas dendam? Lo pura-pura datang dengan identitas palsu untuk menipu gue, ya?"

Pertanyaan gue meluncur seperti pisau tajam, tapi Mia tidak bereaksi seperti yang gue harapkan. Bukannya menjelaskan atau menangis lebih keras, dia justru menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.

"Saya tidak punya tujuan apa-apa, Tuan"

"Stop bohong ke gue!" teriakan gue membuat semua orang terdiam, termasuk Travis. Tapi, Mia malah berjalan perlahan ke arah gue. Jarak yang tadinya cukup jauh, lambat laun kian mengikis. Tatapan Mia gak pernah sekalipun lepas dari mata gue, tatapan yang gak bisa sama sekali gue baca.

"Mencintaimu ternyata sebuah kesalahan yang dibuat oleh hatiku, bukan otakku," ucap Mia dengan suara yang bergetar, tapi tegas. "Jadi, kalau Tuan ingin mengakhirinya sekarang, lakukanlah. Tapi tolong, arahkan senjata itu agak jauh. Aku tidak ingin ada noda darahku di baju Tuan."

Gue terdiam, terpaku oleh kata-katanya yang tidak gue duga sama sekali. Mata gue tetap tertuju padanya, tapi tangan yang memegang pistol mulai melemah. Semua orang di ruangan itu membisu, bahkan Maria, yang sebelumnya memohon dengan suara penuh emosi, kini terdiam, terpaku oleh keheningan yang terasa menyesakkan.

"Mia," gumam gue, hampir tidak terdengar. Tapi dia hanya menatap gue, air matanya akhirnya mengalir tanpa ia coba hentikan.

"Ini cara yang saya inginkan untuk mengakhiri semuanya," lanjut Mia, suaranya semakin lemah. "Setidaknya, saya bisa pergi dengan damai, menemui orangtua saya. Saya tahu hidup saya ini bukan milik saya lagi sejak saya bertemu dengan Tuan."

Entah kenapa gue merasa dada gue sesak. Rasa marah, bingung, dan sakit hati bercampur menjadi satu. Kata-katanya menggema di kepala gue, membuatku mempertanyakan segalanya.

Gue menarik Mia ke atas. Mia yang tergopoh-gopoh mengikuti gue dan Maria berkali-kali memohon ke gue untuk tidak menyakiti Mia. Gue bawa Mia ke kamar gue , dan sebelum gue tutup pintu "Jangan ada yang ganggu!" teriak gue dan gue banting pintu kamar gue.


Di dalam kamar, gue melempar Mia ke ranjang. Jas yang gue pakai terasa begitu mengganggu, dan gue melepasnya dengan kasar. Langkah gue mendekat ke ranjang, sementara Mia meringsut ke tengah, tubuhnya gemetar. Mia beberapa kali menelan ludah dan matanya sesekali terpejam. Keringat mulai muncul di sekitar dahi dan lehernya...Sexy... Tapi ini bukan saatnya gue menikmati tubuh Mia

Gue menunduk, menatap wajahnya. "Apa aja yang udah lo lakuin sama Kevin?"

Mia diam. Gue semakin mendekat, jari-jari gue menyentuh lehernya yang dingin.

"Kevin pernah sentuh lo?" tanya gue lagi, suara penuh ancaman.

"Kenapa diem?"

Ujung jari-jari gue bergerak ke arah bibirnya. Ibu jari gue dengan seksama, lembut tapi menuntut, mengelus bibir Mia yang tebal dan ranum itu

"Kevin udah nyicip ini?"

Mia tetap diam, tapi tatapan matanya penuh air mata. Kesunyian itu menghancurkan kesabaran gue. Aku mengambil pistol dari belakang celana dan menodongkannya ke keningnya.

"Apa mau lo?"

Mia akhirnya berbicara dengan suara kecil, hampir berbisik. "Saya tidak... tidak mau apa-apa."

Nafas gue dan Mia saling memburu. Tatapan mata kita saling beradu. Apa yang harus gue lakuin supaya lo terbuka ke gue Mia?

Gue menarik pistol, berjalan menjauh sambil memalingkan wajah. "Keluar."

Mia menatap gue heran, seolah tidak percaya. "Keluar!" teriak gue lagi, lebih keras.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Mia berlari keluar kamar, membiarkan pintu terbuka. Gue terduduk di kursi, menenggelamkan wajah gue di kedua tangan di dalam ruangan yang kini terasa begitu sunyi.


River.


THE TEMPTATION (21+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang