39 - The Reasons

499 8 3
                                        


Maria

Travis kembali ke ruang makan, tempat dimana aku, Travis dan Mia tadi. Tapi Travis datang seorang diri. Raut wajahnya yang seperti sedikit merasa bersalah, kepalanya pun tertunduk dan gestur tubuhnya menandakan dia baru saja membuat kesalahan. Travis, memang dia bukan putraku, tapi kami hidup bersama, juga dengan Nicholas. Aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan, mungkin ini dorongan batin seorang ibu yang walaupun putri kandungku sudah meninggal, tapi ternyata dorongan itu masih ada. Langkahnya yang gontain mendekati meja makan dan dia baru mengangkat kepalanya ketika menarik kursi didekatku dan kami saling pandang beberapa detik

"Dimana Mia?"

"Dia pergi ke kamarnya" jawab Travis dengan nada yang sedikit pelan

"Apa kamu melakukan kesalahan?"

Travis mengeluarkan nafas panjang, pundaknya turun sedikit. Aku tau...

"Mungkin?"

Tak berapa lama kemudian, pandangan kami langsung tertuju ke arah tangga melingkar besar yang ada ditengah ruangan. Bunyi derap sepatu yang beradu dengan marmer tangga sangat familiar dengan telinga kami. Aku pun langsung berdiri dan menghampiri sosok pria gagah yang sedang menuruni tangga itu

"Nicholas, boleh kita bicara?"

Wajah Nicholas terlihat sedikit enggan, namun sepertinya dia tidak akan menolak permintaanku. Kepalanya menangguk ringan tanda setuju

"Di ruanganku saja"

Nicholas berjalan terlebih dahulu meninggalkanku. Semakin lama, tubuh gagah dan tinggi itu semakin menjauh dariku. Nicholas, sama dengan Travis, sudah aku anggap seperti putraku sendiri. Aku melihat mereka berproses, melewati semua hal yang paling menyakitkan. Travis merangkulku dari belakang dan kami berjalan beriringan ke dalam kantor Nicholas. Ketika kami sampai, Nicholas sedang menuangkan minuman keras ke gelasnya. Anak ini harus mengurangi konsumsi alkoholnya, sudah tidak sehat sama sekali.

Travis duduk di sofa single disebelah kanan dan aku mendudukkan diriku di sofa yang panjang, menghadap Nicholas yang sekarang ada dibelakang mejanya. Menyesap alkohol dari gelasnya dan memandang keluar melalui jendela besar. Nicholas mirip dengan ayahnya, secara fisik, tinggi, postur, rambut. Tapi hanya ada satu hal yang membedakan Nicholas dengan ayahnya, yaitu matanya. Mata Nicholas mirip dengan mata ibunya. Hitam legam, seperti palung yang amat dalam dan misterius, seperti lubang hitam yang tak berkesudahan.

"Nicholas, apa yang sebenarnya terjadi pada Mia?"

"Kevin von Dyke. Dia kembali. Dia lah yang menculik Mia" jawab Nicholas

Aku tidak kenal siapa Kevin, tapi nama belakang von Dyke melekat di ingatanku. 

"Bukankah mereka sudah pergi semenjak ayahmu..."

"Aku tau Maria..."

"Mia yang kita kenal, bukan Almia Webbers, tapi Kamia Westerling"

Mulutku menganga, rasa tidak percaya menghantamku. Kepalaku mendadak pening, dadaku sesak. Satu-satunya anggota keluarga Westerling masih hidup?

"Westerling? Mia?"

Aku, secara bergantian, melihat ke arah Nicholas dan Travis dengan harapan bahwa apa yang mereka katakan ini bohong. Berharap bahwa salah satu dari mereka akan tertawa dan mengatakan ini hanya candaan. Tapi kedua pria muda yang ada dihadapanku sekarang tidak merubah ekspresinya. Kepalaku kini tertunduk di topang kedua tanganku. Horor macam apa yang Mia hadapi ketika itu. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi otakku seketika tidak bisa sama sekali merangkai kata. Aku sudah terlalu lama mengabdi di keluarga ini, aku tau jelas apa yang terjadi pada keluarga Westerling, hingga apa yang terjadi pada Ibu Nicholas. Tapi, kenapa baru sekarang, Mia muncul?

THE TEMPTATION (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang