42 - I Will Not Let Anyone Hurt You, Again

249 1 0
                                        


Travis

Melihat Mia ada di rumah ini lagi, rasanya lega bukan main. Akhirnya dia pulang, akhirnya dia ada didepan mata gue lagi dan akhirnya, Mia....aman

Pintu kayu besar tertutup di belakang punggung gue. Terdengar suara yang teredam, gila...pintu ini tebal juga. Semakin lama teriakan itu semakin kencang. Gue tau ada yang gak beres, gue gak bisa ninggalin Mia dan Nicholas berdua setelah semua yang terjadi. 

BRAK

Tubuh mungil Mia yang gemetar, kedua tangannya menggenggam pisau. 

"Mia"

"Mia lo kenapa?"

"Bawa aku pergi dari sini Travis"

Mia jatuh ke dalam pelukan gue, menangis tersedu-sedu, meraung seperti layaknya seseorang yang disakiti berjuta-juta kali. Gue tatap Nicholas yang sedari tadi tidak bergerak sedikit pun

"Oke oke. Sekarang berdiri dulu"

Gue buka jas dan gue sampirkan ke pundaknya

"Gue bawa Mia dulu"

Tanpa menunggu jawaban apapun dari Nicholas. Gue bopong Mia untuk naik tangga menuju kamarnya

"Jangan disini. Aku gak mau disini Travis" air matanya masih mengalir deras. Matanya sudah merah, kelopak matanya pun membengkak

"Kalau tidak disini, dimana lagi Mia?"

"Dimanapun. Tolong"

"Besok pagi. Gimana? Sekarang kamu tidur di kamarmu dulu"

Mia mengangguk pelan. Syukurlah Mia kali ini mendengarkan kata-kata gue. Sesampainya di kamar, Mia gue dudukkan di ujung kasur dan gue tuangkan air mineral di gelasnya

"Minum dulu"

Mia mengambil gelas itu. Digenggamnya dengan erat diatas pahanya. Pandangannya terus menunduk, memandang gelas yang ada digenggamannya. Sesekali, jari-jemari indahnya mengelus gelas kaca itu. Gue mengambil posisi berjongkok didepannya, berusaha melihat wajahnya

"Mia"

Mia menaikkan wajahnya sedikit, melihat gue dengan tatapan kosong. Tidak ada ekspresi disana, hanya wajah yang kelelahan karena menangis dan wajah kehilangan yang teramat sangat. Gue mengelus kedua punggung tangannya yang hangat itu.

"Kamu janji akan jaga aku kan, Travis?"

Gue menganggukkan kepala sedikit, sebagai tanda bahwa gue mengiyakan pertanyaannya Mia. Semenjak bertemu dia, tidak ada seorang wanita pun didunia ini yang ingin gue jaga, yang ingin gue rawat dan yang ingin gue bahagiakan. Apa ini boleh? Air mata Mia turun lagi dan gue cepat-cepat ambil tissue yang ada di laci samping ranjangnya. Gue usap tetesan air matanya. Mia, I wish I was the one you met.

"Travis"

"Hm?"

"Kalau aku minta kamu untuk bawa aku pergi jauh dari sini. Apa bisa?"

Gue menghela nafas sedikit. Menatap wajah Mia, mempelajari setiap sudut wajahnya, mencoba memahami ekspresi wajahnya, mencoba menelaah permintaannya.

"Mau pergi kemana?"

"Ke suatu tempat yang jauh dari sini. Kamu dan aku. Aku ingin pergi. Aku salah untuk memilih pulang dengan Nicholas. Aku seharusnya tidak naik ke mobilnya. Aku...."

Mia mulai menagis lagi dan kali ini Mia menaikkan suaranya. Nada panik dan penyesalan keluar dari mulutnya. Tanpa basa-basi gue peluk Mia. Wajahnya ada di dada gue, suara sesenggukkannya teredam, namun tubuhnya bergetar hebat. Gue peluk dia untuk beberapa saat, hingga tubuhnya sudah gak lagi bergetar hebat seperti tadi dan tangisannya pun mereda. Gue lepas pelukan gue darinya dan kedua tangan gue menangkupkan wajah Mia

THE TEMPTATION (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang