24. Harmonious Tapestry

16 14 0
                                        

Pagi buta di desa itu terasa dingin dan sunyi, hanya terdengar kicauan burung yang baru saja terbangun dan gemerisik angin yang menyusup di antara pepohonan. Matahari belum sepenuhnya muncul, menyisakan langit dengan semburat keunguan yang samar. Di kejauhan, suara gemericik air dari sungai kecil terdengar halus, mengiringi langkah-langkah ringan para warga yang sudah mulai beraktivitas meski hari masih gelap.

Di rumah kayu sederhana milik nenek Alara, suasana terasa hangat namun sedikit sibuk. Namun pagi ini ada masalah lain yang muncul.

"Alara, airnya bisa keluar?!," teriak nenek dari ambang pintu, wajahnya cemas memandang ke arah sumur tua di halaman belakang. Tangannya yang keriput sibuk mengusap apron kusamnya. Rupanya, air untuk memasak sudah habis, dan sumur itulah satu-satunya sumber air mereka.

"Iya sebentar, Nek. Ini Alara lagi ambil," jawab Alara sambil menghela napas, berusaha menyeimbangkan ember besar berisi air yang beratnya hampir melampaui tenaganya. Kakinya yang kecil terlihat menapak hati-hati di atas tanah lembab, berharap air tak tumpah.

Tiba-tiba, tanpa diduga, Jeremy sudah ada di sampingnya. Dengan satu gerakan cepat, ia meraih ember yang hendak Alara angkat.

"Sini," ujarnya, mengambil alih tugas itu dengan mudah meskipun sebenarnya ia belum sepenuhnya pulih.

"Kakak ngapain? Kakak kan harus istirahat!" seru Alara, kaget sekaligus kesal.

Jeremy tersenyum, menyepelekan kekhawatiran Alara. "Istirahat mulu, udah sembuh ini. Kenapa juga ga minta tolong angkat air," jawabnya sambil melangkah menuju dapur, mencoba untuk tetap tenang meskipun sebenarnya ia belum terbiasa dengan aktivitas seberat ini.

Dengan langkah yakin, Jeremy membawa ember itu masuk. Meskipun punggungnya mulai terasa pegal, ia tidak mau terlihat lemah di depan Alara. Semangat gadis itu, yang seolah terbiasa dengan segala kesederhanaan dan beratnya kehidupan desa, entah kenapa menular kepadanya.

"Waduh, Nak Jeremy," puji nenek dengan senyum lebar, terkesan melihat Jeremy yang dengan tangkas membawa air. Alara, yang mendengar pujian itu, hanya memutar matanya, malas. Lama-lama, Jeremy sepertinya benar-benar akan diangkat jadi anak kesayangan neneknya, pikirnya sambil berdecak pelan.

"Lo biasa bangun sepagi ini?" tanya Jeremy dengan sedikit heran, sambil tangannya cekatan mengiris bawang.

Meski Alara sudah melarangnya ikut campur, Jeremy tetap bersikeras membantu di dapur. Yang mengejutkan, ternyata Jeremy cukup terampil memasak—irisannya rapi dan cepat, seolah dia sudah biasa melakukannya.

"Iya, emang kakak bangun jam berapa?" balas Alara, masih fokus pada pekerjaan lainnya.

"Sama, tapi buat baca buku. Jam lima baru gerak ngelakuin yang lain," jawab Jeremy santai, sambil meletakkan irisan bawang ke dalam mangkuk. Ada nada bangga dalam suaranya, seolah kebiasaan rutinnya itu adalah sesuatu yang membentuk disiplin dalam hidupnya.

"Ya, orang kaya emang beda," celetuk Alara, sambil mencibir ringan. Mendengar itu, neneknya tertawa geli, membuat Jeremy hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang jelas-jelas tidak gatal, sedikit canggung mendapat julukan "orang kaya."

Meskipun suasana desa terasa sunyi di jam 3 pagi, kehangatan sederhana ini mengisi ruang dapur mereka—kerja sama yang tak terucap, tawa kecil, dan obrolan ringan di antara hiruk-pikuk persiapan sarapan.

Di dapur sederhana itu, aroma bawang yang mulai diiris Jeremy tercium perlahan. Dapurnya memiliki dinding kusam berlapis cat putih yang mulai mengelupas, lantai tanah liat yang sedikit lembap, dan sebuah tungku kayu yang mengeluarkan asap tipis dari celahnya, menghangatkan ruangan kecil itu. Di sudut, terdapat panci besar yang sudah siap untuk memasak, dan beberapa bumbu dapur tersusun rapi di rak kayu di atasnya. Sinar lampu minyak yang menggantung di atas meja dapur berpendar temaram, memberikan nuansa hangat pada segala sudut ruangan.

Threads of FateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang