12. Timeless Echoes

21 15 0
                                        

Jam istirahat di sekolah dipenuhi hiruk-pikuk suara siswa yang tertawa dan bercanda. Alara bergegas menuju kelas sosial, kelas tempat Jeremy seharusnya berada. Dengan langkah cepat, dia berharap bisa bertemu Jeremy sebelum bel berbunyi. Namun, alih-alih menemukan cowok yang diinginkannya, Alara justru berhadapan dengan sosok yang tidak asing—cowok yang sempat ditemuinya di atap, saat dia sedang merokok.

Cowok itu mendekatinya dengan senyuman nakal. "Kita ketemu lagi, manis," katanya, nada suaranya menggoda.

Insting Alara langsung merespons, membuatnya merangsek mundur sedikit, merasakan ketidaknyamanan yang mengalir di antara mereka. Saat cowok itu berusaha menyentuh rambutnya, tiba-tiba saja, sebuah tangan menepis tangannya dengan cepat.

"Wih, santai-santai, nggak gue apa-apa-in," cowok itu mengeluh, melihat siapa yang menghalangi niatnya.

Althan muncul dari belakang, menatap tajam ke arah cowok itu, membuatnya mundur dengan cepat. Ketegangan yang sempat ada seolah lenyap begitu Althan hadir. Cowok itu berbalik, melangkah pergi tanpa sepatah kata pun, sementara Althan tetap berdiri di samping Alara, seolah menjadi pelindungnya.

Setelah suasana mereda, Althan menoleh ke Alara. "Jeremy masih istirahat, mungkin dia baru bisa masuk besok atau lusa. Kalo lo mau, lo bisa minta anter Om Arman ke apartemen dia sepulang sekolah," ucapnya dengan nada tenang.

Alara merasa campur aduk. Di satu sisi, dia bersyukur Althan ada di sana, tetapi di sisi lain, harapannya untuk bertemu Jeremy hancur. Dia menggigit bibir, memikirkan langkah selanjutnya. Sementara itu, Althan mengamati ekspresi Alara, seolah bisa membaca pikiran dan perasaannya. Di dalam hati, dia tahu bahwa di balik senyuman manis Alara, ada ketidakpastian yang masih mengganggu.

Dengan saran Althan terngiang di telinganya, Alara merencanakan kunjungannya ke apartemen Jeremy dengan penuh semangat. Ia sudah menyiapkan daftar barang yang ingin dibeli, berbelanja kecil-kecilan untuk memberi kejutan. Sambil mencatat, ia membayangkan momen-momen menyenangkan yang akan dilaluinya bersama Jeremy, melupakan sejenak semua kerumitan yang ada.

Namun, saat asyik tenggelam dalam pikirannya, Alara tak menyadari kelas sudah sepi. Langkahnya yang ceria tiba-tiba terhenti saat ia menabrak seseorang, tubuhnya terhuyung dan jatuh ke lantai, merasakan perih di lututnya. Dia mengangkat wajahnya dan menemukan Sean berdiri di depannya, dengan tatapan dingin yang tidak menunjukkan rasa peduli.

"Lo emang sengaja, ya?" tanya Sean, suaranya tajam dan penuh nada sinis. "Lo beruntung karena posisi keluarga lo lebih tinggi dari gue di sini. Gue bakal lepasin lo."

Alara terperanjat, mendongak dengan mata melebar. Belum pernah ada yang tahu tentang identitas dan keluarganya sebelumnya.

"Tapi Alara Athaya Abigail," lanjut Sean, dan sepertinya setiap kata yang diucapkannya menambah ketegangan di udara. Alara semakin menegang saat nama lengkap yang dibencinya  itu tiba tiba disebut setelah sekian lama.  "Lo harus tahu kalau masa lalu lo bisa merusak semuanya."

Suasana di sekitar mereka semakin mencekam, seperti ada angin dingin yang berhembus di antara mereka. Alara bisa merasakan ketidaknyamanan menyelimuti sekeliling, membuatnya ingin menghindar dari perdebatan ini.

"Lebih baik lo fokus hapus semua rekam jejak masa lalu lo itu daripada terus-terusan jadi pengganggu buat gue," jelas Sean, suara dinginnya seolah menancapkan panah tajam ke dalam hati Alara. Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan pergi, meninggalkan Alara yang masih terdiam di lantai, lututnya terasa sakit dan hatinya bergetar dengan emosi yang tidak bisa dia ungkapkan.

Di saat itu, Alara merasa seolah terjebak antara masa lalu yang menghantuinya dan masa depan yang belum pasti. Dia harus menemukan cara untuk menghadapi semua ini, untuk membuktikan bahwa dia lebih dari sekadar bayangan dari nama belakang yang dia miliki.

Threads of FateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang