38. Celestial Callings

13 13 0
                                        

Ruang musik tampak hening senja itu, sepi sejak deretan murid lain memutuskan pulang. Cahaya jingga menembus kaca jendela, memantulkan siluet seorang gadis yang berdiri dengan anggun di tengah ruangan, seolah tenggelam dalam pesona alat-alat musik di sekitarnya. Di bawah bias cahaya sore, wajahnya tampak bercahaya, penuh semangat yang tak mudah ditemui di wajah orang lain. Senyumnya mengembang saat ia melihat sosok yang baru muncul di ambang pintu.

"Kenta?!" panggilnya riang, menyambut kedatangan pemuda yang tampak sedikit kelelahan.

Kenta berhenti di ambang pintu, menahan napas dengan satu tangan bertumpu pada lutut, dadanya naik-turun dalam upaya mengatur napas. "Shan, jangan lari-lari. Cape ngikutin lo mulu," keluhnya dengan suara setengah terengah. Meski begitu, senyumnya tetap bertahan, tampak jelas bahwa ia menikmati kebersamaan mereka, meskipun penuh keisengan yang khas Shana.

Shana hanya terkekeh kecil mendengar keluhan itu, tak benar-benar merasa bersalah. Tangan mungilnya menggapai sebuah gitar di sudut ruangan dan ia membawanya dengan santai, seolah gitar itu bagian dari dirinya yang selalu setia menemaninya. Dengan gerakan lembut, ia duduk di bangku kayu dan memangku gitar itu, jari-jarinya siap memainkan melodi yang ia simpan khusus untuk saat-saat seperti ini.

"Lo bisa main gitar, nggak?" tanyanya sambil menoleh pada Kenta, matanya bersinar penuh harap.

Kenta mendengar pertanyaan itu sambil menghela napas terakhir dari kelelahan, lalu melangkah lebih dekat. Meski jarang terlihat tertarik pada musik, Kenta tak bisa menolak senyum Shana. Ia mendudukkan diri di samping gadis itu, perlahan merasakan ketenangan yang entah kenapa hanya muncul saat Shana di sisinya.

"Gue... gue nggak punya waktu buat belajar musik," jawabnya sambil terkekeh ringan, tersipu malu.

Shana menggeleng pelan, masih tersenyum, tampak tak peduli pada keterbatasan waktu atau kesempatan yang Kenta punya. "Padahal musik itu indah," katanya, suaranya pelan dan lembut. "Ayo sini, gue ajarin."

Keraguan melintas di wajah Kenta, tapi melihat ketulusan dan kegembiraan Shana yang terpancar dari setiap gerakannya, ia pun menurut, duduk lebih dekat, menyesuaikan posisi tangan agar bisa memegang senar seperti yang Shana perintahkan. Dengan lembut, gadis itu menggerakkan jari-jarinya di atas tangan Kenta, memperlihatkan cara menekan senar satu demi satu, menjelaskan setiap nada dengan sabar.

Namun, Kenta tak benar-benar mendengar kata-kata Shana. Alih-alih memperhatikan senar, pandangannya tertuju pada senyum hangat di wajah gadis itu. Sebuah senyum yang seolah tak pernah lekang, meski situasi di sekitarnya terkadang berlawanan. Bagi Kenta, melihat Shana tertawa dan bersenang-senang adalah kebahagiaan tersendiri yang tak tergantikan.

"Bisa?" Shana akhirnya bertanya setelah beberapa kali mereka mencoba nada sederhana. Ketika ia menoleh, Kenta buru-buru mengalihkan pandangannya yang tadi terpaku padanya.

"Kenta mah kaya adek, nggak mau dengerin," katanya, menggoda dengan nada riang.

Kenta terkekeh, wajahnya memerah. Ia menggaruk kepalanya sambil membuang pandangan ke arah lain. "Lo punya adek?" tanyanya, mencoba mengalihkan perhatian Shana.

Shana tersenyum lebih lebar lagi, sambil menepuk gitar di pangkuannya. "Punya. Nakal. Jahil juga, kaya Kenta."

"Gue nggak jahil," Kenta segera menyangkal, berusaha mempertahankan harga dirinya.

Shana tertawa kecil, kenangan-kenangan kecil muncul di benaknya. "Tiap abis olahraga lo suka ngumpetin sepatu gue. Gak jahil dari mana?"

Kenta hanya terkekeh sebagai jawaban, setengah menyesali, tapi juga setengah bangga dengan kelakuan itu. Ia hanya ingin melindungi Shana dengan caranya sendiri, membuat gadis itu tetap dekat dengannya, jauh dari orang-orang yang mungkin berusaha menyakitinya atau mengetahui identitasnya.

Threads of FateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang